Senin, 30 Juni 2008

DON’T JUDGE BOOK BY ITS COVER

Orang seringkali menilai orang lain dari apa yang mereka lihat. Tidak salah memang tapi juga tidak benar jika mendasarkan semua penilaian berdasarkan apa yang terlihat. Looks can deceive..penampilan bisa jadi hanyalah suatu kebohongan, kepura-puraan.. Banyak orang yang tahu itu tapi seringkali mereka terperangkap dengan apa yang dinamakan Hallo Effect. Hallo Effect adalah apa yang terlihat pertama kali pada diri seseorang. Hal ini lazim terjadi dalam sesi wawancara, baik untuk wawancara kerja, penerima beasiswa ataupun untuk pencalonan untuk jabatan tertentu.

Dalam wawancara, penampilan memang diperlukan. Bahkan pepatah Jawa mengatakan “ajining diri saka busana” bahwa dari penampilan itulah, orang akan dihargai. Argumentasinya adalah kalau dia tidak bisa menghargai dirinya sendiri (dengan tampilan luar), bagaimana bisa dia menghargai orang lain.

Saya termasuk ke dalam kelompok orang yang santai (dibaca: tidak terlalu mementingkan penampilan), bisa dibilang tidak pernah dandan, pakaian juga apa adanya. Bukannya dari dulu seperti itu. Waktu remaja, seperti jamaknya remaja putri lain, juga senang mencoba baik dandanan, potongan rambut, pakaian dan segala aksesorisnya. Tapi ya sudah, cuma sebatas itu. Apalagi semenjak menikah, maklum suami saya tipikal orang teknik. Tahu maksud saya? Ya cuek dalam penampilan, lebih konsen ke dunia pekerjaannya (sebagai technical engineering di sebuah maskapai), tidak pernah mengomentari apapun penampilan istrinya. Jadi ya sudah klop dengan saya yang pada dasarnya juga cuek, disamping jadi lebih hemat dengan jarangnya beli kosmetik dan aksesoris.

Waktu itu fokus kami adalah keliling nusantara dengan semi-backpacker (lihat blog kami : www.trans-port.blogspot.com). Ternyata hal tersebut sangatlah menguntungkan dengan perjalanan kami, tidak terlalu banyak bawaan, karena kami biasanya hanya membawa 1 buah ransel untuk perlengkapan kami berdua. Hal itu juga memudahkan kami untuk berwisata dengan angkot keliling kota.

Tetapi ternyata penampilan saya yang seadanya (menurut teman-teman saya : sederhana) membuat saya pernah dibengongin orang. Tahu nggak kenapa? Karena mereka tidak menyangka saya yang berpenampilan seperti ini adalah mahasiswa Doktoral Fakultas Psikologi UI. Juga status saya sebagai dosen disalah satu universitas negeri di Semarang. Banyak sekali komentar mereka : “Waduh, nggak kelihatan ya?” (apanya yang gak kelihatan, wong orang didepannya segede gambreng gini), “Pantes..kalau orang pinter itu gak kelihatan” (emangnya Mama Lauren?), “Masih muda gini sudah S3” (dia gak tahu banyak orang yang lebih muda dari saya sudah post-doc).

Gara-gara penampilan pula, saya yang lebih muda dari suami sering dikira kakaknya atau bahkan ibunya (waduh…). Sudah jamak, wanita itu pada dasarnya lebih cepat kelihatan matang daripada lelaki apalagi kalau hampir sebaya. Emang, saya dipikir “tante-tante girang pemburu daun muda..”

Saya sering terkagum-kagum dengan orang (yang mungkin kebetulan teman, kenalan bahkan saudara) yang berpenampilan sederhana tetapi dia seorang pengambil keputusan di suatu perusahaan besar atau instansi pemerintah. Dia kaya tetapi tidak perlu menunjukkan pada semua orang bahwa dia kaya, pintar tetapi tidak merendahkan orang lain, terbuka pada semua hal.

Seperti pelawak Tukul Arwana. Saya melihat dia malah sebagai “orang yang mau belajar dan quick learning” walaupun kesusahan melafalkan bahasa Inggris (karena logat Jawa-nya sangat kental, seperti juga banyak dari kita) tapi paling tidak dia berani berbicara. Ketika melihat acara Empat Mata itu saya malah sering geli dengan bintang tamu yang penampilannya wah dan kadang-kadang sok kebarat-baratan tetapi malah kelihatan kampungannya, seringkali melecehkan Tukul sebagai host acara tersebut tetapi malah ketahuan dia sendiri yang bodoh, bahkan seringkali akhirnya terjebak melecehkan secara fisik. Jadi, saya pikir kok terbalik-balik ya? Apa mereka pikir audience kita, penonton Indonesia itu nggak pintar-pintar. Seringkali under-estimated.

Inilah yang sebenarnya dibutuhkan bangsa ini sehingga seringkali kita dengarkan keluhan wisatawan domestik yang selalu dinomorduakan setelah wisatawan mancanegara. Jadi jangan terbelenggu dengan mental “terjajah” walaupun memang kita, bangsa Indonesia telah dijajah selama berabad-abad. Padahal belum tentu wisatawan kita itu lebih miskin, bukan tidak mungkin turis bule itu adalah bule belel, seperti yang sering kami lihat waktu di Bali, tepatnya di Jimbaran, restoran Uluwatu. Turis bule yang sama selalu hadir dengan teman-teman yang berbeda. Selidik punya selidik, dia itu adalah bule yang ‘cekak’ sehingga selalu menggaet teman-teman yang berbeda untuk dapat ikut. Tapi lagaknya itu minta ampun, sok akrab dll.

So, pelajaran yang dapat dipetik adalah penampilan itu memang penting. Tapi yang lebih penting adalah jangan menilai seseorang hanya dari penampilannya. Don’t judge book by its cover.

Tidak ada komentar: