Senin, 15 September 2008

EVERYTHING HAS ITS TIME


Semuanya akan ada masanya. Semuanya akan terasa indah pada waktunya. Saya bukan orang Nasrani tetapi saya terkesan akan ‘statement’ yang ada di bible tersebut. Saya lupa nama suratnya tetapi saya yakin di agama-agama lain mungkin juga ada pembahasan itu tetapi besar kemungkinan menggunakan istilah yang berbeda-beda. Saya meyakini akan semuanya ada masanya.

Dari mulai kita dilahirkan oleh ibunda tercinta, kalau memang belum waktunya, tentu saja kita belum ada. Begitu juga ketika sekolah, menikah, mempunyai anak, meninggal dunia, jika memang belum digariskan akan datang, maka bagaimanapun juga tidak akan datang. Macam suratan takdir, qada dan qadar menurut Al-Qur’an. Tetapi selalu saja kita harus mengusahakannya, dengan sebaik mungkin. Selebihnya hanya bisa memasrahkan diri kepada Tuhan.

Masih teringat ketika kita benar-benar sangat mendambakan sesuatu hal, tetapi ketika Tuhan belum mengijinkan, maka semuanya belum dapat menjadi kenyataan. Ketika kita masih kecil atau remaja, seringkali kita selalu mengeluh mengapa Tuhan tidak mengabulkan permintaan kita. Karena darah muda, kita seringkali mengabaikan makna dibalik peristiwa yang kita alami, selalu tidak sabar menunggu hikmah Tuhan yang datang pada kita.

Tidak mudah memahami bahwa semuanya itu selalu saja ada waktu yang tepat. Setiap hal, peristiwa, kejadian selalu saja ada masa yang tepat untuk semuanya yang terjadi. Misalnya, pasangan suami istri yang belum mendapatkan putra setelah menikah. Mungkin saja, Tuhan mempunyai rencana sendiri dan melihat bahwa pasangan tersebut belum waktunya memiliki anak karena secara mental belum siap. Atau saja ada sebab-sebab lain yang maknanya lebih dalam dari yang diketahui pasangan tersebut.

Saya jadi teringat peristiwa-peristiwa lampau yang telah terjadi pada diri saya maupun keluarga. Sekolah saya, saya jadi semakin yakin kenapa dulu saya gagal di UMPTN (terus terang saja waktu itu saya masih merasa ragu dengan pilihan saya karena banyak disarankan oleh keluarga). Ketika saya pilih Psikologi di universitas lain, maka jalan hidup saya berkaitan dengan Psikologipun berlanjut hingga akhirnya kuliah doctoral sekarang. Mungkin jika tembus UMPTN, jalan hidup saya tidak seperti sekarang. Menjadi dosen Psikologi di Universitas Negeri, bisa lanjut sekolah hingga S3.

Begitu juga dengan jodoh. Mungkin juga jika saya tidak bertemu dengan suami saya, hidup saya tidak akan seperti ini. Ya, jalan hidup saya telah terbentang, dengan semua kemungkinan terkait dengan pilihan yang saya ambil. Dan semuanya ada masanya.

Saya baru merasakan setelah lulus kuliah, bekerja, berkeluarga hingga saat ini. Memang inilah yang terbaik buat saya dari Tuhan. Tetapi Tuhan tidak langsung memberitahukan, Dia menunggu saat yang tepat untuk memberitahukan. He just wait the right time to say that everything has its time…

LET’S TALK ABOUT LOVE


Orang sering menyebut dan mengagung-agungkan kata-kata “cinta” tetapi seringkali tidak benar-benar meresapi maknanya. Cinta melewati batas-batas budaya, suku, ras, etnik, agama, usia, bangsa atau Negara. Cinta bersifat universal, tidak hanya terbatas pada hubungan dua kekasih. Cinta memerlukan saling pengertian, mutual understanding, saling bekerjasama untuk saling mengisi. Cinta bahkan dapat memberikan semangat untuk lebih maju, berbuat yang terbaik dan sikap pantang menyerah.

Terkadang cinta juga dapat saling membenci, menyakiti dan pada akhirnya merusak. Kadarnya yang terlalu berlebihan atau malah berkurang dapat membutakan mata orang untuk mencinta. Kebutaan itu yang mengakibatkan kehancuran, karena dia tidak dapat melihat dengan jernih.

Kecintaan tidak hanya pada seseorang tetapi juga “sesuatu” yang bisa berwujud abstrak maupun konkrit. Sesuatu yang bersifat materi dapat membutakan mata untuk melihat bahwa apa yang telah diambil adalah bukan haknya tetapi merupakan hak orang lain. Semuanya yang dilarang (haram) dapat menjadi halal. Itulah yang dinamakan korupsi.

Kecintaan yang tiada batas terhadap supremasi suku, agama maupun negara dapat memancing sikap fundamentalisme. Pemujaan yang berlebihan dapat mengakibatkan superioritas satu pihak dan menihilkan peran yang lain (bahkan dapat mengarah ke deindividuasi - tidak lagi memanusiakan manusia). Inilah yang terjadi ketika peristiwa holocaust, pembersihan etnis di sejumlah negara, bahkan yang terjadi di Indonesia.

Secara kasat mata, bagaimana seorang manusia yang dikaruniai akal budi oleh Tuhan sebagai penanda makhluk yang paling sempurna di dunia ini, dengan seenaknya melenyapkan nyawa manusia yang lain, sesama makhluk Tuhan bahkan dengan cara-cara di luar batas kemanusiaan, melebihi insting binatang untuk mempertahankan hidup.

Cinta ternyata dapat berubah menjadi kompleks, bahkan menjadikan “horror drama” sepanjang masa ketika suatu kelompok manusia dengan atas nama Tuhan (yang menciptakan) mampu berbuat hal-hal di luar batas kemanusiaan. Menghancurkan semua ciptaan Tuhan yang hidup atas perkenaan Tuhan, dengan cara sangat memilukan dan mereka sama sekali tidak merasa bersalah karena apa yang mereka lakukan, mereka yakini atas kehendak Tuhan mereka.

Itulah manusia dan cinta-nya. Terkadang bisa begitu indah dunia diciptakan dengan dasar cinta tetapi tidak jarang pula betapa mudah dunia dirusak, dihancurkan atas dasar nama cinta.

LABELLING


Masyarakat awam seringkali memberikan julukan atau label kepada orang-orang tertentu. Bahkan orang tua kepada anak-anaknya. Julukan atau panggilan seperti : anak pintar, anak rajin, anak bodoh sesuai dengan keadaan anak tersebut. Hal tersebut dinamakan labeling.

Seringkali orang-orang tersebut “sok tahu” dengan memberikan prediksi tentang orang lain, yang diberi julukan tersebut. Anak bungsu pasti manja, tidak dapat mandiri, begitu juga dengan anak tunggal. Anak sulung pasti anak yang bertanggungjawab, mandiri dsb. Anak tengah tidak terlalu diperhatikan jika tidak ada prestasi menonjol. Semua hal yang terjadi dikaitkan dengan label yang ada di dalam diri seseorang.

Saya senang dengan orang yang suka sewenang-wenang memprediksikan saya. Senang karena saya akan berusaha keras mematahkan anggapan mereka, prediksi mereka tentang saya, tentu saja yang bernada negatif dan tidak membangun.

Keangkuhan dan kesewenangan mereka memberikan charge tambahan energi positif buat saya untuk berbuat terbaik. Keberadaan saya sebagai putri tunggal seringkali menjadi “alasan empuk” bagi orang-orang yang tidak bertanggungjawab dan memiliki niat tertentu ketika mereka tidak berhasil mempengaruhi saya yang berkait dengan sesuatu yang mereka harapkan.

Ketika saya mendapat peluang untuk studi lanjut S3 karena mereka takut tersaingi, mereka membuat excuse “dasar anak tunggal, sombong, mau-maunya sendiri..” karena saya tidak mau menuruti mereka untuk membatalkan niat tulus saya. Alasan mereka banyak dan sewenang-wenang.

Kalau alasan mereka tulus, tentunya saya tidak akan keberatan, walaupun belum tentu peluang itu datang 2 kali. Tetapi ketika ternyata saya ketahui bahwa alasan itu banyak dibuat-buat dan mereka sendiri ternyata tidak mau mendelegasikan tugas (yang ternyata ada “uang di balik gimbal..”), kemudian memang ada unsur-unsur yang “tidak sehat”, iri, dengki, envy (bukan penis envy-nya Freud loh ya..), ya sudah..mulai pasang telinga kedap suara. Maksudnya supaya tidak cepat naik darah kalau-kalau difitnah macam-macam. Konsekuensinya ya seperti itu…

Ketika saya masih kecil, saya pernah diduga nanti akan tumbuh menjadi anak yang selalu canggung, tidak bisa mandiri dan sebagainya. Ketika sekolah saya (bahkan sampai sekarang, dapat tembus strata 3 di universitas terpandang di Indonesia, di kota besar metropolitan pula), banyak yang terbengong-bengong. “Ngga ngira saya..”, begitu selalu yang diucapkan.

Selalu ingat bahwa semua hal kembali lagi ke orang yang bersangkutan. Pribadi seseorang memang terbentuk mulai dari lahir tetapi pola asuh orang tua, pendidikan, lingkungan sosial dan pengalaman hidup akan lebih mempertajam pribadi orang tersebut menuju ke arah mana. Sekarang-sekarang ini, sangatlah laku pelatihan-pelatihan tentang EQ, SQ, ESQ, AQ, Quantum Ikhlas dan lain-lain. Ternyata inteligensi hanya menyumbang 20% dari keberhasilan seseorang. Lalu apakah yang 80% itu? Jawabannya banyak, ada yang bilang soal ketekunan, jejaring, semangat pantang menyerah dan sebagainya.

Ketika dulu saya sekolah, mulai SD-SMP rasa-rasanya ranking 5 besar itu selalu di tangan. Ketika SMA mulai agak goyah, saingannya banyak dan pandai-pandai disamping banyaknya mata pelajaran yang membuat kuwalahan. Kuliah, seneng karena merupakan sesuatu yang baru, profesi lebih senang lagi karena praktek melulu. S2 mulai di Jakarta, adaptasi dan lain-lain membuat tantangan semakin tajam lagi. Hasil-hasil semua kuliah, profesi dan S2 (begitu juga S3 sekarang) lumayan, walaupun tidak cemerlang banget.

Sikap nekad dan keukeuh saya yang paling dominan. Mungkin pula, darah sanguinis alias darah Minang saya membuat saya “keras kepala” dan “keras hati” dalam menghadapi segala rintangan dan riak-riak kehidupan. Tentu saja nekad yang positif dan tidak menghalalkan segala cara. Dan terutama adalah tidak mengambil yang bukan milik kita, bukan jatah kita.

Ibaratnya tidak bisa jalan, ya merangkak, tidak bisa merangkak ya ngesot… Ketika berkali-kali diguncang hambatan baik yang sebesar pasir maupun sebesar batu kali, saya berusaha untuk tidak berhenti atau bahkan mundur. Tetap harus jalan walaupun jalannya hanya sedikit atau bahkan harus berjingkat-jingkat ataupun yang terparah, tetap berjalan walau terpincang-pincang.

Hal yang buruk yang dapat terjadi karena proses labeling adalah ketika sebenarnya orang yang sudah dilabel berbuat baik tetapi tetap diberikan label negatif sehingga akhirnya dia benar-benar berbuat yang negatif seperti yang dituduhkan. Seringkali pula orang dengan label baik, sekali saja dia lengah dan khilaf, berbuat kesalahan seolah-olah dia berbuat salah yang sangat besar dan tak ada baik-baiknya sama sekali.

Memang benar pepatah Indonesia yang berkata, “Karena nila setitik, rusaklah susu sebelanga..”. Labelling terutama yang negatif, untuk amannya janganlah digunakan karena hal itu akan membekas dan bukan tidak mungkin akan menjadi kenyataan. Label yang positif dapat berfungsi sebagai pembangkit motivasi supaya tetap terpelihara dengan baik tetapi jangan sekali-kali menganggap bahwa manusia itu adalah malaikat, yang selalu benar dan tidak pernah salah.

Kasus seorang da’i kondang yang kemudian tenggelam karena kasus poligami. Tidak ada orang yang punya salah atau kekurangan. Hal manusiawi tetapi karena ini menyangkut figur masyarakat yang dalam setiap sisi kehidupannya selalu ditiru dan dikagumi, maka menjadi perbincangan hangat dan menjadi pro-kontra.

Maka, tidaklah wajar ketika orang tersebut bilang, silahkan saja mencari figur lain untuk diteladani atau dikagumi. Hal itu sangat tidak dapat diterima, kecuali ketika orang itu sudah tidak lagi dalam posisi “yang menyuruh-nyuruh” masyarakat pemerhatinya untuk berbuat. Arti lugasnya ya jangan lagi jadi public figure, apalagi seorang pemuka agama yang oleh masyarakat sudah terlanjur distempel sebagai orang yang “lebih” dibandingkan dengan orang kebanyakan.

Labelling yang terjadi pada tokoh tersebut telah berubah dari positif ke negatif. Apapun yang dia perbuat, publik tetap tidak dapat lupa tentang tindakannya yang “melukai” hati publik tersebut. Dan yang sangat disayangkan adalah hal tersebut berbuntut dengan semua usaha yang dia rintis dan melibatkan penghidupan orang banyak. Sangatlah disayangkan, karena perbuatan (atau kesalahan, tergantung apa persepsi orang tentang poligami) seseorang, berpuluh-puluh penghidupan orang lain menjadi taruhan. Hanya gara-gara labeling. Jika saja, orang mau berpikir panjang …Makanya mungkin didalam Al-Qur’an,ada disebut..maka beruntunglah kaum yang mau berpikir…


HIDUP ADALAH PERBUATAN

HIDUP ADALAH PERBUATAN


Meminjam slogan dari iklan yang menampilkan seorang tokoh dimana kalimat itu sangatlah berkesan buat saya pribadi. Memang benar, inti dari kehidupan kita adalah perbuatan kita. Apa yang telah kita lakukan, akan kita lakukan..Tidak penting apakah nantinya perbuatan itu akan menguntungkan kita atau tidak, yang jelas adalah bahwa perbuatan itu positif dalam koridor moral.

Seringkali orang termangu ketika mendapatkan hambatan atau tantangan. Boleh-boleh saja termangu tetapi jangan lama-lama. Bangkit dan berbuatlah, jangan pernah menyerah. Orang itu gagal ketika mereka berhenti, putus asa dan termangu meratapi kegagalan. Wise man said that you never fail until you stop trying..

Tidak dapat dipungkiri, tidak semuanya dapat kita raih di dunia ini. Tidak semua mimpi kita akan menjadi kenyataan, tidak semua harapan terkabul…Maka dari itu ada yang namanya pilihan, konsekuensi dan usaha. Tidak ketinggalan adalah doa dan selalu berpijak pada kenyataan. Ketika kegagalan datang, itu adalah cobaan..apakah kita kuat menerimanya..ketika kuat dan ternyata kita tidak berhenti, maka mental kita telah terasah untuk tantangan lebih lanjut.

Ada banyak orang yang kagumi tetapi untuk yang ini ada dua orang anak manusia yang saya kagumi. Yang satu adalah Partahi Mamora Lumban Toruan (Mora), yang lainnya adalah ibunya (ibu sambungnya), saya lupa namanya. Saya tidak pernah mengenal orang-orang tersebut selain dari media massa yang meliputnya. Mora adalah mahasiswa tingkat doctoral dari Indonesia yang kuliah di Virginia Tech, USA. Dia meninggal tertembak ketika ada mahasiswa asal Korea yang terganggu jiwanya menembak secara brutal mahasiswa dan dosen di kampus tersebut.

Saya kagum padanya karena begitu bersemangatnya untuk bersekolah dan memberikan yang terbaik untuk keluarganya. Sedangkan ibunya yang notabene adalah ibu tirinya (ibu kandungnya meninggal ketika Mora masih kecil karena kecelakaan) benar-benar menyayanginya melebihi apapun. Ibunya tersebut yang membiayai sekolahnya di Amerika bahkan sebelum peristiwa tersebut, sudah akan menjual tanah warisan dari orang tuanya untuk membiayai sekolah Mora yang hampir selesai. Begitu besar kasih bunda…begitu semangatnya untuk keberhasilan putranya bahkan untuk seorang anak yang bukan darah dagingnya sendiri. Begitu keji, orang yang telah memisahkan mereka bahkan dengan cara biadab seperti itu.

Cerita ibu-anak tersebut sangat menyentuh hati saya, saya membayangkan Papa-Mama saya yang telah berjuang susah payah sehingga saya menjadi seperti ini. Mereka tidak pernah meminta bantuan materi pada orang lain untuk membesarkan dan menyekolahkan saya. Kasih mereka tidak akan pernah dapat terbalaskan oleh saya, sampai kapanpun..So, hidup saya, perbuatan saya, apapun yang saya lakukan saat ini, semuanya adalah sebagai balas budi saya pada orang tua dan akan selalu saya dedikasikan untuk mereka, yang terutama ...

Senin, 11 Agustus 2008

THAT’S IT, ENOUGH IS ENOUGH

Berapa kali kita berani bilang, bahwa That’s it! Enough is enough kepada orang lain, pihak lain atau diri sendiri? Kadangkala kalau tidak terpaksa banget, kita malas mengambil sikap ini. Hal ini sangat bisa dimaklumi karena terkadang konsekuensi atau resiko yang harus kita tanggung sangatlah besar dan tidak jarang akan menguras tenaga dan pikiran kita. Apalagi kalau berhadapan dengan pihak lain dan jika pihak tersebut memiliki otoritas di atas kita. Tetapi bagaimanapun juga, hidup akan tetap mengalir dengan ada atau tidaknya pihak tersebut.

Banyak pihak yang bilang, orang atau manusia yang merdeka adalah manusia yang tidak memiliki rasa takut. Rasa takut memang dapat membantu kita untuk menakar seberapa kuat kita dapat menghadapi tetapi seringkali rasa takut seperti juga rasa pesimis akan menghancurkan orang tersebut, sedikit demi sedikit, dari dalam, bahkan tanpa orang tersebut menyadarinya.

Amerika pernah menyatakan “Freedom from Fear”. Ketakutan akan kemiskinan, kelaparan, pendidikan, penindasan dari pihak lain dan sebagainya. Perancis pernah mengibarkan asas-asas Fraternity, Liberty dan Egalite. Indonesia pada tahun 1908, 1928, 1945 dan 1998 pernah secara eksplisit bilang, “That’s It, Enough is Enough” terhadap segala bentuk penindasan, penjajahan, kediktatoran dan pemberangusan demokrasi. Bahkan sekarang ada momentum 100 tahun Kebangkitan Nasional. Apa yang bisa kita rayakan dan kita syukuri dari perayaan tersebut?

Niat baik tidaklah selalu mulus. Apalagi pada manusia, tempat segala macam nafsu bahkan nafsu yang rendah melebihi nafsu binatang. Maksud yang baik terkadang tidak selalu dibalas dengan kebaikan. Air susu tidak selalu dibalas dengan air susu juga terkadang malah diberi air tuba. Selalu ada jalan “jihad” bagi amar ma’ruf nahi mungkar.

Di dalam lingkungan yang konservatif, one man one show, iklim patronisme yang kuat mengedepankan senioritas agak sulit bagi kaum muda untuk berkreasi apalagi berprestasi. Ada pemakluman bahwa tidak boleh ada yang menonjol. Sama rata, sama rasa (walaupun untuk rasa, agak diberi tanda petik sebenarnya). Sebanyak orang suka pada kita, sebanyak pula orang yang tidak suka. Apa mau dikata, ketika yang paling kuat berkata, “Tidak..!”, maka yang lainnya harus koor bilang “Tidak…”juga, bahkan dengan suara yang paling lantang untuk memperlihatkan rasa loyalitasnya yang lebih dibandingkan yang lain. Heil..Hitler!!!. Saya kok jadi ingat film Band of Brothers : D-Day.

Ketika ada yang berani menjawab lain maka sudah spontan langsung menjadi highlight. Yang melihat, hanya bisa memuji (tentu saja dalam hati), yang ingin ikut ambil bagian tentu saja meneriakin bahkan ikut-ikutan menghujani dengan segala perkataan negatif. Ada semacam euphoria, karena rasanya hampir seperti ratusan tahun melihat ada “tontonan” karena selama ini belum ada yang berani.

Tetapi ketika mereka ditanya apa pendapat mereka secara terbuka. “Wah, off the record, saya gak ikut-ikutan”, “Saya sih Sluman-Slumun Slamet saja. Nanti jabatan saya dipertaruhkan gara-gara saya ikut-ikutan”. “Wah, nggaklah. Saya tetap di sini saja” (sambil kemudian terus menggerutu, menyalahkan nasib yang tidak pernah berpihak). Benar saja, seperti halnya pengamat politik atau sepak bola yang tahunya hanya mengkritik ketika ditanya solusi atau langkahnya belum tentu mereka sepintar ulasannya.

Tidak jarang, orang iri kepada “whistle blower”, kenapa ya bukan saya yang kemudian jadi perhatian”, “Dia kan berani karena di bla-bla-bla (segala ujaran negatif)”. Ketika ada yang “breaking the silence”, banyak yang kemudian menjadi dengki karena keberanian mereka, sementara mereka yang menggerutu hanya duduk sambil menunggu keajaiban Tuhan datang. Biasalah, di kultur yang serba sungkan kadangkala kita harus selalu berhati-hati. Kadang-kadang orang baik di depan, di belakang bisa saja berbalik memukul.

Seperti kata Tukul Arwana, jika energi negatif itu akan cepat menyebar dan mempengaruhi. Begitu juga yang saya rasakan. Segala macam cobaan, halangan dan fitnah silih berganti datang. Pada titik tertentu kemudian saya bilang pada diri sendiri dan yang lain, “That’s It. Enough is Enough”. Sudah cukuplah bagi saya.

Kalau saya bertahan lebih lama lagi, seperti kata Harvey Dent dalam The Dark Knight, “Mati sebagai pahlawan atau hidup terus tetapi lama kelamaan menjadi penjahat seperti mereka”. Kamu dapat berubah menjadi “penjahat” jika berada di lingkungan yang abnormal terlalu lama. Atau dari John Rambo dalam Rambo IV : “Live for nothing or die for something”. Atau John Mc Clane dalam Die Hard IV : “Live freely or die harder..”

Memang benar, hal ini mulai dari komplain suami kalau setiap kali pulang dari Jakarta, “Kamu kok sekarang jadi nyinyir (apa ya padanan bahasa Indonesianya?) gitu sih, padahal dulu waktu di Jakarta tidak begitu”. Mulai dari situ, saya berpikir untuk “hijrah” walau hanya sementara karena saya tidak mau menjadi bagian dari “bad environmental” tadi. Hijrah untuk tujuan jihad. Jihad untuk bersekolah. Good intention kan?

Ada yang bilang pada saya, “Air di laut itu asin tetapi tidak semua ikan di laut asin”. Tetapi buat saya, hidup hanya sekali, mengapa harus menjadi orang yang munafik? (kalau memang reinkarnasi ada, biarlah saya nanti tetap menjadi saya yang seperti sekarang). Yang lainnya ngomong, ikutan ngomong (walaupun tidak tahu artinya) bahkan ditambah-tambahin bumbu biar semakin “panas”, yang lainnya menghujat, ikutan menghujat (walaupun tidak tahu akar masalahnya). Apa esensi kita dalam hidup? Kalau hanya puas seperti burung beo, yang selalu menirukan tanpa tahu artinya.

Nabi Muhammad SAW pernah hijrah dari Mekkah ke Medinah untuk menghindari mara bahaya dari kaum yang tidak menghendaki beliau dan ajarannya. Hijrah berarti pindah, tetapi bukan berarti beliau meninggalkan Mekkah selamanya. Hijrah dimaksudkan untuk sementara, untuk menyelamatkan kaumnya dari segala bentuk penindasan dan siksaan dari kaum Quraish, juga untuk menghindari keberingasan system yang dapat mengubah mereka yang telah bertobat. Jika kita tidak berubah maka lambat laun sistem yang akan mengubah kita. Kalau sistemnya bagus maka akan menjadi bagus, tetapi kalau jelek, akan jadi apa jadinya?

Hal tersebut dapat menjelaskan mengapa jika suatu kaum tidak mau berubah untuk kebaikan maka Tuhan-lah yang akan bertindak. Hal ini juga yang terjadi pada kaum Nabi Nuh AS dan Nabi Luth AS. Azab dari Tuhan akan segera datang, cepat atau lambat dan dalam bentuk yang sangat misterius. Dan ternyata hal itu memang terjadi, tidak selalu roda itu di atas terus, kadang juga di bawah. Dan percayalah, karma itu ternyata ada. Balasan akan segala perbuatan yang baik maupun yang buruk. Tidak perlu kita ikut-ikutan menghujat ternyata dengan kuasa pihak lain, tangan Tuhan menunjukkan kuasa-Nya.

So, my point is..if you must say..That’s It, Enough is Enough…just go ahead..don’t be afraid. God’s always be with good people..anyway..

Selasa, 29 Juli 2008

PICTURE PERFECT

Setiap manusia ditakdirkan untuk saling berpasangan sehingga tercipta suatu harmoni diantara mereka. Ketika Tuhan menyatukan dua insan, tidak seorangpun manusia yang dapat memisahkannya.

Anda percaya jodoh? Dulu waktu saya remaja, saya tidak begitu percaya. Rasanya kok too good to be true..Memang di dalam agama sudah tertulis bahwa yang namanya lahir, jodoh dan mati merupakan kekuasaan penuh Yang Di Atas. Tetapi ketika hal itu terjadi sendiri pada saya, mau tidak mau saya benar-benar percaya akan sejatinya perjalanan jodoh itu. Tidak mudah memang tetapi juga bukannya tidak mungkin.

Dari dulu, saya berharap bahwa jodoh saya adalah orang dari suku lain (saya keturunan Jawa-Minang) supaya bisa lebih tahu tentang Indonesia, selain itu orang tersebut dapat membimbing saya, mengatasi semua ketakutan saya dan benar-benar paham akan diri saya. Saya sendiri tidak yakin ada figur orang yang benar-benar memahami saya—karena saya merasa berbeda dari kebanyakan orang, terutama waktu itu teman-teman sekolah dan teman sebaya saya. Tetapi believe or not, ternyata orang itu memang ada, dan telah diset oleh Tuhan menjadi pendamping saya. Dan lucunya dia adalah teman saya satu angkatan—walaupun saya dan dia tidak pernah saling mengenal sebelumnya.

Ketika perjalanan jodoh saya sudah sampai, semuanya (kecuali berharap asal dari suku lain yang tidak terpenuhi) akhirnya menjadi kenyataan. Dan yang menjadi dasar kepercayaan saya akan jodoh itu ada adalah suami saya adalah teman seangkatan saya waktu SMP yang tidak pernah saya kenal sebelumnya bahkan ketika kami bertemu setelah 10 tahun kemudian. Kata Papa, itulah “retak tangan kamu” (garis tangan-takdir).

Saya dari mulai lahir sampai bekerja di Semarang, sementara dia sudah melanglang buana kemana-mana semenjak lulus SMP. SMA nya dia tempuh di Magelang (dia satu-satunya wakil dari SMP kami di SMA Taruna Nusantara), kuliah bahkan hingga S2 di Bandung sementara bekerja di Jakarta. Dia yang hampir tidak pernah pulang Semarang, kok ya pulang ke Semarang waktu kami bertemu untuk pertama kali. Saya jadi semakin yakin bahwa ada campur tangan Tuhan didalamnya.

Banyak teman SMP yang terbengong-bengong waktu mendapat undangan pernikahan kami atau mendengar kami bersama. Soalnya di SMP dulu, kami memang tidak pernah mengenal bahkan tidak pernah bertegur sapa. Saya orangnya serius, sementara dia lebih-lebih lagi, dobel serius… Memang kalau dipikir-pikir, too good to be true juga. Sahabat saya (selama 23 tahun hingga sekarang ini) yang mengenal kami berdua juga sangat kaget mendengar kebersamaan kami. Teman yang lain bilang, “Ketemu pirang perkoro kok iso dadi karo deknen?” (Ketemu berapa perkara kamu kok bisa jadian sama dia--ungkapan yang lazim diucapkan oleh orang Jawa kalau merasa keheranan, takjub dsb). Bisa dibilang kami malah mulus-mulus aja, tidak terlalu ada masalah berarti. Mungkin dia memang sudah jodoh saya sejak dari dulu, yang harus melewati puluhan tahun baru bisa ketemu.

Dan anehnya, memang setelah bersama dengan dia terutama semenjak menikah rasa-rasanya saya menjadi semakin berani. Bayangkan, saya yang dari dulu berkutat di Semarang, mengambil lompatan yang jauh tak terduga untuk mengambil S2 bahkan sampai S3 di UI, di Jakarta, suatu tempat dimana dulu semenjak kecil saya benar-benar anti dengan daerah ini. Bukan apa-apa, tetapi berita yang negatif dan tiap kali datang ke Jakarta selalu pusing dan stres soal macet dsb.

Begitu juga harapan saya soal keliling Indonesia (minus Papua) akhirnya dapat terpenuhi walaupun suami bukan dari suku lain, karena suami bekerja di maskapai penerbangan maka tiap waktu kami dapat pergi dengan memanfaatkan fasilitas konsesi (tiket gratis atau potongan harga). Bahkan tanpa konsesi kemudian kami tetap melakukan perjalanan ke tempat yang hendak kami tuju. Saya yang dulu rasanya selalu enggan untuk melakukan perjalanan jauh karena terbayang bagaimana ribetnya, repotnya melakukan persiapan, dengan adanya suami (yang semenjak SMA nya yang semi militer tersebut terbiasa packing secara ringkas dan praktis) berani untuk melakukan perjalanan semi back-packer. Hanya dengan membawa satu ransel untuk kami berdua dan keliling kota dengan menggunakan angkot. Bahkan ketika mencari makanan khas, oleh-oleh atau souvenir tertentu di suatu daerah.

Ketika orang sering menyebut tentang soul mate (belahan jiwa), sepertinya itupun yang saya rasakan terhadap suami saya. Beberapa hal jika ditanyakan pada suami saya maka jawaban yang sama akan meluncur dari saya. Banyak pandangan dan penilaian terhadap sesuatu hal hampir bisa dipastikan sama. Ketika satu orang tidak ada, maka yang lainnya akan merasa kehilangan. Bukan kami tidak ada perbedaan, bahkan banyak perbedaan diantara kami tetapi kami merasa perbedaan itu bukanlah untuk digembar-gemborkan tetapi adalah untuk saling melengkapi dan memperkaya kehidupan kami dalam berumahtangga.

Picture perfect—pada dasarnya tidak ada satupun manusia di dunia ini yang sempurna. Bahkan dari ketidaksempurnaan itu merupakan gambaran betapa perfect-nya dunia ini dimana kita masing-masing dapat saling menghargai, toleransi, menjaga, melengkapi dan memperkaya. Bayangkan saja jika Indonesia ini hanya terdiri satu suku saja, satu budaya, rambutnya keriting semua, kulitnya kuning semua..ah betapa bosannya wisatawan yang datang, hanya satu hari datang, sudah habis yang akan dilihat..Justru dari perbedaan itu muncul suatu peluang modal untuk membangun. Begitu juga dengan rumah tangga..