Rabu, 10 Desember 2008

LOST IN SINGAPORE

Perjalanan pertama saya ke luar negeri adalah Singapura dan Malaysia (lebih tepatnya Johor Bahru). Berdasarkan info dari internet dan teman yang tinggal/sudah pernah ke sana. Kepergian ke Singapura hanya satu hari kemudian kami lanjut ke Johor, yang letaknya dekat dari Singapura.

Saya dan suami terus terang tidak terkesan dengan Singapura. Banyak hal seperti harga yang lebih mahal daripada Malaysia, sulitnya mencari makanan yang halal di sana, perilaku warganya yang lebih banyak indifferent pada orang asing (atau lebih tepatnya dengan Melayu / Indonesia, yang mungkin identik dengan tenaga kerja kasar di sana). Rasanya selama putar-putar itu, jarang sekali orang yang terlihat tersenyum, ramah dan terbuka. Mereka rata-rata seperti orang autis, hidup di dunianya sendiri dan seperti “robot”. Memang ada sih beberapa yang lumayan ketika ditanya kami tetapi kebanyakan ya itu..kurang semanak (kalau dalam bahasa Indonesianya kurang lebih ya hangat, ramah, bersahabat). Langsung aja deh kita ngacir ke Johor, cari atmosfer baru yang terasa lebih beda.

Di Singapura, kami kebanyakan memakai MRT (Mass Rapid Transport-semacam kereta api cepat, yang ternyata tidak ada masinisnya, murni memakai teknologi) dan bus (semacam busway tapi lebih lapang). Kalau tidak ya jalan kaki aja..putar-putar. Kebingungan pertama sudah mulai ketika kami masuk ke Harbourfront, Singapura. Masuk ke imigrasi, cap stempel dan ini dia..ke down-town, waktu itu kita masih bingung mau naik MRT/bus. Sampai akhirnya pilihan ke MRT, karena paling tidak kita sudah punya peta (dapat dari teman kantor suami, yang orang Singapura). Masuk ke stasiun MRT yang lokasinya di sub-way sudah bikin panik (sedikit sih, karena kita sih sudah pernah keliling Indonesia dan bertemu banyak orang asing). Mana eskalator ke bawahnya sangat cepat dibanding eskalator-eskalator yang ada di Indonesia.

Untuk dapat masuk MRT, selain tahu rutenya, kita juga harus beli tiketnya di mesin (namanya kartu EZ Link). Untuk yang baru pertama kali jelas panik, untungnya di dekat mesin yang mirip mesin ATM tersebut ada petugas-petugas yang siap membantu. Siap-siap dengan bahasa Inggris yang ajaib-ajaib (maklum kebanyakan dari mereka dari etnis Cina, yang terkadang Inggris-nya masih kental dengan logat Mandarin dan diucapkan agak cepat). Ada juga yang orang India, yang biasanya lebih tidak ramah. Kami ketemu orang ini ketika tanya arah dari MRT yang kami maksud. Hampir tidak mengeluarkan suara, mukanya sama sekali tidak ramah, hanya kepalanya yang dia anggukkan ke kanan/kiri, kaya mainan anjing-anjingan di dashboard mobil.

Mungkin kelebihan Singapura dibanding Indonesia adalah di sini, infrastruktur yang sangat memadai. Cepat, pasti dan terintegrasi. Peraturannya yang ketat tidak memungkinkan adanya pelanggaran seperti dilarang makan dan minum di MRT, dilarang buang sampah sembarangan. Di stasiun hampir tidak ada tempat sampah jadi tidak ada alasan buang sampah. By the way, untuk masalah buang sampah ini ternyata tidak terlalu berlaku di daerah-daerah kantong pemukiman seperti di Little India, Bugis Street yang ternyata ditemukan beberapa sampah. Untuk yang lainnya, saya pikir hampir sama ya dengan Indonesia. Indonesia tidak kalah dengan mereka. Macam shopping centre di Orchard Road (favorit belanja orang-orang berduit dari Indonesia). Banyak juga mall di Indonesia yang sebesar dan semegah itu.

Lalu lintasnya dibilang teratur banget ya nggak juga..Karena kepemilikan mobil pribadi dibatasi dan sulit, mobil di sana kalau jalan, kenceng-kenceng. Kalau di perempatan untuk belok, mereka dengan tenangnya tidak mengurangi kecepatan. Cuma untuk pejalan kaki memang terjamin banget, kalau menyebrang di tempatnya, ada sign hijau untuk boleh menyebrang. Di jalan-jalan kecil yang tidak ada traffic lightnya, mobil yang akan melintas harus menunggu sampai pejalan kaki sudah menyebrang.

Untuk yang lain-lain, saya pikir di Indonesiapun ada. Di Little India mungkin hampir seperti wilayah di kota Medan yang banyak orang Indianya. Begitu juga di Bugis Street. Makanan, pernik-pernik yang dijual, di Indonesiapun banyak dan mungkin lebih murah. Mereka tidak memiliki masakan/makanan khas. Adanya hanya Chinnese Food (yang lebih banyak tidak halalnya, karena mereka kebanyakan pakai minyak babi kalau tidak daging babi), masakan India (ini dia yang kami nggak berani coba..takut selain halal/tidak, kayaknya rempahnya cukup kuat, takut kalau perut gak kuat). Gak lucu juga sakit perut di negeri orang.

Masakan Malaysia (ini yang akhirnya setelah lama berpusing-pusing ria, ketemu nasi lemak). Ini dia yang mungkin bagi orang Semarang, agak menaikkan alis karena sebal, di sana ada lumpia (mereka namakan popiah) yang rasanya jauh dari lumpia Semarang. Nasi lemak (rasanya gurih, kalau menurut saya sih cenderung eneg), macam nasi uduk Betawi atau nasi gurih, nasi liwet kalau di Solo. Lauknya ada ayam goreng, teri goreng dan kacang goreng, telur dadar dan beberapa jenis lauk tergantung paket. Nasi lemakpun pernah kami temui di Palembang dan Jambi, bahkan ada yang menamainya nasi minyak.

Yang heran adalah hampir beberapa orang Singapura kita tanya soal Merlion selalu bingung. Heran kan? Tadinya kami pikir karena pronouncision kami tapi kelihatannya tidak. Baru ketika dijelaskan soal Lion Statue baru ngeh..Dobel heran lagi ketika ditanya soal restoran Chinnese sebelah mereka tinggal (di tempat kami menginap), mereka tidak tahu sama sekali soal tetangga mereka. Agak keterlaluan sih…bener-bener kayak orang autis..Di tempat kami menginap, di jalan Besar, daerah Little India, banyak juga café-café pinggir jalan (kebanyakan masakan North Indian), selain itu juga ada…Thai Massage…lengkap dengan gadis-gadis pemijatnya yang seronok.

Untuk makanannya, ada pengalaman tak terlupakan. Dari browsing internet, kami menemukan Lucky Plaza di daerah Orchard sering sekali disebut untuk pencari makanan Indonesia karena disana banyak berkumpul TKI. Setelah ketemu Merlion, kemudian berfoto-foto dengan ‘Sir Stamford Raffles’ termasuk latar belakang Esplanade Theatre dan Fullerton Hotel, kami langsung mencari bus ke Lucky Plaza.

Setelah tanya-tanya dengan supir bus yang lumayan informatif (sopirnya bapak-bapak sudah tua dan masih ganteng) dan secara kebetulan (mungkin ini yang dinamakan jalan Tuhan) kami bertemu Bu Anis, TKW yang sudah 6 tahun bekerja di Singapura. Beliau ikut dengan majikannya yang orang Indonesia yang membeli rumah di kawasan Marina Bay (anda tahu berapa harga rumah di sana? Menurut info dari orang Sin sendiri sekitar $SIN 10.000.000). Hebat kan orang Indonesia? Yang orang Singapura aja sudah ngos-ngosan beli apartemen yang sempit sampai diikuti dengan kerja keras dan hampir-hampir ngga punya keramahan karena selalu sibuk kerja eh…orang Indonesia enak aja beli properti di sana…Siapa bilang orang Indonesia miskin?

Kami diantar bu Anis ini sampai di depan rumah makan Indonesia di Lucky Plaza. Saya yang mengikuti dari belakang sempat santai aja waktu masuk Lucky Plaza. Ramai sekali, banyak orang lalu lalang dan rasanya parasnya mirip dengan orang Indonesia, Cuma yang saya agak terkesiap, banyak sekali diantara mereka yang berpakaian minim dan terbuka.

Masak sih orang Indonesia kok seterbuka itu? Memang di Singapura, banyak sekali wanitanya yang berpakaian minim, tahu-tahu bu Anis yang sudah jauh di depan saya menghampiri saya dan berbisik, “Hati-hati bu, disini sekarang sudah banyak Filipino”. Oh…ternyata yang dari tadi saya lihat itu tenaga kerja dari Filipina yang memang mendapat jatah libur hari Minggu dan kebetulan mereka banyak yang mengirim uang ke kampung halamannya. Menurut cerita dari internet dan teman-teman, TKI biasanya memang mangkal di Lucky Plaza, tapi kalo melihat cerita bu Anis, mereka sudah tergusur oleh tenaga kerja Filipina.

Sampai saya masih berpikiran baik, mungkin TKI-TKI kita sudah naik derajat karena kerja keras mereka sehingga mereka tidak lagi nongkrong di Lucky Plaza, tapi di tempat lain. Soalnya rasanya nggak tega melihat mereka yang sudah berani mencari uang di luar negeri, mencari sesuap nasi dengan meninggalkan negeri tercinta dan seringkali mendapat perlakuan kurang manusiawi baik dari bangsanya sendiri maupun dari bangsa lain masih harus tersingkirkan oleh bangsa lain.

Sudah sepatutnya pemerintah yang terkait memikirkan masalah ini dan mereka yang sudah kaya turut membuka hati untuk turut membangun dalam negeri, tidak hanya membuat rumah atau shopping di luar negeri. Itulah pemikiran saya, seorang half back-packer, yang pergi ke luar negeri dengan biaya sendiri, tabungan kami (bukan karena dinas apalagi dari uang rakyat) untuk melihat sekelumit kehidupan anak bangsa di rantau orang.

ONE NIGHT AT MALAYA

Ketika kami akan ke Johor lewat darat, banyak yang bilang di sana agak danger. Hal itu disebabkan posisi Johor yang dekat dengan Singapura dan tempat bertemunya para pekerja kasar asing. Yang namanya perbatasan, tempat bertemunya orang-orang dari luar yang belum tentu baik semua dan kebanyakan mereka yang mungkin tidak tertampung di Singapura, tentunya menimbulkan persepsi negatif tersendiri. Tetapi terkadang memang tergantung perspektif yang bersangkutan. Seperti kami, beberapa tempat di Indonesia yang menurut pandangan sementara orang negatif tetapi ketika kita sendiri jalani, juga tidak sepenuhnya benar.

Ketika kami ke Palu dan Ambon bahkan papa saya sendiri bilang, “Ngapain ke sana, tempatnya bahaya, rusuh..”. Menurut kami, ya.. sebelumnya harus cari informasi tentang tempat itu di internet dan media massa. Apalagi waktu itu Trans TV seringkali menayangkan liputan tentang tempat-tempat menarik di Indonesia, tidak hanya tempat wisata alamnya saja tetapi juga wisata kota.

Ketika browsing internetpun ternyata banyak orang yang telah melakukan perjalanan seperti kami, mungkin untuk perjalanan dinas, pekerjaan atau mengunjungi famili. Tetapi seperti kami yang melakukan perjalanan untuk mengenali negara kami sendiri secara lebih intim? Mungkin ada ya.. but not much..Mereka mungkin prefer pergi ke luar negeri dengan segala tujuannya..rasanya mungkin tidak terlalu cool menjelajahi Indonesia dibanding luar negeri terutama buat gengsi.

Kembali ke Johor, kami melihat ada bus yang tujuannya ke Johor. Bus itu yang berhenti di Queen Street, kebetulan tidak jauh dari hotel kaami di jalan Besar jika jalan kaki. Malam sebelum berangkat, suami saya survei di internet untuk mencari hotel di kota tersebut. Harganya tentu saja lebih miring dari Singapura. Akhirnya dengan ransel di punggung (suami saya tentu saja, saya nggak akan kuat berjalan dengan beban seberat itu di punggung, praktis ya..2 orang bawa hanya 1 ransel untuk kebutuhan).

Sampai di Queen St, kami mendengar ada orang yang berbicara soal Johor. Mukanya sih definitely Chinnese, ngomongnya Inggris. Jadi ..lumayan bisa ada yang ditanyain. suami Ketika suami tanya, dia bilang “Sorry, It’s been my 1st time too..” Terus dia ngeliat saya sambil terus ngobrol sama suami saya. Dia bilang mau ke tempat temannya di Johor. Saya yang kemudian ngeh pas waktu itu memakai kaos ITB, eh pada saat ngomong-ngomong, “By the way, where are you from?” tanya dia pada suami saya. Ketika suami saya bilang, “Indonesia” sontak dia bilang dengan bahasa Indonesia logat suatu daerah “Yah..ginilah kalo orang Indonesia ketemu orang Indonesia dan baru pertama kali pergi, tanya-tanya ya mana ada yang ngerti?” Kita langsung ngakak bareng. Ternyata orang itu orang Medan (sampai lupa tanya namanya), dia dari Penang mau ke Singapura dan balik lagi ke Medan tapi mau beli tiket di Johor karena dihitung-hitung lebih murah jika beli di Johor. Bayangin dia naik bis dari Penang ke Sin hampir 9 jam.Apa nggak remuk ya badan? Tapi untungnya bisnya nyaman katanya.

Kebetulan bus kami datang, teman itu tanya, berapa harga tiket ke Johor. Di daftar itu ada 2 tempat di Johor tapi sudah beda 10 Cent. Yang satu Johor Junction (pas border-imigrasi) $ SIN 1.80 kemudian terakhir di Terminal Larkin $ SIN 1.90. Waktu itu kita pikir hanya sampai border saja karena menurut suami saya di internet bilang bahwasanya di border itulah jalan besarnya yaitu jalan Tun Abdul Razak yang banyak hotel tertera. Tetapi menurut teman kami tadi (yang mungkin memang ke down town, ketika tanya sopirnya yang orang India apa tidak lebih baik ke down town). Dia juga nawarin gimana kalo sharing cab (kongsi taxi). Kita yang waktu itu juga masih bingung ikut ajalah. Tapi pas di border, kita ternyata lebih cepat. Jadi ketika kita mau tunggu bus lagi, suami yang masih ragu bilang gimana mau disini atau di terminal? Saya lihat daerah itu sudah ramai. Ya sudahlah paling tidak kita tidak tersesat seperti di Sin kemarin (benar-benar bikin capek—cari-cari hotel gak ketemu-ketemu begitu juga makanan sampe lapar banget).

Kita terus jalan, cari Money Changer (MC), nukarin uang dulu. Kemudian cari hotel. Banyak cerita lucu ketika cari hotel. Pernah di sebelah MC itu sepertinya ada penginapan. Ketika suami nukarin uang, saya tanya pada yang jaga, dia bilang harganya 70 RM, ditunjukkin gambar kamarnya. Saya lihat kok agak suram ya? Saya ngga ‘ngeh’, ketika suami menghampiri, saya bilang cari lainnya dulu.

Waktu kita keluar dari tempat itu, baru ‘ngeh’ ketika tertulis “Rumah Tumpangan”. Tahukah anda maknanya? Kata teman suami yang pernah ke Mal, hal itu berarti hotel untuk transaksi seks, bisa juga untuk menginap tapi anda bisa bayangkan jika menginap di tempat itu? Makanya tadi di tangga, ada perempuan mengejar laki-laki sambil tanya,”Bagaimana..? Lagi tak?”. Laki-laki itu menggeleng dan bergegas pergi. Walah-walah..baru kali ini ada pengalaman seperti itu..Tetapi menurut saya sich ya fair enough,cukup fair, karena lebih jelas. Kalau ke sana ya berarti untuk transaksi “itu” walaupun bisa juga ke hotel lain yang lebih bagus dan tidak ada tulisan “Rumah Tumpangan”.

Ada lagi hotel yang memang jauh lebih murah tapi no breakfast, no TV, no towel, no soap dan banyak “no-no” yang lain. Saya yang waktu itu sudah mulai puyeng, malah jadi khawatir kalo tiba-tiba ada tulisan “no bedroom” tertulis tapi kita terselip tahu. Bayangin, mau nginap tapi kalo nggak ada kamarnya terus kita apa mau tidur di lorong? Akhirnya kita sampai di hotel JB (Johor Baru) yang bagus mungkin sudah level bintang 3 atau 4. Harganya 138 RM (include breakfast). Kita pikir pilih yang agak luxury dikit lah..mengingat “kesengsaraan” di Sin sebelumnya. Bayangin ya 138 RM dikalikan kurs rupiah waktu itu sekitar 3300 jadi sekitar Rp 454.400 ya setara kamar standar hotel bintang 3 atau 4 di Jakarta / Semarang.

Masih lumayan daripada $SIN 75 untuk kamar standar (standaaaar banget alias minimalis banget, showernya ngepas badan plus toilet, dipannya rendah banget praktis hanya kasur, AC pas nyentrong di kepala) sukses membuat masuk angin sehingga di Johorpun tak ayal ritual kerikan juga dimulai dan dobel sukses juga terjadi ketika hasil kerikan membuat line merah gosong di punggung dan leher, di lantai 4 tanpa lift alias krenggosan naik tangga. Benar-benar cocok bagi yang ingin membesarkan otot paha secara alami. Eh..si recepsionisnya seorang kakek yang sebenarnya lumayan ramah bilang, “Never mind…exercise…”sambil meragakan orang berolahraga, eh dianya nggak tahu kalo kita cari hotel aja, sudah berpusing-pusing ria. Harga yang dirupiahkan menjadi (dikalikan kurs waktu itu $SIN 1 ≈ Rp 8000) Rp 600.000. Bisa anda bayangin untuk kamar yang di Indonesia dapat sekitar Deluxe Room hotel bintang 5 kalo anda beli langsung di hotelnya, tidak lewat travel agent. Benar-benar bikin menggerutu sepanjang jalan…

Kami dapat kamar di lantai 19 dengan view Johor Junction yang indah terutama di waktu malam. Hotel itu juga cukup unik, no room boys. Room boy yang kita tahu hanya satu itupun merangkap stunt-man reception. Benar-benar efektif ya? Untung kita cuma bawa ransel, kalo tidak lumayan payah juga. Kamarnya luas banget cukup untuk 10 orang kruntelan tidur didalamnya dengan posisi seperti ikan pindang dijejer.

Sorenya, kita cari makanan, lewat sebelah hotel, ada yang jualan martabak yang baunya…bener-bener bikin perut keroncongan tapi karena barusan hujan, jadinya peminatnya banyak sampai meluber keluar. Ah, nanti dululah, jalan-jalan dulu terus waktu menyeberang jalan, persis di depan hotel itu mall yang lumayan besar termasuk cineplex-nya. Kita tadinya mau cari souvenir yang khas Malaysia, diberitahu orang hotel kalo di dalam mall ada yang menjual souvenir.

Mallnya bernama Johor Bahru Square. Hampir seperti mall Ciputra di Jakarta atau Semarang. Putar-putar kok gak nemu juga tokonya, ternyata tokonya tidak berjudul Souvenir Shop tapi malah Pewter Shop jadi ternyata si penjual tidak hanya menjual kaos-kaos dan souvenir khas Malaysia tapi juga menjual kerajinan dari bahan timah. Harganya sekitar 16-17 RM untuk 1 kaos, tapi masih bisa ditawar. Untuk tempelan kulkas sekitar 10 RM juga masih bisa ditawar. Kalo beli banyak bisa minta diskon.

Yang bikin sebal adalah si Malay ini benar-benar plagiat. Kaosnya ada yang bermotif dan bertuliskan “Malaysian Batik” yang dia bilang “nice”. Iya untuk dia, enak di elo, gak enak di gue donk…bisa dibayangkan kalo kita beli, orang-orang satu Indonesia akan ramai-ramai nimpukin kita. Begitu juga dengan kaos yang bertuliskan “Malaysian Primitive” yang meniru kaos-kaos Kalimantan (Borneo Primitive). Benar-benar nggak ada yang original mereka. Paling-paling yang bergambar menara Petronas. Makanya saya waktu membaca majalah menyebutkan kalau banyak pengusaha Indonesia yang memasok kerudung, jilbab ke Malaysia dan Singapura langsung laris manis. Bagaimana tidak, mereka sendiri tidak kreatif dan tekun kok..

Habis jalan-jalan, kita singgah di salah satu kedai yang dari kejauhan terlihat ramai. Kita pesan martabak (seperti martabak di Indonesia tetapi minus sayuran, ditambah kuah kari). Ada yang menggunakan daging ayam, ada juga yang daging kambing. Namanya Martabak Singapore. Kedai itu yang bernama Yemenian Café. Lagi-lagi seperti di Singapura, saya hanya bisa minum selain mineral water alias air putih juga milo. Yang berjualan sih orang-orang dengan tampang antara orang India dan orang Timur Tengah. Tetapi pas bayar, kasirnya sangat ramah. Dia sering senyum dengan mengayun-ayunkan tangan dan kepala seperti orang India.

Waktu malamnya kami cari makan di kedai kaki lima yang banyak menjual makanan dalam bentuk kelompok, jadi semacam “jalur makanan” dengan konsep tenda dan open air seperti yang ada di Melayu Square di Tanjung Pinang, Peunayong di Banda Aceh dan Merdeka Walk di Medan. Mereka menjual aneka makanan dan minuman khas daerah itu juga dari daerah lain. Seperti sop kambing yang lengkap dengan segala jerohannya tapi dengan kuah yang sangat kental. Ada juga masakan Indonesia, lagi-lagi seperti juga di bagian Indonesia lain, orang Jawa Timur dengan segala penyetannya (ayam, ikan, tempe dan lain-lain) beberapa kali kami temui di Johor maupun Singapura. Sea food ala Chinnese food, but you believe or not masih enakan yang di Tanjung Pinang (dengan gong-gongnya). Roti jala, laksa dan lain-lain yang sebenarnya di Indonesia juga banyak dengan segala variasinya. Restoran Padang juga ada di dekat hotel kami tapi kami kok pengen mencoba yang lain daripada yang lain, apalagi ini kan di Johor, masih banyak makanan yang halal. Akhirnya pilihan kami pada sop kambing, karena masih mind set di Indonesia, kuah yang saya campurkan cukup banyak sehingga rasanya agak eneg, ngga habis, terpaksa deh suami “turun tangan’ untuk menghabiskan.

Setelah makan, kami masih sight seeing sekitar hotel dengan jalan kaki. Pada salah satu blok ketika kami jalan, ada beberapa anak muda India yang bergerombol, kalau sudah kayak gini sih mending cari jalan yang lain. Itulah yang dinamakan Smart Travelling. Kalau sudah ragu ya jangan diterusin, belum berarti semuanya itu benar, bisa saja mereka cuma anak muda yang berkumpul tapi safe is safe ya jangan dilewati, daripada menyesal kemudian. Lalu kita coba lihat lagi di bordernya, lihat bus yang akan kita naiki besok untuk pulang ke Singapura.

Benar-benar semalam di Malaysia. Besok paginya, jam 7 waktu Johor, kami melanjutkan perjalanan pulang lewat Singapura dengan bis yang sama seperti waktu kami datang. Percaya atau tidak, ketika orang di Singapura bisa tertib, mengantri, ketika di Johor mulai keluar sifat aslinya ‘tidak mau mengalah”. Mereka berjubelan bahkan melebihi ketidakdisiplinan orang di Jakarta, hanya saja yang “supervisor” di bus yang bersangkutan sangat “strict” sekali dan tidak bisa disuap dengan uang atau rokok. Jadi, kalau sudah benar-benar penuh, yang lainnya harus menunggu bus selanjutnya. Dan yang bikin aman lainnya adalah…tidak ada calo…padahal penumpang yang komuter kelihatannya banyak juga, bayangkan kalau ada pungutan-pungutan liar seperti itu, habis berapa mereka…

Ah, I wish Indonesia bisa seperti itu, semoga program polisi berantas preman akan selalu kontiniu. Kalau soal infrastruktur dan “pungli-pungli” itu tadi bisa hilang, niscaya orang akan merasa nyaman dan aman maka negara juga akan bisa lebih maju. Jadi jangan underestimate dulu dengan semua program itu, masih mending daripada tidak ada program. Teori “Tear Window” harus diadopsi, kalau yang kecil saja tidak dibenahi, bagaimana kalau menjadi besar? Bagaimana menangani yang besar?

Oh ya, kami kembali ke Singapura lewat jalur MRT di Stasiun Kranji menuju Harbourfront. Habis itu, selagi menunggu ferry kita datang, kita coba ke Vivo City, mall besar yang ada di pelabuhan untuk mencari makan. Setelah dapat food court, mulai deh rasa ketidakenakan muncul. Udahlah, cari masakan Indonesia lagi yang sama seperti di Lucky Plaza yaitu Java Kitchen. Kalau di Lucky Plaza, makan nasi langgi. Di Vivo City, coba ayam cobek yang lumayan enak karena ayamnya empuk tapi juga lumayan mahal. Damn..tapi mending masih bangsa sendiri.

You know what? Yang bikin kita bangga, di mall yang elit itu, masakan Indonesia masih diapresiasi oleh orang luar. Saya nggak tahu apakah orang itu orang Chinnese Indonesia yang di sana, orang Singapura sendiri atau malah dari Taiwan/RRC karena waktu itu yang beli gado-gado, nasi kuning, nasi langgi ataupun ayam cobek sangat banyak bahkan sepertinya ada yang sudah langganan, terbukti seperti beberapa pembeli dikenali oleh kasirnya yang orang Jawa dan sepertinya mereka senang mencoba menu-menu baru Indonesia.

Indonesia, here we home…!!!

MOONLIGHT BECOMES YOU

Cahaya bulan menerangi malamnya hati, just like you…my hubby…ah, saya bukan tipe orang yang romantis. Jadi agak sulit buat berkata-kata, it’s really about my feeling…Suami saya adalah seperti orang kebanyakan, tidak banyak ngomong, orangnya dobel serius tetapi kalau sudah ketemu dengan ‘alam’nya wah…ngomong bisa sampai berjam-jam dan terkadang lupa kalau bawa bininya. Banyak juga humornya yang kadang-kadang tidak terpikir oleh saya. He makes me laugh

‘Alam’ yang dimaksud ya bidang yang dia tekuni, aviation engineering, soal teknis penerbangan. Ilmu yang dia tekuni hingga master dan membawa dia ke dunia kerja dengan atmosfer yang selalu soal…pesawat..Gara-gara itu, saya jadi tahu istilah-istilah penerbangan seperti taxi way, divert, ETA, bounce etc selain boarding lounge, check-in, delay. Masternya dia selesaikan di sela-sela pekerjaannya, antara Jakarta dan Bandung. Dan kadang-kadang dilewati dengan begadang sampai hampir pagi, pada hal pagi-pagi sekali, dia harus ke kantor lagi. Saya sendiri heran, fisiknya benar-benar tertempa seperti itu. Hal itu juga termasuk the part of his commitment to my father when he wants to marry me…

Pada saat saya sudah di Semarang, dia bolak-balik seminggu sekali pulang dengan kereta (kadang-kadang pesawat), sampai teman kerjanya bilang, “Gila…Jakarta-Semarang kok kayak Bandara-Kalideres saja”. Walaupun tetap saja dia human beings..kami tetap sering berselisih paham untuk hal-hal tertentu, tetap saja he’s the right kind for me

Pada saat saya habis operasi caesar melahirkan Audrina, our precious…dia dengan setia dan sabar menemani saya, menuntun saya yang masih tertatih-tatih ke kamar mandi, memandikan saya, mengganti pembalut yang penuh dengan darah, semuanya dia kerjakan sendiri tanpa ada rasa jijik dan enggan. Ketika saya masih kesakitan, Audrina menangis dan saya belum bisa menyusui, dia dengan sigap menggendong Audrina dan memberinya susu botol. Dia, my husband, real husband

Ketika saya mengalami hard times ketika bekerja dan segala cobaan yang menghadang karena saya mau melanjutkan sekolah, dia selalu ada untuk saya, dia selalu percaya kalau saya pasti bisa. Dia memberikan pandangan yang menyejukkan. You’ll do the right thing, not only for both of us but also the others too…katanya. Dialah bersama keluarga saya yang benar-benar menjadi batu karang buat saya walau badai melanda untuk tidak gentar selama kita berada di jalan yang benar dan kita tidak menyakiti orang lain.

Dia sudah mengalami asam garam hidup, jungkir balik kehidupan pada saat-saat sulit ketika sekolah sehingga mungkin dia jauh lebih matang dari usia sebenarnya. Menginap di masjid, benar-benar tidak punya uang di daerah asing sehingga harus bekerja extra keras, bahkan jalan kaki karena tidak punya uang untuk naik angkot. Belum lagi dia harus tetap mengirim uang ke rumah demi adik-adiknya sekolah.

Dia adalah teman saya di SMP. Omnya adalah teman bridge om saya, yang sering main ke tempat kakeknya. Prestasinya di sekolah membawanya ke SMU Taruna Nusantara di Magelang dimana hanya ada 3 orang dari Semarang yang lolos seleksi. Waktu itu yang terpikir olehnya adalah bahwa di sekolah itu semuanya gratis, ayahnya tidak perlu memberi uang saku karena sekolah tersebut sudah memberi uang saku pada muridnya, begitupun perlengkapan lainnya dan juga makan dan tempat tidur.

Di sekolah itu, dia benar-benar belajar tentang awal dari struggle for life, bagaimana tidak? Teman-temannya adalah anak-anak pilihan terbaik dari seluruh penjuru negeri yang membawa kebiasaan dan adat istiadat yang berbeda-beda. Selain belajar, disana juga diajari bagaimana cara bergaul dan menerima segala macam perbedaan serta menghadapi masalah secara elegan.

Teman-temannya yang sekarang menjadi ‘picture perfect’ soal pemuda Indonesia yang semestinya; kuat, smart, tahan banting, pantang menyerah, ulet, berdedikasi, family man dan rasa ke-Indonesiaan yang kuat dimanapun mereka berada. Mungkin juga itulah yang membuat saya cocok dengannya, persamaan pandangan terutama tentang hal-hal yang fundamental buat saya.

Itulah juga yang membuat saya berani untuk menempuh hidup baru dengannya. Saya yakin dia bisa menjawab segala kekhawatiran saya dalam mengarungi pasang surut riak kehidupan dan saya tahu juga dia mencintai Indonesia sedalam perasaannya kepada saya. Hal itu sudah dibuktikannya ketika dia bekerja. It’s a long story…but it’s all about courage ‘under fire’, conscience, faith dan termasuk soal pilihan yang membuat manusia itu ternyata tidaklah sama. Sama-sama rambutnya hitam tapi dalamnya hati, siapa yang tahu…apalagi ketika berada dalam ‘pressure

Pada saat ada peralihan oleh asing. Yang menjadi masalah sebenarnya adalah kita bukan xenofobia (takut pada segala sesuatu yang asing), kita open terhadap segala hal yang baik dan positif tentunya…tetapi ketika semuanya bertolak belakang dan merugikan bangsa sendiri (yang anehnya beberapa dari bangsa kita sendiri itu tidak “aware” atau pura-pura tidak tahu atau malah memang mengambil keuntungan dari situ, semuanya serba tidak jelas dan benar-benar mental terjajah).

Dia bilang, sudah waktunya buat saya…It’s time for me to leave…dia bilang, sudah percuma juga, yang bangsa sendiri dibilangin nggak mau tahu malah lebih mendewa-dewakan orang asing, jelas-jelas tidak benar ya diikutin aja, rasa takutnya terlalu besar…ya sudah…Sikapnya tegas, bahkan untuk dealing dengan orang asing mungkin dari itu, dia dan teman-temannya yang satu visi “terbuang”. Bukan lagi hanya masalah dignity of our nation tapi juga between the right or wrong…It’s OK..saya bilang, Tuhan akan mengganti yang lebih baik untukmu. Saya selalu mendukungmu, I’m proud of you, paling tidak ada bangsa Indonesia yang tidak bisa ‘dibeli’, tidak semuanya jelek.

Dan memang, here he goes nowGod loves him, actually…di tempat yang baru yang lebih baik tidak hanya dari segi material tetapi juga spiritual…dibanding tempat yang dulu. With all my respect with the old one, the spirit of humanity which there were one of the greatest reason he wanted to stay, now its all vanished away…semuanya telah hilang satu persatu. And remember, suami saya dan saya paling tidak suka kalau ada orang-orang tidak berdaya yang dizalimi.

Tempaan waktu, pendidikan di sekolah Taruna (walaupun dia memilih tidak masuk tentara karena dia merasa destiny-nya di tempat lain), pelajaran dari sang hidup, kecintaannya pada Indonesia, dan conscience-nya that money can’t buy my happiness and my dignity…and that so I love you, Moonlight…

Rabu, 05 November 2008

LADY FROM YESTERDAY

Banyak yang bilang kalau muka saya ini boros alias tua, jalan pikiran saya, kesukaan saya, very old fashioned bahkan untuk ukuran usia sekarang maupun pada saat saya masih remaja. Kebetulan saat sekolah, saya selalu menjadi yang paling muda. Teman-teman saya selalu lebih tua daripada saya, apalagi saat S3 ini, teman yang paling dekat usianya dengan saya memiliki selisih usia 5 yahun diatas saya. Apakah karena pergaulan jadi saya merasa lebih tua daripada usia saya.

Ketika dalam suatu interviu didepan para guru besar UI, saya pernah bilang, “…Mungkin dulu karena saya masih muda…”. Eh, langsung aja, ada satu profesor yang memotong, “Anda itu masih sangat muda, anak saya saja yang paling kecil masih lebih tua daripada anda”. Saya baru sadar, eh iya ya untuk di Indonesia, seusia saya masih sangat muda untuk seukuran mahasiswa doktoral pada umumnya. Langsung aja saya bilang, “Iya Bu, waktu dulu kan saya lebih muda daripada sekarang…”. Mereka langsung pada ketawa mendengarnya.

Saya masih ingat ketika dulu diajak mama saya ke penjahit. Penjahitnya heran atas selera saya. Mengapa sih kok suka yang sederhana? Padahal kan anak muda, gaul gitu…Apalagi saya waktu itu di SMA yang terkenal trendy di kota Semarang. Kadang-kadang jika melihat SMA saya banyak yang mengira, ini SMA atau showroom mobil sih…Anak-anaknya tergolong high class..banyak anak pejabat dan pengusaha terkenal di Semarang.

Banyak orang terkenal yang dulunya berasal dari sekolah kami seperti mantan Kasad Wismoyo Arismunandar, yang dulu kata Papa saya, merupakan biang berkelahi melawan anak STM yang lokasinya berdekatan dengan SMA saya. Pahlawan revolusi, Piere Tendean juga berasal dari SMA yang sama. Kami satu keturunan berasal dari SMA tersebut. Saya, Mama, Papa, Tante-tante saya dari Mama, Bude, Om adik dari Papa. Sekolah turun temurun dari keluarga kami.

Dulu saya sering diketawain teman SMA gara-gara suka pemain film Hongkong era silat klasik TVB. Masih ingat dong, Miao Chiao Wei si Pendekar Harum Chor Lau Heung, Wong Yat Wa si lugu Kwee Cheng di Sia Thiaw Eng Hiong, Mie Sieh si Princess Cheung Ping, Barbara Yung si Oey Yong yang banyak akal dan lain-lain. Padahal waktu itu di sekolah saya jarang banget yang suka bintang oriental karena jarang banget etnis Cina yang sekolah di tempat saya waktu itu. Ada beberapa sih tapi sepertinya malu-malu dengan identitasnya.

Baru ketika kuliah, itulah surga saya. Saya ketemu dengan teman-teman yang bisa dibilang satu selera karena saya kuliah di tempat yang mayoritas anaknya adalah non pribumi. Tetapi tetap aja, selera saya kata mereka jadul banget. Waktu itu kan musim hangat-hangatnya bintang Aaron Kwok, Jimmy Lin, Takeshi Kaneshiro dan teman-temannya. Saya waktu itu bilang, ah nggak suka orangnya terlalu lembut kaya cewek..mending David Chiang dan bintang-bintang yang saya sebut di atas. Tetapi walaupun begitu, mereka tetap aja respek dengan kesukaan saya, bahkan ada aja yang memberikan saya foto-foto artis-artis tersebut yang pada saat itu sudah tidak ada lagi di toko.

Saya nggak tahu kenapa, berangkat dari kesukaan nonton film silat era tahun 1980-an tersebut, nilai Bahasa Inggris saya mulai SMP (pada masa saya, bahasa Inggris baru diberikan saat SMP)-kuliah selalu bagus padahal tidak pernah les seperti teman-teman lain. Dulu saya masih ingat ketika Mama mengambil rapot saat saya SMP, wali kelas saya bahkan setengah menginterogasi apakah saya les bahasa Inggris karena waktu itu guru bahasa Inggrisnya terkenal killer tetapi kok saya sama dia dapat angka sembilan. Angka yang waktu itu amat langka jika menyangkut dengan beliau, guru tersebut. Dan saat itu banyak teman saya yang “terkencing-kencing” kalau disuruh maju untuk mengerjakan tugas.

Hobby saya itu sedikit banyak memang membantu saya dalam pelajaran juga dalam..berkhayal..Dulu saya sering lho bertingkah macam penulis skenario cerita film silat, mereka-reka cerita film komplit dengan siapa pemainnya, tata rias, tata rambut sampai busananya termasuk didalamnya setting cerita. Wah..seru banget, waktu itu bila ditulis mungkin ada berlembar-lembar skenario itu.

Saya dulu ngefans banget dengan Miao Chiao Wei di Pendekar Harum. Sosoknya yang gagah dalam balutan busana putih sering membuat saya berkhayal menjadi pasangannya dalam film. Dia menjadi hero yang akan terbang, berkelahi dengan senjata kipasnya yang anggun untuk menyelamatkan saya dari mara bahaya.

Wah…terasa di awang-awang, padahal saya waktu itu masih berusia 8 tahun. Hah..kebayang kan betapa lamanya hal itu tersimpan sebagai kenangan sampai saya SMA bahkan kuliah? Saya anehnya juga lega ketika tahu sang bintang akhirnya menikah dengan artis yang juga kesukaan saya, Jaimie Chik Mei Chun (wajahnya menurut saya waktu itu sangat mirip Marissa Haque).

Selain dia, ada juga yang saya sukai yaitu David Chiang (Dynasti, Princess Cheung Ping), Mie Sieh, Barbara Yung dan Liu Yung (waktu itu berperan sebagai Kaisar Dinasti Chin-Hsih Huang Ti di The Rise of Great Wall), orangnya gagah dan tegas jadi sangat cocok memerahkan Kaisar yang “kereng” (bahasa jawa - sangar).

Apa tidak ada aktor atau aktris barat yang saya sukai? Wah banyak sebenarnya tapi lebih banyak ya ke karakter mainnya seperti Robert de Niro, Al Pacino, Harrison Ford, Russel Crow dan lain-lain. Para pemain watak. Ih..setuwir itu ya, anda pikir? Belum sampai nih..

Tapi saya lebih jatuh cinta dengan Charlton Heston, Gregory Peck, Lee Marvin, Cary Grant, Clark Gable, Audrey Hepburn, Paul Newman, Vivienne Leigh, Doris Day, Deborah Kerr, Sidney Poitier, Anna Marie Saint, Humprey Boggart…

Siapa mereka semua itu? Kalau anda lahir di era 90-an maka anda perlu tanya ke kakek atau nenek anda, karena saya sendiri sangsi kalau ayah atau ibu anda tahu. Kalau misalnya anda lahir di tahun 70-an, mungkin baru bapak atau ibu anda kenal dengan sosok mereka.

Saya sangat suka film-film mereka. Ben Hur, Ten Commandment, To Sir With Love, Pillow Talk, Roman Holiday, Dirty Dozen, Gone With The Wind, North by North West, Casablanca dan lain-lain. Rasa-rasanya, menurut saya lho..mereka itu benar-benar cantik yang natural, cakep, gagah yang khas laki-laki, dandanan tidak neko-neko, aktingnya benar-benar bagus dan natural serta cerita film waktu itu benar-benar berkesan.

THE LONG AND WINDY ROAD

Usia saya sekarang pada tahun 2008 ini adalah di angka 31. Jika merujuk dengan usia nabi Muhammad SAW, berarti saya sudah separuh waktu hidup di bumi ini. Bisa kurang, bisa juga lebih. Apa sih yang sudah saya capai? Karier, keluarga, cinta, hidup? Seperti pepatah orang Jawa yang bilang : “Urip kuwi mung sadremo nglakoni” (hidup ini hanya untuk dijalani). Pepatah itu rasanya mungkin terlalu sederhana tetapi sebenarnya terkandung makna yang mendalam. Menjalani seperti apa? Apa hanya sebagai orang yang pasif menunggu nasib atau uluran belas kasihan orang lain? Tentu saja tidak.

Ketika tetralogi Laskar Pelangi muncul, langsung saja orang sibuk terperanjat membacanya, heboh membicarakannya. Seakan-akan baru saja bangun dari tidur panjang. Meminjam bahasa anak Jakarta : “Halloow…dari mana aja sich low?”. Memangnya selama ini kehidupan banyak anak Indonesia tidak seperti itu? Memangnya Ikal itu hanya ada di sana, di novel tersebut? Hanya ada di Belitung? Andrea hanya menulis pengalaman hidupnya dengan lebih manis, lebih berbunga-bunga, lebih romantis. Berapa banyak Lintang di bumi Indonesia ini? Banyak kawan…maka dari itu kalau tangan kita tidak bisa membantu mereka, lihatlah diri sendiri. Jangan sampai kita menyia-yiakan hidup kita yang telah dikaruniakan oleh Tuhan kepada kita. Jangan mengecewakan orang tua kita dengan hal-hal yang tidak perlu atau bahkan dengan hal yang negatif. Saya sendiri juga mengagumi orang-orang yang punya spirit untuk maju bahkan di tengah ketidakberdayaan. Banyak orang seperti Andrea, Suster Apung, Ibu Muslimah dan sebagainya.

Berapa banyak orang yang mengukur keberhasilan dengan hal-hal yang bersifat materi. Apa yang sudah kamu punya? Rumah mewah, apartemen, villa, mobil mewah, mobil sport, hp keluaran terbaru, pakaian bermerk, sepatu keluaran luar negeri, liburan ke hanya karena statusnya sebagai pejabat, orang terkenal dsb atau karena tampilannya seperti orang kaya.

Apakah anda sering mengamati pegawai asuransi di bandara (biasanya sebelum masuk boarding lounge)? Penumpang kadang sering tidak aware. Kalau memang orang tersebut berniat beli sih tidak apa-apa. Tetapi seringkali yang saya tak suka adalah orang yang beli tersebut adalah orang yang tidak berniat beli tetapi yang baru pertama kali naik pesawat, orang itu mengira bahwa hal ini wajib. Kebanyakan dari mereka adalah orang tua. Tega-teganya mereka memanfaatkan orang-orang yang tidak berdaya tersebut. Ada juga yang terkena adalah orang-orang yang sok berpenampilan mewah tetapi mereka tidak tahu apa-apa. Para pegawai di bandara jeli terhadap tipe orang seperti ini. Dan untuk orang-orang tertentu, mereka dimanfaatkan.

Apa yang sudah anda capai? Prestasi apa yang telah anda raih hingga detik ini. Tidak harus selalu fenomenal, dan makna keberhasilan itu berbeda untuk masing-masing orang. Ada yang sudah berani mandiri, bekerja sendiri, hidup di daerah lain. Ada yang nilainya cum laude, ada yang lolos wawancara kerja, ada yang berhasil mengantarkan anaknya menjadi juara kesenian atau juara kelas, ada yang sudah menjadi ibu rumah tangga yang baik, ada yang berani bangkit setelah mengalami kegagalan, ada yang berani menempuh hidup baru etc..etc..

Tidak sama kan untuk masing-masing orang. Dan memang untuk apa sama? Bukankah kita sendiri dilahirkan oleh ibu kita, tidak ada yang sama. Bahkan untuk anak kembarpun tidak ada yang sama persis. Coba saja bayangkan kalau kita sama. Hii..ngeri…mungkin kita akan salah mengenali suami atau istri kita. Orang berbondong-bondong ingin menjadi pegawai. Tidak ada yang mau jadi pengusaha/wiraswasta. Lalu siapa yang mendatangkan barang? Semuanya hanya mau membeli.

Saya sih sekarang sudah merasa bersyukur dengan keadaan sekarang. Suami pengertian, anak perempuan yang lucu, karier yang saya sedang rintis, sekolah yang saya tekuni, banyak yang mensuport, entah itu keluarga, teman, sahabat, mentor, guru dsb. Saya sudah melakukan perjalanan menjelajahi Indonesia dengan suami tercinta. Kami merencanakan untuk melakukan perjalanan lagi ke luar negeri tapi benar-benar dengan cara kami. Tidak karena perjalanan dinas atau pekerjaan.

Menyenangkan walaupun semuanya tidak sempurna karena kami masih menjalani 2 rumah tangga, keluarga komuter Jakarta-Semarang. Tetapi kami berdua yakin, hal ini hanya sementara. Setelah tugas kami masing-masing selesai, kami akan bersatu lagi anak kami dan keluarga saya di Semarang atau entah dimana perjalanan nasib membawa kami sekeluarga.

Semuanya tidaklah mudah. Melewati ujian bertubi-tubi, pengingat dari Tuhan bahwa kami adalah makhluk yang dicintaiNya. The Long and Windy Road

Rabu, 29 Oktober 2008

THE END IS THE NIGHT

Anda tahu betapa berartinya second change? Kesempatan kedua? Orang bilang bahwa kesempatan tidak datang dua kali, maka dari itu raihlah selagi bisa. Tetapi jika kegagalan yang kemudian datang, maka kesempatan yang selanjutnya merupakan peluang yang harus dimanfaatkan dengan mempertimbangkan segala hal pengalaman yang sudah terjadi sebelumnya.

Gairah, passion, semangat mewarnai apakah kita mau dan bisa mengambil second change. Terlebih-lebih, orang yang gagal itu kondisi psikisnya sama sekali berbeda dengan orang kebanyakan. Rasa takut gagal lagi, malu dipermalukan egonya, minder karena memiliki scretch bertuliskan “failed”. Maka berakhirlah semua pada malam itu. The End is The Night.

Orang bijak mengatakan, “Tidak peduli seberapa sering kamu jatuh, tapi yang paling penting adalah seberapa sering kamu bangkit dari kejatuhan tersebut”. Orang yang terus menerus berhasil akan menjadi pribadi yang kurang peka terhadap lingkungan.

Dia akan tumbuh menjadi pribadi yang arogan, indifferent terhadap orang lain, bahkan mungkin menihilkan peran orang lain—atau Tuhan. Merasa tidak pernah membutuhkan orang lain, bisa hidup tanpa pihak lain.

Dia juga akan tidak tahu tentang makna keberhasilan tersebut. Bahkan mungkin bisa jadi dia akan merasa laksana Tuhan, yang memiliki otoritas tertinggi akan keberlangsungan hidup. Dia juga tidak pernah merasakan struggle for life. Dunia menjadi tempat yang absurd.

Padahal jika saja mau bertafakur—menundukkan diri, just for a while, kita tidak mungkin hidup tanpa adanya pihak lain. Dari mulai makanan, minuman, pakaian, bahkan udara yang kita hirup tidak pernah dihitung oleh penguasa kehidupan—Tuhan. Lalu mengapa kita menjadi pribadi yang mengesalkan banyak orang?

Lalu kemudian, Tuhan menurunkan kegagalan, sebagai tanda bukti pernah hidup di dunia. Jika pernah gagal, maka anda akan merasakan bagaimana nikmatnya keberhasilan. Jika pernah gagal, tidak akan ada manusia yang sedemikian arogan, merasa lebih daripada yang lain. Tetapi mengapa pada kenyataannya, justru banyak orang semacam itu? Lagi-lagi manusia, susah ditebak kemana arah perginya. Sudah diberikan kompas saja, masih miring-miring jalannya.

Second change, saya pribadi pernah benar-benar merasa akrab dengan kata-kata itu. Betapa ada orang yang percaya pada kita, disaat yang lain tidak. Betapa ada orang yang selalu mensupport kita, memompa semangat untuk terus tetap berjuang, jangan sekali-kali menyerah.

Sayang sekali makna second change ini selalu dikaitkan dengan perbuatan salah, khilaf dan meratap memohon ampunan. Memang manusia tidak sempurna tetapi paling tidak jangan kotori makna second change dengan kesalahan atau bahkan dengan dosa rendah. Dia terlalu agung untuk hal itu.

So my friend, don’t be shy…the day is near..stand up and do something usefull, because the night is never end..