Rabu, 05 November 2008

LADY FROM YESTERDAY

Banyak yang bilang kalau muka saya ini boros alias tua, jalan pikiran saya, kesukaan saya, very old fashioned bahkan untuk ukuran usia sekarang maupun pada saat saya masih remaja. Kebetulan saat sekolah, saya selalu menjadi yang paling muda. Teman-teman saya selalu lebih tua daripada saya, apalagi saat S3 ini, teman yang paling dekat usianya dengan saya memiliki selisih usia 5 yahun diatas saya. Apakah karena pergaulan jadi saya merasa lebih tua daripada usia saya.

Ketika dalam suatu interviu didepan para guru besar UI, saya pernah bilang, “…Mungkin dulu karena saya masih muda…”. Eh, langsung aja, ada satu profesor yang memotong, “Anda itu masih sangat muda, anak saya saja yang paling kecil masih lebih tua daripada anda”. Saya baru sadar, eh iya ya untuk di Indonesia, seusia saya masih sangat muda untuk seukuran mahasiswa doktoral pada umumnya. Langsung aja saya bilang, “Iya Bu, waktu dulu kan saya lebih muda daripada sekarang…”. Mereka langsung pada ketawa mendengarnya.

Saya masih ingat ketika dulu diajak mama saya ke penjahit. Penjahitnya heran atas selera saya. Mengapa sih kok suka yang sederhana? Padahal kan anak muda, gaul gitu…Apalagi saya waktu itu di SMA yang terkenal trendy di kota Semarang. Kadang-kadang jika melihat SMA saya banyak yang mengira, ini SMA atau showroom mobil sih…Anak-anaknya tergolong high class..banyak anak pejabat dan pengusaha terkenal di Semarang.

Banyak orang terkenal yang dulunya berasal dari sekolah kami seperti mantan Kasad Wismoyo Arismunandar, yang dulu kata Papa saya, merupakan biang berkelahi melawan anak STM yang lokasinya berdekatan dengan SMA saya. Pahlawan revolusi, Piere Tendean juga berasal dari SMA yang sama. Kami satu keturunan berasal dari SMA tersebut. Saya, Mama, Papa, Tante-tante saya dari Mama, Bude, Om adik dari Papa. Sekolah turun temurun dari keluarga kami.

Dulu saya sering diketawain teman SMA gara-gara suka pemain film Hongkong era silat klasik TVB. Masih ingat dong, Miao Chiao Wei si Pendekar Harum Chor Lau Heung, Wong Yat Wa si lugu Kwee Cheng di Sia Thiaw Eng Hiong, Mie Sieh si Princess Cheung Ping, Barbara Yung si Oey Yong yang banyak akal dan lain-lain. Padahal waktu itu di sekolah saya jarang banget yang suka bintang oriental karena jarang banget etnis Cina yang sekolah di tempat saya waktu itu. Ada beberapa sih tapi sepertinya malu-malu dengan identitasnya.

Baru ketika kuliah, itulah surga saya. Saya ketemu dengan teman-teman yang bisa dibilang satu selera karena saya kuliah di tempat yang mayoritas anaknya adalah non pribumi. Tetapi tetap aja, selera saya kata mereka jadul banget. Waktu itu kan musim hangat-hangatnya bintang Aaron Kwok, Jimmy Lin, Takeshi Kaneshiro dan teman-temannya. Saya waktu itu bilang, ah nggak suka orangnya terlalu lembut kaya cewek..mending David Chiang dan bintang-bintang yang saya sebut di atas. Tetapi walaupun begitu, mereka tetap aja respek dengan kesukaan saya, bahkan ada aja yang memberikan saya foto-foto artis-artis tersebut yang pada saat itu sudah tidak ada lagi di toko.

Saya nggak tahu kenapa, berangkat dari kesukaan nonton film silat era tahun 1980-an tersebut, nilai Bahasa Inggris saya mulai SMP (pada masa saya, bahasa Inggris baru diberikan saat SMP)-kuliah selalu bagus padahal tidak pernah les seperti teman-teman lain. Dulu saya masih ingat ketika Mama mengambil rapot saat saya SMP, wali kelas saya bahkan setengah menginterogasi apakah saya les bahasa Inggris karena waktu itu guru bahasa Inggrisnya terkenal killer tetapi kok saya sama dia dapat angka sembilan. Angka yang waktu itu amat langka jika menyangkut dengan beliau, guru tersebut. Dan saat itu banyak teman saya yang “terkencing-kencing” kalau disuruh maju untuk mengerjakan tugas.

Hobby saya itu sedikit banyak memang membantu saya dalam pelajaran juga dalam..berkhayal..Dulu saya sering lho bertingkah macam penulis skenario cerita film silat, mereka-reka cerita film komplit dengan siapa pemainnya, tata rias, tata rambut sampai busananya termasuk didalamnya setting cerita. Wah..seru banget, waktu itu bila ditulis mungkin ada berlembar-lembar skenario itu.

Saya dulu ngefans banget dengan Miao Chiao Wei di Pendekar Harum. Sosoknya yang gagah dalam balutan busana putih sering membuat saya berkhayal menjadi pasangannya dalam film. Dia menjadi hero yang akan terbang, berkelahi dengan senjata kipasnya yang anggun untuk menyelamatkan saya dari mara bahaya.

Wah…terasa di awang-awang, padahal saya waktu itu masih berusia 8 tahun. Hah..kebayang kan betapa lamanya hal itu tersimpan sebagai kenangan sampai saya SMA bahkan kuliah? Saya anehnya juga lega ketika tahu sang bintang akhirnya menikah dengan artis yang juga kesukaan saya, Jaimie Chik Mei Chun (wajahnya menurut saya waktu itu sangat mirip Marissa Haque).

Selain dia, ada juga yang saya sukai yaitu David Chiang (Dynasti, Princess Cheung Ping), Mie Sieh, Barbara Yung dan Liu Yung (waktu itu berperan sebagai Kaisar Dinasti Chin-Hsih Huang Ti di The Rise of Great Wall), orangnya gagah dan tegas jadi sangat cocok memerahkan Kaisar yang “kereng” (bahasa jawa - sangar).

Apa tidak ada aktor atau aktris barat yang saya sukai? Wah banyak sebenarnya tapi lebih banyak ya ke karakter mainnya seperti Robert de Niro, Al Pacino, Harrison Ford, Russel Crow dan lain-lain. Para pemain watak. Ih..setuwir itu ya, anda pikir? Belum sampai nih..

Tapi saya lebih jatuh cinta dengan Charlton Heston, Gregory Peck, Lee Marvin, Cary Grant, Clark Gable, Audrey Hepburn, Paul Newman, Vivienne Leigh, Doris Day, Deborah Kerr, Sidney Poitier, Anna Marie Saint, Humprey Boggart…

Siapa mereka semua itu? Kalau anda lahir di era 90-an maka anda perlu tanya ke kakek atau nenek anda, karena saya sendiri sangsi kalau ayah atau ibu anda tahu. Kalau misalnya anda lahir di tahun 70-an, mungkin baru bapak atau ibu anda kenal dengan sosok mereka.

Saya sangat suka film-film mereka. Ben Hur, Ten Commandment, To Sir With Love, Pillow Talk, Roman Holiday, Dirty Dozen, Gone With The Wind, North by North West, Casablanca dan lain-lain. Rasa-rasanya, menurut saya lho..mereka itu benar-benar cantik yang natural, cakep, gagah yang khas laki-laki, dandanan tidak neko-neko, aktingnya benar-benar bagus dan natural serta cerita film waktu itu benar-benar berkesan.

THE LONG AND WINDY ROAD

Usia saya sekarang pada tahun 2008 ini adalah di angka 31. Jika merujuk dengan usia nabi Muhammad SAW, berarti saya sudah separuh waktu hidup di bumi ini. Bisa kurang, bisa juga lebih. Apa sih yang sudah saya capai? Karier, keluarga, cinta, hidup? Seperti pepatah orang Jawa yang bilang : “Urip kuwi mung sadremo nglakoni” (hidup ini hanya untuk dijalani). Pepatah itu rasanya mungkin terlalu sederhana tetapi sebenarnya terkandung makna yang mendalam. Menjalani seperti apa? Apa hanya sebagai orang yang pasif menunggu nasib atau uluran belas kasihan orang lain? Tentu saja tidak.

Ketika tetralogi Laskar Pelangi muncul, langsung saja orang sibuk terperanjat membacanya, heboh membicarakannya. Seakan-akan baru saja bangun dari tidur panjang. Meminjam bahasa anak Jakarta : “Halloow…dari mana aja sich low?”. Memangnya selama ini kehidupan banyak anak Indonesia tidak seperti itu? Memangnya Ikal itu hanya ada di sana, di novel tersebut? Hanya ada di Belitung? Andrea hanya menulis pengalaman hidupnya dengan lebih manis, lebih berbunga-bunga, lebih romantis. Berapa banyak Lintang di bumi Indonesia ini? Banyak kawan…maka dari itu kalau tangan kita tidak bisa membantu mereka, lihatlah diri sendiri. Jangan sampai kita menyia-yiakan hidup kita yang telah dikaruniakan oleh Tuhan kepada kita. Jangan mengecewakan orang tua kita dengan hal-hal yang tidak perlu atau bahkan dengan hal yang negatif. Saya sendiri juga mengagumi orang-orang yang punya spirit untuk maju bahkan di tengah ketidakberdayaan. Banyak orang seperti Andrea, Suster Apung, Ibu Muslimah dan sebagainya.

Berapa banyak orang yang mengukur keberhasilan dengan hal-hal yang bersifat materi. Apa yang sudah kamu punya? Rumah mewah, apartemen, villa, mobil mewah, mobil sport, hp keluaran terbaru, pakaian bermerk, sepatu keluaran luar negeri, liburan ke hanya karena statusnya sebagai pejabat, orang terkenal dsb atau karena tampilannya seperti orang kaya.

Apakah anda sering mengamati pegawai asuransi di bandara (biasanya sebelum masuk boarding lounge)? Penumpang kadang sering tidak aware. Kalau memang orang tersebut berniat beli sih tidak apa-apa. Tetapi seringkali yang saya tak suka adalah orang yang beli tersebut adalah orang yang tidak berniat beli tetapi yang baru pertama kali naik pesawat, orang itu mengira bahwa hal ini wajib. Kebanyakan dari mereka adalah orang tua. Tega-teganya mereka memanfaatkan orang-orang yang tidak berdaya tersebut. Ada juga yang terkena adalah orang-orang yang sok berpenampilan mewah tetapi mereka tidak tahu apa-apa. Para pegawai di bandara jeli terhadap tipe orang seperti ini. Dan untuk orang-orang tertentu, mereka dimanfaatkan.

Apa yang sudah anda capai? Prestasi apa yang telah anda raih hingga detik ini. Tidak harus selalu fenomenal, dan makna keberhasilan itu berbeda untuk masing-masing orang. Ada yang sudah berani mandiri, bekerja sendiri, hidup di daerah lain. Ada yang nilainya cum laude, ada yang lolos wawancara kerja, ada yang berhasil mengantarkan anaknya menjadi juara kesenian atau juara kelas, ada yang sudah menjadi ibu rumah tangga yang baik, ada yang berani bangkit setelah mengalami kegagalan, ada yang berani menempuh hidup baru etc..etc..

Tidak sama kan untuk masing-masing orang. Dan memang untuk apa sama? Bukankah kita sendiri dilahirkan oleh ibu kita, tidak ada yang sama. Bahkan untuk anak kembarpun tidak ada yang sama persis. Coba saja bayangkan kalau kita sama. Hii..ngeri…mungkin kita akan salah mengenali suami atau istri kita. Orang berbondong-bondong ingin menjadi pegawai. Tidak ada yang mau jadi pengusaha/wiraswasta. Lalu siapa yang mendatangkan barang? Semuanya hanya mau membeli.

Saya sih sekarang sudah merasa bersyukur dengan keadaan sekarang. Suami pengertian, anak perempuan yang lucu, karier yang saya sedang rintis, sekolah yang saya tekuni, banyak yang mensuport, entah itu keluarga, teman, sahabat, mentor, guru dsb. Saya sudah melakukan perjalanan menjelajahi Indonesia dengan suami tercinta. Kami merencanakan untuk melakukan perjalanan lagi ke luar negeri tapi benar-benar dengan cara kami. Tidak karena perjalanan dinas atau pekerjaan.

Menyenangkan walaupun semuanya tidak sempurna karena kami masih menjalani 2 rumah tangga, keluarga komuter Jakarta-Semarang. Tetapi kami berdua yakin, hal ini hanya sementara. Setelah tugas kami masing-masing selesai, kami akan bersatu lagi anak kami dan keluarga saya di Semarang atau entah dimana perjalanan nasib membawa kami sekeluarga.

Semuanya tidaklah mudah. Melewati ujian bertubi-tubi, pengingat dari Tuhan bahwa kami adalah makhluk yang dicintaiNya. The Long and Windy Road

Rabu, 29 Oktober 2008

THE END IS THE NIGHT

Anda tahu betapa berartinya second change? Kesempatan kedua? Orang bilang bahwa kesempatan tidak datang dua kali, maka dari itu raihlah selagi bisa. Tetapi jika kegagalan yang kemudian datang, maka kesempatan yang selanjutnya merupakan peluang yang harus dimanfaatkan dengan mempertimbangkan segala hal pengalaman yang sudah terjadi sebelumnya.

Gairah, passion, semangat mewarnai apakah kita mau dan bisa mengambil second change. Terlebih-lebih, orang yang gagal itu kondisi psikisnya sama sekali berbeda dengan orang kebanyakan. Rasa takut gagal lagi, malu dipermalukan egonya, minder karena memiliki scretch bertuliskan “failed”. Maka berakhirlah semua pada malam itu. The End is The Night.

Orang bijak mengatakan, “Tidak peduli seberapa sering kamu jatuh, tapi yang paling penting adalah seberapa sering kamu bangkit dari kejatuhan tersebut”. Orang yang terus menerus berhasil akan menjadi pribadi yang kurang peka terhadap lingkungan.

Dia akan tumbuh menjadi pribadi yang arogan, indifferent terhadap orang lain, bahkan mungkin menihilkan peran orang lain—atau Tuhan. Merasa tidak pernah membutuhkan orang lain, bisa hidup tanpa pihak lain.

Dia juga akan tidak tahu tentang makna keberhasilan tersebut. Bahkan mungkin bisa jadi dia akan merasa laksana Tuhan, yang memiliki otoritas tertinggi akan keberlangsungan hidup. Dia juga tidak pernah merasakan struggle for life. Dunia menjadi tempat yang absurd.

Padahal jika saja mau bertafakur—menundukkan diri, just for a while, kita tidak mungkin hidup tanpa adanya pihak lain. Dari mulai makanan, minuman, pakaian, bahkan udara yang kita hirup tidak pernah dihitung oleh penguasa kehidupan—Tuhan. Lalu mengapa kita menjadi pribadi yang mengesalkan banyak orang?

Lalu kemudian, Tuhan menurunkan kegagalan, sebagai tanda bukti pernah hidup di dunia. Jika pernah gagal, maka anda akan merasakan bagaimana nikmatnya keberhasilan. Jika pernah gagal, tidak akan ada manusia yang sedemikian arogan, merasa lebih daripada yang lain. Tetapi mengapa pada kenyataannya, justru banyak orang semacam itu? Lagi-lagi manusia, susah ditebak kemana arah perginya. Sudah diberikan kompas saja, masih miring-miring jalannya.

Second change, saya pribadi pernah benar-benar merasa akrab dengan kata-kata itu. Betapa ada orang yang percaya pada kita, disaat yang lain tidak. Betapa ada orang yang selalu mensupport kita, memompa semangat untuk terus tetap berjuang, jangan sekali-kali menyerah.

Sayang sekali makna second change ini selalu dikaitkan dengan perbuatan salah, khilaf dan meratap memohon ampunan. Memang manusia tidak sempurna tetapi paling tidak jangan kotori makna second change dengan kesalahan atau bahkan dengan dosa rendah. Dia terlalu agung untuk hal itu.

So my friend, don’t be shy…the day is near..stand up and do something usefull, because the night is never end..

I LOVE THE BLUE OF INDONESIA

I love the blue of Indonesia…you can taste it everywhere…Bagaimana perasaan anda tentang Indonesia? Bagaimana anda memandangnya? Kalau anda tanya pada saya, tentu akan saya jawab, “berjuta rasanya”, takjub, bangga, sedih, prihatin, sayang, cinta…dan lain-lain bercampur aduk menjadi satu. Kalau anda berkesempatan menjelajahi wilayahnya seperti pengalaman saya bersama suami tercinta, mungkin anda akan merasa sama.

Ketika saya SD, sekitar tahun 80-an, saya selalu antusias dengan yang namanya pelajaran ilmu bumi, bahkan tanpa bermaksud menyombongkan diri, I’m good on it..Peta buta…Ketika yang lain pada gemetaran disuruh maju oleh ibu guru, saya justru menikmatinya. Saya hafal seluruh lekuk Indonesia, tanpa berpikir bahwa someday…20 tahun kemudian, saya berkesempatan menyusuri setiap lekuknya.

Walaupun belum sepenuhnya, tapi bisa dibilang hampir seluruh ibukota propinsi kami pernah menjelahinya. Kota-kota atau daerah penghasil hasil bumi, pertanian, dulu saya sangat hafal. Tetapi ternyata ketika ada lomba bidang studi, saya malah dipilih untuk bidang studi IPA. Yang IPS malah jatuh ke teman saya, yang memang “musuh bebuyutan” untuk bidang studi tersebut. Ternyata ada yang lebih jago daripada saya. Waktu itu di IPA, saya dapat juara 2.

Cinta saya pada Indonesia seperti cinta saya kepada kedua orang tua saya, keluarga saya…Mungkin Papa saya berperan besar dalam hal ini. Beliau sering bercerita tentang bagaimana perjuangan kakek-kakek leluhur kami memperjuangkan kemerde kaan. Bagaimana semua tenaga, pikiran, harta bahkan nyawa taruhannya. Ketika slogan “merdeka atau mati” bukan hanya kata-kata kosong.

Papa saya juga memiliki andil besar dengan tumbuhnya rasa nasionalisme saya dengan sering mengajak saya ke pertandingan-pertandingan olahraga besar yang waktu itu diperhelatkan di Semarang. Bulutangkis, sepakbola, bridge, tenis dan lain-lain. Di saat anak-anak lain berkutat dengan dunianya sendiri, saya justru malah akrab dengan sensasi kegairahan nasionalisme bangsa. Nama-nama seperti Tintus Arianto Wibowo, Suzanna Anggarkusuma, Ferdy Waluyan, Denny Sakul, Rudy Gunawan, Eddy Hartono, Bobby Ertanto, Wailan Walalangi, Ricky Yakob. Anda tahu nama-nama itu?

Pasti anda lebih kenal jika saya sebut Susy Susanti, Taufik Hidayat, Yayuk Basuki yang lebih fenomenal. Dulu saya masih ingat ketika Piala Thomas di Malaysia, ketika partai ganda putra Indonesia, Eddy Hartono (Kempong)/Rudy Gunawan melawan ganda Malaysia, Razif Sidek/Jaelani Sidek. Ketika sedang ramai-ramainya partai itu, poin-poin genting, beberapa kali Indonesia dicurangi Malaysia. Saya sampai menangis dibuatnya, gregetan, jengkel. Papa sampai heran kok saya sampai dibawa perasaan. Ya iyalah…rasanya bangsa ini dipermainkan..Kalau mereka bertanding, kami tidak pernah absen menonton.

Tidak hanya itu, Papa juga sering bercerita tentang jenderal-jenderal hebat Indonesia yang berjuang demi kejayaan bangsa dan negara. Makanya, walaupun kami bukan keluarga militer, tetapi kami memiliki respek terhadap mereka. Di saat yang lain latah menisbikan soal itu (saat HAM mulai naik daun), kami tidak pernah sekalipun ragu akan kebenaran. Bukan berarti membabi-buta tetapi bagaimanapun juga selalu ada 2 sisi mata uang dan selalu saja ada oknum. Tidak berarti semuanya lalu menjadi salah. There’s always a reason and there’s always a hero..

Ketika saya dan suami menjelajah Indonesia, kami menemukan bahwa negara kita ini sangatlah kaya, sangat besar, begitu juga potensinya. Anda tahu di Jawa itu ada berapa suku? Bahkan di Jawa Tengah sendiri ada berapa suku? Antara yang pesisir dengan yang di bukan pesisir saja sudah banyak berbeda. Itu aja hanya satu wilayah kecil dari Indonesia. Negeri kita sangatlah kaya, bahkan semestinya kita “menghidupi” kebutuhan kita sendiri tanpa tergantung dengan bangsa lain.

Coba anda bayangkan, Bengkulu saja yang berada di pojok barat Indonesia, jarang sebagai tempat persinggahan, selalu menjadi korban bencana, entah itu gempa, tsunami dan lain-lain, tidak kami kira ketika kami lihat di sana, orang-orangnya sangat bersemangat, sangat friendly. Yang punya usaha kain basurek, tabot bengkulu, kerajinan lantung dan lain-lain semuanya tampak semangat. Mereka menghasilkan barang selain untuk orang luar juga dipakai oleh mereka sendiri. Sekarang ini, tambah ramai dengan dibangunnya bandara Fatmawati dan masuknya beberapa maskapai nasional ke Bengkulu.

Belum lagi anda lihat di Kupang. Pasti anda hanya bayangkan kotanya sepi, di pojok selatan agak ke timur Indonesia, panas dan tandus. Tapi anda coba buktikan dengan menghampiri kota itu. Betapa mobilenya masyarakat di sana. Angkotnya sangat banyak dan beragam, didandani dengan trendy sekali. Sound systemnya canggih bahkan sopir dan kernetnyapun tidak kalah trendy. Makanannya yang berupa sei daging sangat yummy, ramai orang beli. Belum lagi titi jagungnya yang crunchy, tidak kalah dengan tortilla Mexico. Terus kain tenunnya yang sangat banyak macamnya, ada yang khas So’e (Timor Tengah Selatan), Belu, Kefamenanu (Timor Tengah Utara), Sumba Timur (Waingapu), Sumba Barat (Waikabubak), Flores Timur, Maumere, Bajawa, Ngada dan lain-lain. Saya punya beberapa koleksinya tetapi tidak banyak karena harganya mahal…Patung Timor yang eksotis, sasando dari Rote-Ndao berikut topi dan tempat airnya.

Mana lagi yang anda tanyakan pada saya? Gorontalo..propinsi yang masih relatif baru ini popularitasnya menjulang berkat kiprah gubernurnya yang dulu terkenal sebagai pengusaha besar, Dr.Ir.Fadel Muhammad. Lulusan ITB Sipil dan doktor dari UGM yang mengeluarkan buku tentang kebijakannya dalam membangun Gorontalo yang tercermin dari desertasi doktoralnya. Penghasil jagung terbesar dan mencoba membangun propinsi seperti Aceh tetapi di Sulawesi (gerbang timur Indonesia) dengan masyarakatnya yang mayoritas beragama Islam. Pia kerawangnya sangat lezat, berbeda rasa dengan bakpia Pathok Jogya, pia Semarang atau Surabaya. Tenun Kerawangnya juga sangat elegan.

Palu di Sulawesi Tengah yang karena tetangga kabupatennya (yang kenyataannya jaraknya sangat jauh) Poso pernah “berkobar” membuat keberadaannya juga dijauhi. Ketika saya dan suami pergi ke sana, banyak yang membelalakkan mata. Mengapa di sana? Apa tidak bahaya? Faktanya, di Palu saat weekend sangatlah sulit mencari hotel. Padahal hotel yang ada sangat banyak. Tetapi kami malah dibantu “stranger” hingga dapat penginapan di mess Kabupaten Poso. Pemandangan lautnya sangat indah. Makanan khasnya kaledo di beberapa restoran selalu saja habis. Bayangkan betapa ramainya kota itu terutama di malam hari. Angkotnyapun selalu available hingga malam. Nggak terbayang kan kerusuhan Poso di Palu. Pasti kotanya langsung jadi kota mati, sepi.

Belum lagi anda berkunjung ke Medan, Palembang, Makasar, Manado, Pekanbaru, Padang dan lainnya yang relatif lebih besar dan lebih dikenal. Belitung baru dilirik ketika Laskar Pelanginya Andrea Hirata “meledak”. Kami sudah kesana sebelumnya. Berbeda dengan Pangkalpinang di Bangka, Tanjung Pandan sangatlah sepi. Traffic lightnya hanya satu. Tetapi keberadaan pasar sangat menghidupkan suasana kota. Masakan gangan (ikan kuah asam) khas Belitung, terasinya dan kerupuk ikannya sangat menggoyang lidah. Batu satam merupakan oleh-oleh yang hanya bisa anda jumpai di Belitung. Batu tersebut bisa dipakai sebagai perhiasan dan hiasan di tongkat komando. Pantainya sangat unik seperti di pulau Bangka berhiaskan batu granit yang besar-besar.

Kita semestinya membangun negara ini dengan kekuatan sendiri. Makanya sangatlah tepat ketika Time menganugerahkan “The Most Dangerous Man” pada Adi Sasono (mantan Menkop). Beliau sangat berdedikasi pada perekonomian rakyat kecil. Rakyat kecil diajari cara berdikari, berusaha sendiri. Mereka diberikan kail, bukan ikan sehingga tidak ada bangsa pengemis, peminta-minta, mental terjajah. Memang benar yang dikatakan Tukul soal hati yang miskin. Bagaimanapun kayanya, tetap saja menjadi peminta-minta karena pada dasarnya selalu merasa kurang, selalu merasa miskin

Senin, 15 September 2008

EVERYTHING HAS ITS TIME


Semuanya akan ada masanya. Semuanya akan terasa indah pada waktunya. Saya bukan orang Nasrani tetapi saya terkesan akan ‘statement’ yang ada di bible tersebut. Saya lupa nama suratnya tetapi saya yakin di agama-agama lain mungkin juga ada pembahasan itu tetapi besar kemungkinan menggunakan istilah yang berbeda-beda. Saya meyakini akan semuanya ada masanya.

Dari mulai kita dilahirkan oleh ibunda tercinta, kalau memang belum waktunya, tentu saja kita belum ada. Begitu juga ketika sekolah, menikah, mempunyai anak, meninggal dunia, jika memang belum digariskan akan datang, maka bagaimanapun juga tidak akan datang. Macam suratan takdir, qada dan qadar menurut Al-Qur’an. Tetapi selalu saja kita harus mengusahakannya, dengan sebaik mungkin. Selebihnya hanya bisa memasrahkan diri kepada Tuhan.

Masih teringat ketika kita benar-benar sangat mendambakan sesuatu hal, tetapi ketika Tuhan belum mengijinkan, maka semuanya belum dapat menjadi kenyataan. Ketika kita masih kecil atau remaja, seringkali kita selalu mengeluh mengapa Tuhan tidak mengabulkan permintaan kita. Karena darah muda, kita seringkali mengabaikan makna dibalik peristiwa yang kita alami, selalu tidak sabar menunggu hikmah Tuhan yang datang pada kita.

Tidak mudah memahami bahwa semuanya itu selalu saja ada waktu yang tepat. Setiap hal, peristiwa, kejadian selalu saja ada masa yang tepat untuk semuanya yang terjadi. Misalnya, pasangan suami istri yang belum mendapatkan putra setelah menikah. Mungkin saja, Tuhan mempunyai rencana sendiri dan melihat bahwa pasangan tersebut belum waktunya memiliki anak karena secara mental belum siap. Atau saja ada sebab-sebab lain yang maknanya lebih dalam dari yang diketahui pasangan tersebut.

Saya jadi teringat peristiwa-peristiwa lampau yang telah terjadi pada diri saya maupun keluarga. Sekolah saya, saya jadi semakin yakin kenapa dulu saya gagal di UMPTN (terus terang saja waktu itu saya masih merasa ragu dengan pilihan saya karena banyak disarankan oleh keluarga). Ketika saya pilih Psikologi di universitas lain, maka jalan hidup saya berkaitan dengan Psikologipun berlanjut hingga akhirnya kuliah doctoral sekarang. Mungkin jika tembus UMPTN, jalan hidup saya tidak seperti sekarang. Menjadi dosen Psikologi di Universitas Negeri, bisa lanjut sekolah hingga S3.

Begitu juga dengan jodoh. Mungkin juga jika saya tidak bertemu dengan suami saya, hidup saya tidak akan seperti ini. Ya, jalan hidup saya telah terbentang, dengan semua kemungkinan terkait dengan pilihan yang saya ambil. Dan semuanya ada masanya.

Saya baru merasakan setelah lulus kuliah, bekerja, berkeluarga hingga saat ini. Memang inilah yang terbaik buat saya dari Tuhan. Tetapi Tuhan tidak langsung memberitahukan, Dia menunggu saat yang tepat untuk memberitahukan. He just wait the right time to say that everything has its time…

LET’S TALK ABOUT LOVE


Orang sering menyebut dan mengagung-agungkan kata-kata “cinta” tetapi seringkali tidak benar-benar meresapi maknanya. Cinta melewati batas-batas budaya, suku, ras, etnik, agama, usia, bangsa atau Negara. Cinta bersifat universal, tidak hanya terbatas pada hubungan dua kekasih. Cinta memerlukan saling pengertian, mutual understanding, saling bekerjasama untuk saling mengisi. Cinta bahkan dapat memberikan semangat untuk lebih maju, berbuat yang terbaik dan sikap pantang menyerah.

Terkadang cinta juga dapat saling membenci, menyakiti dan pada akhirnya merusak. Kadarnya yang terlalu berlebihan atau malah berkurang dapat membutakan mata orang untuk mencinta. Kebutaan itu yang mengakibatkan kehancuran, karena dia tidak dapat melihat dengan jernih.

Kecintaan tidak hanya pada seseorang tetapi juga “sesuatu” yang bisa berwujud abstrak maupun konkrit. Sesuatu yang bersifat materi dapat membutakan mata untuk melihat bahwa apa yang telah diambil adalah bukan haknya tetapi merupakan hak orang lain. Semuanya yang dilarang (haram) dapat menjadi halal. Itulah yang dinamakan korupsi.

Kecintaan yang tiada batas terhadap supremasi suku, agama maupun negara dapat memancing sikap fundamentalisme. Pemujaan yang berlebihan dapat mengakibatkan superioritas satu pihak dan menihilkan peran yang lain (bahkan dapat mengarah ke deindividuasi - tidak lagi memanusiakan manusia). Inilah yang terjadi ketika peristiwa holocaust, pembersihan etnis di sejumlah negara, bahkan yang terjadi di Indonesia.

Secara kasat mata, bagaimana seorang manusia yang dikaruniai akal budi oleh Tuhan sebagai penanda makhluk yang paling sempurna di dunia ini, dengan seenaknya melenyapkan nyawa manusia yang lain, sesama makhluk Tuhan bahkan dengan cara-cara di luar batas kemanusiaan, melebihi insting binatang untuk mempertahankan hidup.

Cinta ternyata dapat berubah menjadi kompleks, bahkan menjadikan “horror drama” sepanjang masa ketika suatu kelompok manusia dengan atas nama Tuhan (yang menciptakan) mampu berbuat hal-hal di luar batas kemanusiaan. Menghancurkan semua ciptaan Tuhan yang hidup atas perkenaan Tuhan, dengan cara sangat memilukan dan mereka sama sekali tidak merasa bersalah karena apa yang mereka lakukan, mereka yakini atas kehendak Tuhan mereka.

Itulah manusia dan cinta-nya. Terkadang bisa begitu indah dunia diciptakan dengan dasar cinta tetapi tidak jarang pula betapa mudah dunia dirusak, dihancurkan atas dasar nama cinta.