Senin, 11 Agustus 2008

THAT’S IT, ENOUGH IS ENOUGH

Berapa kali kita berani bilang, bahwa That’s it! Enough is enough kepada orang lain, pihak lain atau diri sendiri? Kadangkala kalau tidak terpaksa banget, kita malas mengambil sikap ini. Hal ini sangat bisa dimaklumi karena terkadang konsekuensi atau resiko yang harus kita tanggung sangatlah besar dan tidak jarang akan menguras tenaga dan pikiran kita. Apalagi kalau berhadapan dengan pihak lain dan jika pihak tersebut memiliki otoritas di atas kita. Tetapi bagaimanapun juga, hidup akan tetap mengalir dengan ada atau tidaknya pihak tersebut.

Banyak pihak yang bilang, orang atau manusia yang merdeka adalah manusia yang tidak memiliki rasa takut. Rasa takut memang dapat membantu kita untuk menakar seberapa kuat kita dapat menghadapi tetapi seringkali rasa takut seperti juga rasa pesimis akan menghancurkan orang tersebut, sedikit demi sedikit, dari dalam, bahkan tanpa orang tersebut menyadarinya.

Amerika pernah menyatakan “Freedom from Fear”. Ketakutan akan kemiskinan, kelaparan, pendidikan, penindasan dari pihak lain dan sebagainya. Perancis pernah mengibarkan asas-asas Fraternity, Liberty dan Egalite. Indonesia pada tahun 1908, 1928, 1945 dan 1998 pernah secara eksplisit bilang, “That’s It, Enough is Enough” terhadap segala bentuk penindasan, penjajahan, kediktatoran dan pemberangusan demokrasi. Bahkan sekarang ada momentum 100 tahun Kebangkitan Nasional. Apa yang bisa kita rayakan dan kita syukuri dari perayaan tersebut?

Niat baik tidaklah selalu mulus. Apalagi pada manusia, tempat segala macam nafsu bahkan nafsu yang rendah melebihi nafsu binatang. Maksud yang baik terkadang tidak selalu dibalas dengan kebaikan. Air susu tidak selalu dibalas dengan air susu juga terkadang malah diberi air tuba. Selalu ada jalan “jihad” bagi amar ma’ruf nahi mungkar.

Di dalam lingkungan yang konservatif, one man one show, iklim patronisme yang kuat mengedepankan senioritas agak sulit bagi kaum muda untuk berkreasi apalagi berprestasi. Ada pemakluman bahwa tidak boleh ada yang menonjol. Sama rata, sama rasa (walaupun untuk rasa, agak diberi tanda petik sebenarnya). Sebanyak orang suka pada kita, sebanyak pula orang yang tidak suka. Apa mau dikata, ketika yang paling kuat berkata, “Tidak..!”, maka yang lainnya harus koor bilang “Tidak…”juga, bahkan dengan suara yang paling lantang untuk memperlihatkan rasa loyalitasnya yang lebih dibandingkan yang lain. Heil..Hitler!!!. Saya kok jadi ingat film Band of Brothers : D-Day.

Ketika ada yang berani menjawab lain maka sudah spontan langsung menjadi highlight. Yang melihat, hanya bisa memuji (tentu saja dalam hati), yang ingin ikut ambil bagian tentu saja meneriakin bahkan ikut-ikutan menghujani dengan segala perkataan negatif. Ada semacam euphoria, karena rasanya hampir seperti ratusan tahun melihat ada “tontonan” karena selama ini belum ada yang berani.

Tetapi ketika mereka ditanya apa pendapat mereka secara terbuka. “Wah, off the record, saya gak ikut-ikutan”, “Saya sih Sluman-Slumun Slamet saja. Nanti jabatan saya dipertaruhkan gara-gara saya ikut-ikutan”. “Wah, nggaklah. Saya tetap di sini saja” (sambil kemudian terus menggerutu, menyalahkan nasib yang tidak pernah berpihak). Benar saja, seperti halnya pengamat politik atau sepak bola yang tahunya hanya mengkritik ketika ditanya solusi atau langkahnya belum tentu mereka sepintar ulasannya.

Tidak jarang, orang iri kepada “whistle blower”, kenapa ya bukan saya yang kemudian jadi perhatian”, “Dia kan berani karena di bla-bla-bla (segala ujaran negatif)”. Ketika ada yang “breaking the silence”, banyak yang kemudian menjadi dengki karena keberanian mereka, sementara mereka yang menggerutu hanya duduk sambil menunggu keajaiban Tuhan datang. Biasalah, di kultur yang serba sungkan kadangkala kita harus selalu berhati-hati. Kadang-kadang orang baik di depan, di belakang bisa saja berbalik memukul.

Seperti kata Tukul Arwana, jika energi negatif itu akan cepat menyebar dan mempengaruhi. Begitu juga yang saya rasakan. Segala macam cobaan, halangan dan fitnah silih berganti datang. Pada titik tertentu kemudian saya bilang pada diri sendiri dan yang lain, “That’s It. Enough is Enough”. Sudah cukuplah bagi saya.

Kalau saya bertahan lebih lama lagi, seperti kata Harvey Dent dalam The Dark Knight, “Mati sebagai pahlawan atau hidup terus tetapi lama kelamaan menjadi penjahat seperti mereka”. Kamu dapat berubah menjadi “penjahat” jika berada di lingkungan yang abnormal terlalu lama. Atau dari John Rambo dalam Rambo IV : “Live for nothing or die for something”. Atau John Mc Clane dalam Die Hard IV : “Live freely or die harder..”

Memang benar, hal ini mulai dari komplain suami kalau setiap kali pulang dari Jakarta, “Kamu kok sekarang jadi nyinyir (apa ya padanan bahasa Indonesianya?) gitu sih, padahal dulu waktu di Jakarta tidak begitu”. Mulai dari situ, saya berpikir untuk “hijrah” walau hanya sementara karena saya tidak mau menjadi bagian dari “bad environmental” tadi. Hijrah untuk tujuan jihad. Jihad untuk bersekolah. Good intention kan?

Ada yang bilang pada saya, “Air di laut itu asin tetapi tidak semua ikan di laut asin”. Tetapi buat saya, hidup hanya sekali, mengapa harus menjadi orang yang munafik? (kalau memang reinkarnasi ada, biarlah saya nanti tetap menjadi saya yang seperti sekarang). Yang lainnya ngomong, ikutan ngomong (walaupun tidak tahu artinya) bahkan ditambah-tambahin bumbu biar semakin “panas”, yang lainnya menghujat, ikutan menghujat (walaupun tidak tahu akar masalahnya). Apa esensi kita dalam hidup? Kalau hanya puas seperti burung beo, yang selalu menirukan tanpa tahu artinya.

Nabi Muhammad SAW pernah hijrah dari Mekkah ke Medinah untuk menghindari mara bahaya dari kaum yang tidak menghendaki beliau dan ajarannya. Hijrah berarti pindah, tetapi bukan berarti beliau meninggalkan Mekkah selamanya. Hijrah dimaksudkan untuk sementara, untuk menyelamatkan kaumnya dari segala bentuk penindasan dan siksaan dari kaum Quraish, juga untuk menghindari keberingasan system yang dapat mengubah mereka yang telah bertobat. Jika kita tidak berubah maka lambat laun sistem yang akan mengubah kita. Kalau sistemnya bagus maka akan menjadi bagus, tetapi kalau jelek, akan jadi apa jadinya?

Hal tersebut dapat menjelaskan mengapa jika suatu kaum tidak mau berubah untuk kebaikan maka Tuhan-lah yang akan bertindak. Hal ini juga yang terjadi pada kaum Nabi Nuh AS dan Nabi Luth AS. Azab dari Tuhan akan segera datang, cepat atau lambat dan dalam bentuk yang sangat misterius. Dan ternyata hal itu memang terjadi, tidak selalu roda itu di atas terus, kadang juga di bawah. Dan percayalah, karma itu ternyata ada. Balasan akan segala perbuatan yang baik maupun yang buruk. Tidak perlu kita ikut-ikutan menghujat ternyata dengan kuasa pihak lain, tangan Tuhan menunjukkan kuasa-Nya.

So, my point is..if you must say..That’s It, Enough is Enough…just go ahead..don’t be afraid. God’s always be with good people..anyway..

Selasa, 29 Juli 2008

PICTURE PERFECT

Setiap manusia ditakdirkan untuk saling berpasangan sehingga tercipta suatu harmoni diantara mereka. Ketika Tuhan menyatukan dua insan, tidak seorangpun manusia yang dapat memisahkannya.

Anda percaya jodoh? Dulu waktu saya remaja, saya tidak begitu percaya. Rasanya kok too good to be true..Memang di dalam agama sudah tertulis bahwa yang namanya lahir, jodoh dan mati merupakan kekuasaan penuh Yang Di Atas. Tetapi ketika hal itu terjadi sendiri pada saya, mau tidak mau saya benar-benar percaya akan sejatinya perjalanan jodoh itu. Tidak mudah memang tetapi juga bukannya tidak mungkin.

Dari dulu, saya berharap bahwa jodoh saya adalah orang dari suku lain (saya keturunan Jawa-Minang) supaya bisa lebih tahu tentang Indonesia, selain itu orang tersebut dapat membimbing saya, mengatasi semua ketakutan saya dan benar-benar paham akan diri saya. Saya sendiri tidak yakin ada figur orang yang benar-benar memahami saya—karena saya merasa berbeda dari kebanyakan orang, terutama waktu itu teman-teman sekolah dan teman sebaya saya. Tetapi believe or not, ternyata orang itu memang ada, dan telah diset oleh Tuhan menjadi pendamping saya. Dan lucunya dia adalah teman saya satu angkatan—walaupun saya dan dia tidak pernah saling mengenal sebelumnya.

Ketika perjalanan jodoh saya sudah sampai, semuanya (kecuali berharap asal dari suku lain yang tidak terpenuhi) akhirnya menjadi kenyataan. Dan yang menjadi dasar kepercayaan saya akan jodoh itu ada adalah suami saya adalah teman seangkatan saya waktu SMP yang tidak pernah saya kenal sebelumnya bahkan ketika kami bertemu setelah 10 tahun kemudian. Kata Papa, itulah “retak tangan kamu” (garis tangan-takdir).

Saya dari mulai lahir sampai bekerja di Semarang, sementara dia sudah melanglang buana kemana-mana semenjak lulus SMP. SMA nya dia tempuh di Magelang (dia satu-satunya wakil dari SMP kami di SMA Taruna Nusantara), kuliah bahkan hingga S2 di Bandung sementara bekerja di Jakarta. Dia yang hampir tidak pernah pulang Semarang, kok ya pulang ke Semarang waktu kami bertemu untuk pertama kali. Saya jadi semakin yakin bahwa ada campur tangan Tuhan didalamnya.

Banyak teman SMP yang terbengong-bengong waktu mendapat undangan pernikahan kami atau mendengar kami bersama. Soalnya di SMP dulu, kami memang tidak pernah mengenal bahkan tidak pernah bertegur sapa. Saya orangnya serius, sementara dia lebih-lebih lagi, dobel serius… Memang kalau dipikir-pikir, too good to be true juga. Sahabat saya (selama 23 tahun hingga sekarang ini) yang mengenal kami berdua juga sangat kaget mendengar kebersamaan kami. Teman yang lain bilang, “Ketemu pirang perkoro kok iso dadi karo deknen?” (Ketemu berapa perkara kamu kok bisa jadian sama dia--ungkapan yang lazim diucapkan oleh orang Jawa kalau merasa keheranan, takjub dsb). Bisa dibilang kami malah mulus-mulus aja, tidak terlalu ada masalah berarti. Mungkin dia memang sudah jodoh saya sejak dari dulu, yang harus melewati puluhan tahun baru bisa ketemu.

Dan anehnya, memang setelah bersama dengan dia terutama semenjak menikah rasa-rasanya saya menjadi semakin berani. Bayangkan, saya yang dari dulu berkutat di Semarang, mengambil lompatan yang jauh tak terduga untuk mengambil S2 bahkan sampai S3 di UI, di Jakarta, suatu tempat dimana dulu semenjak kecil saya benar-benar anti dengan daerah ini. Bukan apa-apa, tetapi berita yang negatif dan tiap kali datang ke Jakarta selalu pusing dan stres soal macet dsb.

Begitu juga harapan saya soal keliling Indonesia (minus Papua) akhirnya dapat terpenuhi walaupun suami bukan dari suku lain, karena suami bekerja di maskapai penerbangan maka tiap waktu kami dapat pergi dengan memanfaatkan fasilitas konsesi (tiket gratis atau potongan harga). Bahkan tanpa konsesi kemudian kami tetap melakukan perjalanan ke tempat yang hendak kami tuju. Saya yang dulu rasanya selalu enggan untuk melakukan perjalanan jauh karena terbayang bagaimana ribetnya, repotnya melakukan persiapan, dengan adanya suami (yang semenjak SMA nya yang semi militer tersebut terbiasa packing secara ringkas dan praktis) berani untuk melakukan perjalanan semi back-packer. Hanya dengan membawa satu ransel untuk kami berdua dan keliling kota dengan menggunakan angkot. Bahkan ketika mencari makanan khas, oleh-oleh atau souvenir tertentu di suatu daerah.

Ketika orang sering menyebut tentang soul mate (belahan jiwa), sepertinya itupun yang saya rasakan terhadap suami saya. Beberapa hal jika ditanyakan pada suami saya maka jawaban yang sama akan meluncur dari saya. Banyak pandangan dan penilaian terhadap sesuatu hal hampir bisa dipastikan sama. Ketika satu orang tidak ada, maka yang lainnya akan merasa kehilangan. Bukan kami tidak ada perbedaan, bahkan banyak perbedaan diantara kami tetapi kami merasa perbedaan itu bukanlah untuk digembar-gemborkan tetapi adalah untuk saling melengkapi dan memperkaya kehidupan kami dalam berumahtangga.

Picture perfect—pada dasarnya tidak ada satupun manusia di dunia ini yang sempurna. Bahkan dari ketidaksempurnaan itu merupakan gambaran betapa perfect-nya dunia ini dimana kita masing-masing dapat saling menghargai, toleransi, menjaga, melengkapi dan memperkaya. Bayangkan saja jika Indonesia ini hanya terdiri satu suku saja, satu budaya, rambutnya keriting semua, kulitnya kuning semua..ah betapa bosannya wisatawan yang datang, hanya satu hari datang, sudah habis yang akan dilihat..Justru dari perbedaan itu muncul suatu peluang modal untuk membangun. Begitu juga dengan rumah tangga..

LULLABY

Lullaby and good night..with roses delight..with an angel in star…They will guard the from harm…etc..etc.. Anda tahu lagu Lullaby? Lullaby adalah lagu nina bobo untuk anak-anak. Menurut saya pribadi, lagu ini sangat meneduhkan, menenangkan dan cocok dengan kebutuhan anak kecil yang akan berangkat tidur. Lagu ini sangat syahdu, syairnya tentang guardian angel yang akan selalu menjaga mereka selagi mereka tidur.

Saya sendiri memiliki pengalaman yang mengesankan terkait dengan lagu Lullaby tersebut. Saya masih ingat hari itu, tanggal 4 Januari 2005 pukul 07.00 di pagi hari. Hari itu merupakan salah satu hari besar bagi saya karena saya akan melahirkan anak saya yang pertama di RS St Elisabeth, Semarang.

Saya harus menjalani operasi caesar, dimana seumur-umur usia saya saat itu (selama 27 tahun), baru kali itu saya menjalani operasi. Sebelumnya sama sekali belum pernah. Sampai tante saya yang menjenguk bilang, “Kasihan Puti, seumur-umur tidak pernah operasi, sekali melahirkan harus operasi”.

Menghadapi operasi, saya merasa biasa-biasa saja, tidak ada perasaan takut atau apa. Saya pikir yang harus terjadi ya terjadilah..Bahkan ketika masuk rumah sakit sehari sebelum dioperasi, saya sempat ditanya suster apakah akan dibius epidural atau total. Saya sendiri bilang terserah, baiknya bagaimana. Saya sama sekali tidak mengira kalau dengan dibius epidural, jika tidak siap melihat darah, misalnya, bisa membahayakan karena tekanan darah dapat naik-turun dan berbahaya. Untunglah, dokter anestesi saya (Profesor Naryo, beliau yang menangani sendiri) waktu itu sebelum operasi, menjenguk saya di kamar dan memberikan penjelasan pada saya sehingga sayapun mengambil keputusan untuk dibius total karena bagaimanapun juga saya tidak siap melihat darah.

Proses kesakitan sudah dimulai ketika harus dipasang kateter di lubang kencing. Saya sampai menangis dibuatnya. Kemudian ketika dibawa ke ruang operasi, suasana dingin menyergap karena pengaruh AC yang sedemikian dingin dan ruangan operasi yang rasanya, menurut saya waktu itu berwarna biru. Tidak tahu apa yang menyebabkan saya merasa demikian.

Ketika sampai di ruangan operasi di lantai dua dengan melewati lift, saya baru kali itu melihat ruangan operasi dan segala macam peralatannya. Sampai kemudian, saya dihampiri dokter anestesi saya, Prof Naryo dan diajak mengobrol. Beliau sangat kebapakan dan mungkin karena sudah berpengalaman, mengetahui keresahan saya sehingga saya terus diajak mengobrol.

Saya ditanya siapa dokter kandungannya, ketika saya jawab, “dokter Lilien” beliau langsung bilang, kalau dokter Lilien biasanya datang tepat waktu. Saya sempat tanya kok biusnya masih belum bekerja, beliaupun dengan sabarnya menjelaskan hingga dokter Lilien datang. Ketika dokter Lilien menyapa saya, “Selamat pagi Bu Puti..” tahu-tahu saya sudah tidak sadar…(saya sampai sekarang masih heran, kok ya bisa pas waktunya).

Sewaktu saya sadar, saya sama sekali tidak ingat kalau waktu itu saya habis melahirkan. Pengaruh bius yang sudah mulai hilang sedikit demi sedikit, membuat segala rasa sakit yang tidak terperikan mulai timbul. Pandangan saya yang masih kabur hanya melihat seliweran orang-orang yang memakai baju operasi, semuanya serba biru. Kemudian baru saya tahu kalau saya berada di ruang pemulihan. Di samping saya, ada seorang ibu yang sepertinya masih belum sadar, entah habis operasi apa (kemudian juga, saya tahu kalau ibu tersebut habis operasi gigi). Antara sadar dan tidak, saya tanya pada perawat yang lewat, anak saya laki-laki apa perempuan, sehat tidak, lengkap tidak dan dijawab oleh seorang perawat laki-laki kalau anak saya perempuan, sehat dan lengkap. Waktu itu rasanya sangat lega…tetapi sakit ini makin menjadi-jadi..

Perasaan saya waktu itu mengharu-biru dan ditambah rasa sakit, membuat air mata terus mengalir.. Para perawat yang ada sampai bingung kok saya masih menangis. Sampai kemudian Prof Naryo datang lagi menghampiri saya dan bilang kalau dia sudah banyak memberikan bius pada saya sehingga tidak bisa memberikan bius lagi, karena kalau ditambah lagi, bisa-bisa kelebihan dosis. Rupa-rupanya tubuh saya termasuk “liat” sehingga perlu bius yang lumayan banyak.

Saya kemudian minta ketemu dengan suami dan keluarga saya, tetapi perawat-perawat itu bilang, “Belum boleh ibu, ibu tunggu dulu sampai benar-benar sadar”. Kata-kata “belum boleh” itu semakin menekan perasaan saya yang waktu itu sudah benar-benar tidak karuan.

Di saat-saat yang sangat menekan dan membuat sedih itu, percaya tidak percaya, waktu itu saya mendengar rasa-rasanya ada yang bersiul menyanyikan Lullaby. Saya tidak tahu siapa karena tidak ada yang berada di dekat saya. Tapi siulan itu terasa sangat dekat dan membantu saya, karena saya tanpa disadaripun ikut menyanyi mengikuti siulan tersebut. Sampai akhirnya hati ini berangsur tenang, rasa sakitpun teralihkan hingga kemudian suara itu kemudian sayup-sayup hilang. Dan karena sudah sadar, sayapun dibawa keluar menuju kamar saya.

Berbulan-bulan sejak itu, saya masih terkenang akan Lullaby. Ketika Mama saya beli kaset yang didalamnya ada lagu tersebut, saya baru mengerti akan maknanya. Tentang malaikat-malaikat penjaga yang akan selalu melindungi. Apakah mungkin waktu itu malaikat penjaga saya yang menenangkan saya? My guardian angel? Wallahualam Bisawab…Allahu Akbar, Tuhan benar-benar Maha Besar…

SEE..? I’VE TOLD YOU SO

Benar kan? Apa kubilang? Ih… saya benar-benar sebel, bahkan jengkel ketika harus mengucapkan kata-kata itu. Apakah sering saya mengucapkan kata-kata itu? Wah…ngga kehitung. Biasanya ya itu kalau kita sudah ada “feeling” atau “intuisi” , hal ini biasanya muncul dari lubuk hati yang paling dalam dan berfungsi untuk melindungi kita dari kesalahan, kekecewaan atau yang lebih parah lagi.

Kadang-kadang tanpa kita sadari, conscience, hati nurani atau apalah itu, sudah mengirim sinyal kepada kita tentang sesuatu. Entah baik atau buruk, tentang seseorang atau sesuatu hal. Tetapi kadang-kadang kita memilih untuk mengabaikan bahkan meniadakan. Manusiawi memang, tetapi kembali lagi tergantung apa permasalahannya. Setiap orang memiliki conscience seperti halnya moral, tergantung apakah orang itu akan mengabaikan atau menggunakannya dengan baik untuk tujuan yang baik atau sebaliknya.

Berkali-kali perasaan saya tentang seseorang itu selalu benar, bahkan sebelum saya mengenalnya. Bukan berarti kemudian, saya adalah cenayang, yang tahu sebelum terjadi. Saya pikir, setiap orang dapat merasakan conscience-nya tergantung kepekaan masing-masing, dan yang terpenting adalah kemauannya untuk merasakan atau mengabaikan. Seringkali conscience itu terpatahkan oleh anggapan umum atau kenyataan waktu itu dan yang paling sering adalah pandangan atau pendapat pihak-pihak atau orang yang kita hormati atau segani.

Pernah, saya harus mengabaikan conscience itu karena ada pendapat orang, orang yang saya hormati. Saya waktu itu malah jadi berpikir, mungkin saya terlalu berprasangka. Ah..saya kok waktu itu jadi merasa menjadi orang yang jahat sedunia, karena berani “menghakimi” orang (padahal masih di dalam hati, jadi yang tahu hanya saya seorang). And you know what? Damn…, I was right.. Conscience saya berteriak pada saya..See? I’ve told you so…

Hal diatas adalah pertempuran saya dengan conscience saya. Masih lebih ringan karena hanya dealing dengan diri sendiri. Tetapi yang urusannya berkaitan dengan orang lain biasanya jauh lebih berat. Sering terjadi adalah pertempuran saya dengan orang-orang terdekat saya tentang seseorang (kebanyakan menyangkut orang sih, soalnya kalau sesuatu kan tidak terlalu signifikan atau “berulah” seperti manusia).

Saya ngotot karena saya merasa sayang dengan orang-orang dekat saya tersebut. Saya tidak rela kalau mereka terluka oleh orang lain, yang jelas-jelas saya sudah “rasakan” pada orang tersebut. Ketika hanya kita yang merasa seperti itu, tentunya butuh effort yang sangat besar untuk tetap teguh dengan pendirian kita.

Perasaan yang hadir memang tidak dapat digambarkan oleh kata-kata secara konkrit. But, somehow I knew that I was right..Tetapi sekali lagi, karena pendapat, pandangan dari orang-orang yang saya hormati pendapatnya mengatakan, “Ah..ngga mungkin..saya kan tahu dia..wong dia penampilannya seperti itu..and bla..bla..bla.. “(Ini semakin menguatkan Don’t ever judge book from its cover, looks can deceive), Ya sudah, saya tunduk, mungkin saya yang salah...saya terlalu berprasangka..etc..etc..Guess what?…Tuhan Maha Pengasih…Dia tahu saya tidak serendah itu, saya bukan tipe orang yang sejelek itu berprasangka. At the end…Dia tunjukkan kuasaNya, mungkin lewat pihak lain bahwa saya benar..

Ada satu kasus yang benar-benar telah melelahkan saya secara psikis. Saya tidak peduli dengan yang bersangkutan tetapi orang itu telah melibatkan orang-orang terdekat saya. Ya sudah, insting warrior saya mulai terusik.. Ya saya akan bertindak kalau menyangkut orang-orang yang saya cintai, whatever happened. Dan bagaimanapun…kebenaran akan selalu muncul, entah itu sooner or later, tetapi hal itu akan selalu terungkap. Trust on me…Never ever ignore your conscience…deep inside you’ll know that it’s always right..so you’ll never regreted in the end..

Jadi jangan lagi seperti saya, yang selalu diteriakin…SEE…,I’VE TOLD YOU SO…

LIFE IS SO FRAGILE

Setelah usia bergerak dewasa, saya merasakan bahwa mata ini seringkali berair. Mata yuyu, orang Jawa bilang yang artinya mata kepiting. Sering merasa tersentuh oleh berbagai peristiwa sehingga menyebabkan air mata. Benar..banyak peristiwa yang seringkali membuat sedih bahkan membuat menangis.

Saya masih ingat ketika dulu SMA kelas 3, ada siswa baru yang akan datang, tetapi masih dalam kondisi sakit sehingga harus pindah dari sekolahnya dulu, yang kebetulan memang sekolah terpandang di Indonesia dimana seleksinya sangat ketat. Namanya Gabriel Probo (setelah saya menikah, saya baru tahu kalau ternyata dia adalah kakak angkatan suami saya, yang sama-sama dari Semarang).

Walaupun namanya sudah ada di daftar absen (kebetulan waktu itu saya sebagai sekertaris di kelas saya) tetapi sang teman tidak pernah kunjung datang. Waktu itu, wali kelas saya bilang dia sakit leukemia dan masih berobat bolak-balik ke rumah sakit. Saya sempat datang ke rumah sakit, tempatnya dirawat inap tetapi yang bersangkutan masih tidur sehingga saya dan teman saya hanya bisa melihat dari luar kamar dan berbincang dengan kakak perempuannya. Kakaknya bercerita, betapa adiknya itu memiliki semangat yang tinggi untuk sembuh dan bisa bersekolah lagi dan betapa keluarga mereka berusaha mati-matian untuk mengobati Gabriel (waktu itu kami berdua memanggilnya, bahkan teman saya memanggilnya “Bobo”, ternyata menurut suami, panggilan di SMA adalah “Probo”).

Sampai suatu hari, harapan Probo untuk bersekolah pupus sudah. Yang Maha Kuasa telah memanggilnya untuk meringankan penderitaannya. Saya merasa sangat kehilangan (walaupun sama sekali belum pernah mengenalnya, hanya pernah melihatnya tidur dari luar kamar), saya sangat menyayangkan kepergiannya yang begitu dini, di tengah semangatnya untuk kembali bersekolah dan juga semangat orang tuanya untuk memperjuangkan kesembuhannya. Mengapa Tuhan mengambilnya? Sementara banyak sekali orang-orang muda, tunas-tunas bangsa yang menyia-yiakan kehidupannya bahkan menjadi beban orang tua dan bangsa ini. Mengapa bukan mereka saja?

Waktu itu, saya yang masih sangat muda, masih sweet seventeen, masih sering bertanya-tanya tentang hal itu…bahkan sampai sekarang. Mungkin banyak yang bilang, kamu masih SMA, having fun aja, kenapa memikirkan yang tidak ada hubungannya dengan kamu? Tidak tahu, dari dulu mungkin saya memang serius, makanya mungkin tidak cocok dengan kebanyakan anak SMA waktu itu banyak yang doyan hura-hura, main-main.

Bahkan di hari pemakamannya, saya bisa melihat betapa rumahnya sangat sederhana dan sesuai dengan cerita kakaknya bahwa orang tua mereka sudah habis-habisan. Mebel di rumah mereka sudah banyak yang dijual untuk menutupi biaya pengobatan. Saya tidak bisa melihat wajahnya karena ketika kami datang melayat, jenasahnya sedang didoakan menurut Katolik, agama yang dianutnya.

Ketika teman-teman saya banyak yang tidak begitu peduli (pada akhirnya memang mereka tidak dapat saya salahkan sepenuhnya karena pada dasarnya mereka memang tidak mengenal Gabriel dengan baik), saya yang berdiri di bawah pohon depan rumahnya, berkali-kali menyusut air mata yang selalu jatuh berderai, mengenang seorang teman yang bahkan tidak pernah saya kenal sebelumnya..mengenang semangatnya untuk sembuh dan sekolah.. Bahkan hingga seminggu setelah pemakamannya, sebelum tidur malam, saya masih menangisi dan tidak lupa untuk selalu mendoakannya..meminta Tuhan untuk selalu menjaganya…Padahal I barely didn’t know him

Semenjak itu, saya menyadari bahwa kehidupan ini sangatlah rapuh. Life is so fragile.. Kita tidak pernah tahu rencana Tuhan akan kehidupan kita. Yang bisa kita lakukan adalah berbuat sebaik mungkin yang kita bisa dan selalu memasrahkan segala usaha kita kepada Tuhan, karena Dia-lah pada dasar sang empunya kehidupan. We must try and do ourbest and let God does the rest…

STOCKHOLM SYNDROME

Saya tahu tentang Stockholm Syndrome tidak terlalu lama terutama semenjak kuliah S3. Banyak hal yang terkait dengan Stockholm Syndrome terutama tentang manusia dan hubungannya dengan manusia lain. Stockholm Syndrome adalah sindrom seseorang yang membelenggukan diri dengan penyandera – bisa tanda kutip pada kata penyandera.

Masih ingat film James Bond “The World is Not Enough” ? Di film itu ada tokoh yang bernama Elektra King yang anak seorang triliuner minyak dunia dan ayahnya merupakan teman dari M, atasan Bond. Elektra adalah contoh paling jelas tentang kasus Stockholm Syndrome.

Elektra ketika remaja diculik oleh penjahat, yang pada akhirnya malah mencintai sang penculik, dan marah kepada ayahnya yang sepertinya tidak peduli – dan di akhir cerita terungkap bahwa yang mengotaki pembunuhan ayahnya dan master mind dari segala konspirasi tersebut adalah dia, Elektra.

Bond dan M yang awalnya terenyuh dengan penampilan Elektra, yang terlihat rapuh dan tidak berdaya dan bertindak melindunginya sontak kaget melihat sosok yang beringas dan menyimpan dendam bahkan memanipulasi sang penculik yang menjadi kekasihnya untuk melakukan apapun yang dimintanya termasuk mengorbankan dirinya.

Sekarang yang menjadi pertanyaan, apakah itu tidak ada di Indonesia? Jawabannya ternyata banyak, tentu saja tidak seekstrim Elektra tetapi simpul kasusnya hampir sama. Hal ini ternyata banyak dialami oleh wanita, yang secara struktur sistem masyarakat kita berada di posisi subordinat.

Sekarang ini banyak kasus KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) yang terjadi di Indonesia. Kekerasan itu tidak hanya berbentuk fisik tetapi juga psikis. Dengan berkembangnya jaman, posisi tawar wanita sekarang semakin tinggi. Sudah banyak wanita yang mengisi posisi puncak dalam instansi tempatnya bekerja. Tidak sedikit pula masalah yang terjadi dengan maraknya dengan kenyataan tersebut.

Stockholm Syndrome terjadi karena banyak wanita pula yang menemui adanya fenomena glass ceiling, setinggi apapun yang selalu ada saja hambatan yang “kasat mata” – sehingga diumpamakan sebagai atap kaca, karena kita dapat melihatnya tetapi seakan-akan susah untuk menjangkaunya.

Lagi-lagi, masalah yang sama dan klasik yaitu urusan domestik rumah tangga, keluarga dan anak. Dan parahnya lagi, yang membuat segalanya memburuk juga berasal dari kaumnya sendiri, sesama wanita, entah itu tetangga, keluarga, teman kerja atau siapapun yang merasa iri akan keberhasilan kaumnya. Sangat dimengerti, tingkat kecemburuan wanita terhadap wanita biasanya lebih tinggi dibanding terhadap pria. Pria sukses di karir itu biasa, kalau wanita bisa jadi berita..

Sindrom mulai terjadi ketika wanita mulai “mengalah” atau takut menjadi sorotan kalau berhasil. Ketika mengambil peran tidak berdaya (seperti banyak stereotip tentang wanita), maka sang wanita mengambil sikap dependen terhadap sosok yang lebih memiliki power (dalam hal ini si pria), dan terjadilah Stockholm Syndrome tersebut.

Saya jadi ingat suatu kasus. Ada seorang wanita, sebut saja W. Dia anak bungsu, seorang sarjana dan pegawai negeri. Sampai usia yang hampir mendekati setengah abad, dia masih single. Ketika ada upaya untuk mencari jodoh lewat seseorang yang memiliki kemampuan spiritual (sebut saja F) ternyata W ini dalam rentang waktu yang cukup lama, jatuh cinta pada F. Dari pihak keluarga W mengecap bahwa F yang “menguna-gunai” W sehingga W seperti lupa daratan. Apalagi sosok W yang sepertinya rapuh, tidak berdaya dsb. Sementara F seperti gold-digger, pencari wanita-wanita bekerja yang dapat dikibuli untuk diperas uangnya. Status F sendiri juga menikah dengan anak yang banyak.

Ingat kan seperti siapa kasus W di atas? Benar, mirip banget dengan Elektra. Kalau anda sendiri mengikuti kasusnya, andapun akan mengira sama seperti banyak “penonton” lain. Ketika saya menelaah lebih lanjut, sampailah saya pada kesimpulan Stockholm Syndrome tersebut. Kemudian saya ingat ulasan Monty Setiadharma di Femina dimana kebetulan latar belakang W semenjak dulu sangat bergantung pada ayah dan kakak-kakaknya. Tidak pernah benar-benar mandiri.

Sosok F yang gold-digger, saya pikir tidak perlu dibahas karena ternyata banyak korbannya yang dapat lepas. Ketika kekuatan yang bukan kekuatan Tuhan beraksi, hal tersebut akan ada limitnya karena yang abadi hanya yang berasal dari Tuhan. Jadi “hal itu” akan ada batas expired-nya, akan tetapi ketika “hal itu” masih berjalan bahkan setelah sepuluh tahun berjalan maka yang terjadi adalah Stockholm Syndrome.

Saya bukan seorang feminis sejati tetapi saya juga paling benci ketika orang, tidak peduli wanita atau pria sudah “kalah sebelum berperang”. Yang penting adalah usaha kita. Nasib kita bukan orang lain yang menentukan tetapi kita sendiri, tentunya dengan perkenaan ijin Tuhan.

Orang sering mendramatisasi dirinya seakan-akan dirinya itu yang paling menderita, penderitaan orang lain tidak apa-apanya. Padahal banyak orang yang menderita tetapi tidak pernah mau menyerah, selalu berusaha bahkan untuk kehidupan yang lebih baik. When there is a will, there is a way…

Orang harus mempunyai tujuan yang jelas dalam hidup, sehingga dalam perjalanan hidupnya yang berliku itu dia tetap fokus terhadap tujuan hidupnya. Ketika dia tidak memiliki purpose of life, guess what..? You’ll know when and where there’s end up…