Rabu, 10 Desember 2008

MY LITTLE HONEY BUNNY

Putri saya Audrina, tanggal 4 Januari ini akan berumur 4 tahun, sudah TK-A (dulu jaman saya TK 0 Kecil). Semangatnya bersekolah bertalu-talu, banyak teman bilang, just like mother like daughter’. Usia 2 tahun dia sudah masuk Play Group. Sebenarnya kata gurunya waktu itu, selama dia sudah bisa ngomong usia 1,5 tahun itu sudah boleh masuk. Tapi saya berpikir biar dulu selama 1 tahun itu dia belajar mengenali lingkungannya sendiri di rumah.

Dia tumbuh pesat menjadi gadis kecil yang lincah. Hobbynya sekarang adalah wayang, baik itu wayang orang atau kulit. Heran kan, kok anak jaman sekarang masih kenal wayang?

Waktu itu berawal dari pemikiran mama saya yang melihat kok dia nonton film Warkop Dono-Kasino-Indro, yang menurut beliau banyak hal yang tidak pantas untuk dilihat anak-anak seumur dia. Kebetulan Mama punya koleksi VCD Wayang Orang dari Sekar Budaya Nusantara, iseng-iseng disetel eh…dia kok suka dan keterusan sampai sekarang.

Koleksi Mama sekarang jadi lengkap karena dia terus saja merengek minta disetelkan wayang kalau mau tidur siang atau malam. Jadi akhirnya pesan semua VCD yang waktu itu belum punya dan minta dikirim.

Semua tokoh di hapal, bahkan yang jarang disebut-sebut seperti Kalabendono, Udawa, Betara Indra, Durmagati. Gerakan menarinya hampir sempurna padahal dia tidak ikut les. Kesukaannya adalah meniru Cakil (buto—raksasa), tahu kan? Gerakannya kan sembarangan tapi gagah. Dia tidak pernah suka yang model keputren—cewek alias tidak sabar. Begitu juga meniru gerakan Dursasana, yang berangasan terutama gerakan tangannya.

Pernah dibelikan wayang-wayangan Punakawan 1 set dari kayu waktu Mama ke Borobudur. Begitu juga kaos, ketika kami bertiga (saya, suami dan Audri) ke Solo. Kaos tersebut bergambar Dewi Banowati (Hayo yang merasa orang Jawa, Dewi Banowati ini istrinya siapa? Tahu tidak, jangan-jangan kalian kalah sama anak kecil yang belum genap berumur 4 tahun). Sebenarnya dia minta yang gambarnya Punakawa tapi karena tidak ada yang kecil maka dia pilih Banowati.

Tokoh favoritnya adalah Punakawan (Semar, Gareng, Petruk dan Bagong). Selain itu juga Arjuna, Wisanggeni, Gatotkaca, Baladewa dan Kresna. Semua jalan cerita maupun alur ceritanya, dia sangat hapal. Bahkan ada adegan-adegan yang selalu diulang-ulang dia ketika menonton terutama saat punakawan maupun Kalabendono masuk.

Dari siapa bakat menarinya muncul? Saya dulu memang sering pentas menari tetapi tidak seintens dia dalam pemahaman soal wayang (walaupun dulu nilai bahasa daerah saya selalu bagus dan sangat hapal soal aksara jawa dan wayang) sementara Mama memang dulunya pernah menjadi penari dan sangat hapal juga suka cerita wayang jadi kemungkinan darah itu menurun ya dari Mama saya. Banyak yang bilang supaya diikutkan les menari. Sudah didaftarkan tetapi dia masih malu-malu. Tapi kalau di rumah, jangan ditanya…bagaimana polahnya dalam menari berikut semua aksesorisnya (senjata, panah, busur dll).

Sekarang dia sudah mulai menanyakan mengapa ibunya kok bersekolah di Jakarta, tidak di Semarang saja (I wish there will be a doctoral psychology program in Semarang…someday), mengapa bapaknya kerja di Jakarta, mengapa tidak di Semarang saja. Kalau dijawab, lha nanti kalau bapak tidak kerja, yang belikan susunya Audri siapa? Terus jawabnya yang membikin miris hati adalah “ya aku minum susunya kan nggak banyak, jadi sedikit aja…”Waduh, If only you knew

Program sekolah saya sudah separuh jalan, kalau lancar ya mulai penelitian dan menyusun desertasi, semoga 1 tahun lagi ( I wish…), saya bisa cepat selesai…Wish me luck…so I can go home and see my Honey Bunny again…

Tidak ada komentar: