Rabu, 29 Oktober 2008

I LOVE THE BLUE OF INDONESIA

I love the blue of Indonesia…you can taste it everywhere…Bagaimana perasaan anda tentang Indonesia? Bagaimana anda memandangnya? Kalau anda tanya pada saya, tentu akan saya jawab, “berjuta rasanya”, takjub, bangga, sedih, prihatin, sayang, cinta…dan lain-lain bercampur aduk menjadi satu. Kalau anda berkesempatan menjelajahi wilayahnya seperti pengalaman saya bersama suami tercinta, mungkin anda akan merasa sama.

Ketika saya SD, sekitar tahun 80-an, saya selalu antusias dengan yang namanya pelajaran ilmu bumi, bahkan tanpa bermaksud menyombongkan diri, I’m good on it..Peta buta…Ketika yang lain pada gemetaran disuruh maju oleh ibu guru, saya justru menikmatinya. Saya hafal seluruh lekuk Indonesia, tanpa berpikir bahwa someday…20 tahun kemudian, saya berkesempatan menyusuri setiap lekuknya.

Walaupun belum sepenuhnya, tapi bisa dibilang hampir seluruh ibukota propinsi kami pernah menjelahinya. Kota-kota atau daerah penghasil hasil bumi, pertanian, dulu saya sangat hafal. Tetapi ternyata ketika ada lomba bidang studi, saya malah dipilih untuk bidang studi IPA. Yang IPS malah jatuh ke teman saya, yang memang “musuh bebuyutan” untuk bidang studi tersebut. Ternyata ada yang lebih jago daripada saya. Waktu itu di IPA, saya dapat juara 2.

Cinta saya pada Indonesia seperti cinta saya kepada kedua orang tua saya, keluarga saya…Mungkin Papa saya berperan besar dalam hal ini. Beliau sering bercerita tentang bagaimana perjuangan kakek-kakek leluhur kami memperjuangkan kemerde kaan. Bagaimana semua tenaga, pikiran, harta bahkan nyawa taruhannya. Ketika slogan “merdeka atau mati” bukan hanya kata-kata kosong.

Papa saya juga memiliki andil besar dengan tumbuhnya rasa nasionalisme saya dengan sering mengajak saya ke pertandingan-pertandingan olahraga besar yang waktu itu diperhelatkan di Semarang. Bulutangkis, sepakbola, bridge, tenis dan lain-lain. Di saat anak-anak lain berkutat dengan dunianya sendiri, saya justru malah akrab dengan sensasi kegairahan nasionalisme bangsa. Nama-nama seperti Tintus Arianto Wibowo, Suzanna Anggarkusuma, Ferdy Waluyan, Denny Sakul, Rudy Gunawan, Eddy Hartono, Bobby Ertanto, Wailan Walalangi, Ricky Yakob. Anda tahu nama-nama itu?

Pasti anda lebih kenal jika saya sebut Susy Susanti, Taufik Hidayat, Yayuk Basuki yang lebih fenomenal. Dulu saya masih ingat ketika Piala Thomas di Malaysia, ketika partai ganda putra Indonesia, Eddy Hartono (Kempong)/Rudy Gunawan melawan ganda Malaysia, Razif Sidek/Jaelani Sidek. Ketika sedang ramai-ramainya partai itu, poin-poin genting, beberapa kali Indonesia dicurangi Malaysia. Saya sampai menangis dibuatnya, gregetan, jengkel. Papa sampai heran kok saya sampai dibawa perasaan. Ya iyalah…rasanya bangsa ini dipermainkan..Kalau mereka bertanding, kami tidak pernah absen menonton.

Tidak hanya itu, Papa juga sering bercerita tentang jenderal-jenderal hebat Indonesia yang berjuang demi kejayaan bangsa dan negara. Makanya, walaupun kami bukan keluarga militer, tetapi kami memiliki respek terhadap mereka. Di saat yang lain latah menisbikan soal itu (saat HAM mulai naik daun), kami tidak pernah sekalipun ragu akan kebenaran. Bukan berarti membabi-buta tetapi bagaimanapun juga selalu ada 2 sisi mata uang dan selalu saja ada oknum. Tidak berarti semuanya lalu menjadi salah. There’s always a reason and there’s always a hero..

Ketika saya dan suami menjelajah Indonesia, kami menemukan bahwa negara kita ini sangatlah kaya, sangat besar, begitu juga potensinya. Anda tahu di Jawa itu ada berapa suku? Bahkan di Jawa Tengah sendiri ada berapa suku? Antara yang pesisir dengan yang di bukan pesisir saja sudah banyak berbeda. Itu aja hanya satu wilayah kecil dari Indonesia. Negeri kita sangatlah kaya, bahkan semestinya kita “menghidupi” kebutuhan kita sendiri tanpa tergantung dengan bangsa lain.

Coba anda bayangkan, Bengkulu saja yang berada di pojok barat Indonesia, jarang sebagai tempat persinggahan, selalu menjadi korban bencana, entah itu gempa, tsunami dan lain-lain, tidak kami kira ketika kami lihat di sana, orang-orangnya sangat bersemangat, sangat friendly. Yang punya usaha kain basurek, tabot bengkulu, kerajinan lantung dan lain-lain semuanya tampak semangat. Mereka menghasilkan barang selain untuk orang luar juga dipakai oleh mereka sendiri. Sekarang ini, tambah ramai dengan dibangunnya bandara Fatmawati dan masuknya beberapa maskapai nasional ke Bengkulu.

Belum lagi anda lihat di Kupang. Pasti anda hanya bayangkan kotanya sepi, di pojok selatan agak ke timur Indonesia, panas dan tandus. Tapi anda coba buktikan dengan menghampiri kota itu. Betapa mobilenya masyarakat di sana. Angkotnya sangat banyak dan beragam, didandani dengan trendy sekali. Sound systemnya canggih bahkan sopir dan kernetnyapun tidak kalah trendy. Makanannya yang berupa sei daging sangat yummy, ramai orang beli. Belum lagi titi jagungnya yang crunchy, tidak kalah dengan tortilla Mexico. Terus kain tenunnya yang sangat banyak macamnya, ada yang khas So’e (Timor Tengah Selatan), Belu, Kefamenanu (Timor Tengah Utara), Sumba Timur (Waingapu), Sumba Barat (Waikabubak), Flores Timur, Maumere, Bajawa, Ngada dan lain-lain. Saya punya beberapa koleksinya tetapi tidak banyak karena harganya mahal…Patung Timor yang eksotis, sasando dari Rote-Ndao berikut topi dan tempat airnya.

Mana lagi yang anda tanyakan pada saya? Gorontalo..propinsi yang masih relatif baru ini popularitasnya menjulang berkat kiprah gubernurnya yang dulu terkenal sebagai pengusaha besar, Dr.Ir.Fadel Muhammad. Lulusan ITB Sipil dan doktor dari UGM yang mengeluarkan buku tentang kebijakannya dalam membangun Gorontalo yang tercermin dari desertasi doktoralnya. Penghasil jagung terbesar dan mencoba membangun propinsi seperti Aceh tetapi di Sulawesi (gerbang timur Indonesia) dengan masyarakatnya yang mayoritas beragama Islam. Pia kerawangnya sangat lezat, berbeda rasa dengan bakpia Pathok Jogya, pia Semarang atau Surabaya. Tenun Kerawangnya juga sangat elegan.

Palu di Sulawesi Tengah yang karena tetangga kabupatennya (yang kenyataannya jaraknya sangat jauh) Poso pernah “berkobar” membuat keberadaannya juga dijauhi. Ketika saya dan suami pergi ke sana, banyak yang membelalakkan mata. Mengapa di sana? Apa tidak bahaya? Faktanya, di Palu saat weekend sangatlah sulit mencari hotel. Padahal hotel yang ada sangat banyak. Tetapi kami malah dibantu “stranger” hingga dapat penginapan di mess Kabupaten Poso. Pemandangan lautnya sangat indah. Makanan khasnya kaledo di beberapa restoran selalu saja habis. Bayangkan betapa ramainya kota itu terutama di malam hari. Angkotnyapun selalu available hingga malam. Nggak terbayang kan kerusuhan Poso di Palu. Pasti kotanya langsung jadi kota mati, sepi.

Belum lagi anda berkunjung ke Medan, Palembang, Makasar, Manado, Pekanbaru, Padang dan lainnya yang relatif lebih besar dan lebih dikenal. Belitung baru dilirik ketika Laskar Pelanginya Andrea Hirata “meledak”. Kami sudah kesana sebelumnya. Berbeda dengan Pangkalpinang di Bangka, Tanjung Pandan sangatlah sepi. Traffic lightnya hanya satu. Tetapi keberadaan pasar sangat menghidupkan suasana kota. Masakan gangan (ikan kuah asam) khas Belitung, terasinya dan kerupuk ikannya sangat menggoyang lidah. Batu satam merupakan oleh-oleh yang hanya bisa anda jumpai di Belitung. Batu tersebut bisa dipakai sebagai perhiasan dan hiasan di tongkat komando. Pantainya sangat unik seperti di pulau Bangka berhiaskan batu granit yang besar-besar.

Kita semestinya membangun negara ini dengan kekuatan sendiri. Makanya sangatlah tepat ketika Time menganugerahkan “The Most Dangerous Man” pada Adi Sasono (mantan Menkop). Beliau sangat berdedikasi pada perekonomian rakyat kecil. Rakyat kecil diajari cara berdikari, berusaha sendiri. Mereka diberikan kail, bukan ikan sehingga tidak ada bangsa pengemis, peminta-minta, mental terjajah. Memang benar yang dikatakan Tukul soal hati yang miskin. Bagaimanapun kayanya, tetap saja menjadi peminta-minta karena pada dasarnya selalu merasa kurang, selalu merasa miskin

Senin, 15 September 2008

EVERYTHING HAS ITS TIME


Semuanya akan ada masanya. Semuanya akan terasa indah pada waktunya. Saya bukan orang Nasrani tetapi saya terkesan akan ‘statement’ yang ada di bible tersebut. Saya lupa nama suratnya tetapi saya yakin di agama-agama lain mungkin juga ada pembahasan itu tetapi besar kemungkinan menggunakan istilah yang berbeda-beda. Saya meyakini akan semuanya ada masanya.

Dari mulai kita dilahirkan oleh ibunda tercinta, kalau memang belum waktunya, tentu saja kita belum ada. Begitu juga ketika sekolah, menikah, mempunyai anak, meninggal dunia, jika memang belum digariskan akan datang, maka bagaimanapun juga tidak akan datang. Macam suratan takdir, qada dan qadar menurut Al-Qur’an. Tetapi selalu saja kita harus mengusahakannya, dengan sebaik mungkin. Selebihnya hanya bisa memasrahkan diri kepada Tuhan.

Masih teringat ketika kita benar-benar sangat mendambakan sesuatu hal, tetapi ketika Tuhan belum mengijinkan, maka semuanya belum dapat menjadi kenyataan. Ketika kita masih kecil atau remaja, seringkali kita selalu mengeluh mengapa Tuhan tidak mengabulkan permintaan kita. Karena darah muda, kita seringkali mengabaikan makna dibalik peristiwa yang kita alami, selalu tidak sabar menunggu hikmah Tuhan yang datang pada kita.

Tidak mudah memahami bahwa semuanya itu selalu saja ada waktu yang tepat. Setiap hal, peristiwa, kejadian selalu saja ada masa yang tepat untuk semuanya yang terjadi. Misalnya, pasangan suami istri yang belum mendapatkan putra setelah menikah. Mungkin saja, Tuhan mempunyai rencana sendiri dan melihat bahwa pasangan tersebut belum waktunya memiliki anak karena secara mental belum siap. Atau saja ada sebab-sebab lain yang maknanya lebih dalam dari yang diketahui pasangan tersebut.

Saya jadi teringat peristiwa-peristiwa lampau yang telah terjadi pada diri saya maupun keluarga. Sekolah saya, saya jadi semakin yakin kenapa dulu saya gagal di UMPTN (terus terang saja waktu itu saya masih merasa ragu dengan pilihan saya karena banyak disarankan oleh keluarga). Ketika saya pilih Psikologi di universitas lain, maka jalan hidup saya berkaitan dengan Psikologipun berlanjut hingga akhirnya kuliah doctoral sekarang. Mungkin jika tembus UMPTN, jalan hidup saya tidak seperti sekarang. Menjadi dosen Psikologi di Universitas Negeri, bisa lanjut sekolah hingga S3.

Begitu juga dengan jodoh. Mungkin juga jika saya tidak bertemu dengan suami saya, hidup saya tidak akan seperti ini. Ya, jalan hidup saya telah terbentang, dengan semua kemungkinan terkait dengan pilihan yang saya ambil. Dan semuanya ada masanya.

Saya baru merasakan setelah lulus kuliah, bekerja, berkeluarga hingga saat ini. Memang inilah yang terbaik buat saya dari Tuhan. Tetapi Tuhan tidak langsung memberitahukan, Dia menunggu saat yang tepat untuk memberitahukan. He just wait the right time to say that everything has its time…

LET’S TALK ABOUT LOVE


Orang sering menyebut dan mengagung-agungkan kata-kata “cinta” tetapi seringkali tidak benar-benar meresapi maknanya. Cinta melewati batas-batas budaya, suku, ras, etnik, agama, usia, bangsa atau Negara. Cinta bersifat universal, tidak hanya terbatas pada hubungan dua kekasih. Cinta memerlukan saling pengertian, mutual understanding, saling bekerjasama untuk saling mengisi. Cinta bahkan dapat memberikan semangat untuk lebih maju, berbuat yang terbaik dan sikap pantang menyerah.

Terkadang cinta juga dapat saling membenci, menyakiti dan pada akhirnya merusak. Kadarnya yang terlalu berlebihan atau malah berkurang dapat membutakan mata orang untuk mencinta. Kebutaan itu yang mengakibatkan kehancuran, karena dia tidak dapat melihat dengan jernih.

Kecintaan tidak hanya pada seseorang tetapi juga “sesuatu” yang bisa berwujud abstrak maupun konkrit. Sesuatu yang bersifat materi dapat membutakan mata untuk melihat bahwa apa yang telah diambil adalah bukan haknya tetapi merupakan hak orang lain. Semuanya yang dilarang (haram) dapat menjadi halal. Itulah yang dinamakan korupsi.

Kecintaan yang tiada batas terhadap supremasi suku, agama maupun negara dapat memancing sikap fundamentalisme. Pemujaan yang berlebihan dapat mengakibatkan superioritas satu pihak dan menihilkan peran yang lain (bahkan dapat mengarah ke deindividuasi - tidak lagi memanusiakan manusia). Inilah yang terjadi ketika peristiwa holocaust, pembersihan etnis di sejumlah negara, bahkan yang terjadi di Indonesia.

Secara kasat mata, bagaimana seorang manusia yang dikaruniai akal budi oleh Tuhan sebagai penanda makhluk yang paling sempurna di dunia ini, dengan seenaknya melenyapkan nyawa manusia yang lain, sesama makhluk Tuhan bahkan dengan cara-cara di luar batas kemanusiaan, melebihi insting binatang untuk mempertahankan hidup.

Cinta ternyata dapat berubah menjadi kompleks, bahkan menjadikan “horror drama” sepanjang masa ketika suatu kelompok manusia dengan atas nama Tuhan (yang menciptakan) mampu berbuat hal-hal di luar batas kemanusiaan. Menghancurkan semua ciptaan Tuhan yang hidup atas perkenaan Tuhan, dengan cara sangat memilukan dan mereka sama sekali tidak merasa bersalah karena apa yang mereka lakukan, mereka yakini atas kehendak Tuhan mereka.

Itulah manusia dan cinta-nya. Terkadang bisa begitu indah dunia diciptakan dengan dasar cinta tetapi tidak jarang pula betapa mudah dunia dirusak, dihancurkan atas dasar nama cinta.

LABELLING


Masyarakat awam seringkali memberikan julukan atau label kepada orang-orang tertentu. Bahkan orang tua kepada anak-anaknya. Julukan atau panggilan seperti : anak pintar, anak rajin, anak bodoh sesuai dengan keadaan anak tersebut. Hal tersebut dinamakan labeling.

Seringkali orang-orang tersebut “sok tahu” dengan memberikan prediksi tentang orang lain, yang diberi julukan tersebut. Anak bungsu pasti manja, tidak dapat mandiri, begitu juga dengan anak tunggal. Anak sulung pasti anak yang bertanggungjawab, mandiri dsb. Anak tengah tidak terlalu diperhatikan jika tidak ada prestasi menonjol. Semua hal yang terjadi dikaitkan dengan label yang ada di dalam diri seseorang.

Saya senang dengan orang yang suka sewenang-wenang memprediksikan saya. Senang karena saya akan berusaha keras mematahkan anggapan mereka, prediksi mereka tentang saya, tentu saja yang bernada negatif dan tidak membangun.

Keangkuhan dan kesewenangan mereka memberikan charge tambahan energi positif buat saya untuk berbuat terbaik. Keberadaan saya sebagai putri tunggal seringkali menjadi “alasan empuk” bagi orang-orang yang tidak bertanggungjawab dan memiliki niat tertentu ketika mereka tidak berhasil mempengaruhi saya yang berkait dengan sesuatu yang mereka harapkan.

Ketika saya mendapat peluang untuk studi lanjut S3 karena mereka takut tersaingi, mereka membuat excuse “dasar anak tunggal, sombong, mau-maunya sendiri..” karena saya tidak mau menuruti mereka untuk membatalkan niat tulus saya. Alasan mereka banyak dan sewenang-wenang.

Kalau alasan mereka tulus, tentunya saya tidak akan keberatan, walaupun belum tentu peluang itu datang 2 kali. Tetapi ketika ternyata saya ketahui bahwa alasan itu banyak dibuat-buat dan mereka sendiri ternyata tidak mau mendelegasikan tugas (yang ternyata ada “uang di balik gimbal..”), kemudian memang ada unsur-unsur yang “tidak sehat”, iri, dengki, envy (bukan penis envy-nya Freud loh ya..), ya sudah..mulai pasang telinga kedap suara. Maksudnya supaya tidak cepat naik darah kalau-kalau difitnah macam-macam. Konsekuensinya ya seperti itu…

Ketika saya masih kecil, saya pernah diduga nanti akan tumbuh menjadi anak yang selalu canggung, tidak bisa mandiri dan sebagainya. Ketika sekolah saya (bahkan sampai sekarang, dapat tembus strata 3 di universitas terpandang di Indonesia, di kota besar metropolitan pula), banyak yang terbengong-bengong. “Ngga ngira saya..”, begitu selalu yang diucapkan.

Selalu ingat bahwa semua hal kembali lagi ke orang yang bersangkutan. Pribadi seseorang memang terbentuk mulai dari lahir tetapi pola asuh orang tua, pendidikan, lingkungan sosial dan pengalaman hidup akan lebih mempertajam pribadi orang tersebut menuju ke arah mana. Sekarang-sekarang ini, sangatlah laku pelatihan-pelatihan tentang EQ, SQ, ESQ, AQ, Quantum Ikhlas dan lain-lain. Ternyata inteligensi hanya menyumbang 20% dari keberhasilan seseorang. Lalu apakah yang 80% itu? Jawabannya banyak, ada yang bilang soal ketekunan, jejaring, semangat pantang menyerah dan sebagainya.

Ketika dulu saya sekolah, mulai SD-SMP rasa-rasanya ranking 5 besar itu selalu di tangan. Ketika SMA mulai agak goyah, saingannya banyak dan pandai-pandai disamping banyaknya mata pelajaran yang membuat kuwalahan. Kuliah, seneng karena merupakan sesuatu yang baru, profesi lebih senang lagi karena praktek melulu. S2 mulai di Jakarta, adaptasi dan lain-lain membuat tantangan semakin tajam lagi. Hasil-hasil semua kuliah, profesi dan S2 (begitu juga S3 sekarang) lumayan, walaupun tidak cemerlang banget.

Sikap nekad dan keukeuh saya yang paling dominan. Mungkin pula, darah sanguinis alias darah Minang saya membuat saya “keras kepala” dan “keras hati” dalam menghadapi segala rintangan dan riak-riak kehidupan. Tentu saja nekad yang positif dan tidak menghalalkan segala cara. Dan terutama adalah tidak mengambil yang bukan milik kita, bukan jatah kita.

Ibaratnya tidak bisa jalan, ya merangkak, tidak bisa merangkak ya ngesot… Ketika berkali-kali diguncang hambatan baik yang sebesar pasir maupun sebesar batu kali, saya berusaha untuk tidak berhenti atau bahkan mundur. Tetap harus jalan walaupun jalannya hanya sedikit atau bahkan harus berjingkat-jingkat ataupun yang terparah, tetap berjalan walau terpincang-pincang.

Hal yang buruk yang dapat terjadi karena proses labeling adalah ketika sebenarnya orang yang sudah dilabel berbuat baik tetapi tetap diberikan label negatif sehingga akhirnya dia benar-benar berbuat yang negatif seperti yang dituduhkan. Seringkali pula orang dengan label baik, sekali saja dia lengah dan khilaf, berbuat kesalahan seolah-olah dia berbuat salah yang sangat besar dan tak ada baik-baiknya sama sekali.

Memang benar pepatah Indonesia yang berkata, “Karena nila setitik, rusaklah susu sebelanga..”. Labelling terutama yang negatif, untuk amannya janganlah digunakan karena hal itu akan membekas dan bukan tidak mungkin akan menjadi kenyataan. Label yang positif dapat berfungsi sebagai pembangkit motivasi supaya tetap terpelihara dengan baik tetapi jangan sekali-kali menganggap bahwa manusia itu adalah malaikat, yang selalu benar dan tidak pernah salah.

Kasus seorang da’i kondang yang kemudian tenggelam karena kasus poligami. Tidak ada orang yang punya salah atau kekurangan. Hal manusiawi tetapi karena ini menyangkut figur masyarakat yang dalam setiap sisi kehidupannya selalu ditiru dan dikagumi, maka menjadi perbincangan hangat dan menjadi pro-kontra.

Maka, tidaklah wajar ketika orang tersebut bilang, silahkan saja mencari figur lain untuk diteladani atau dikagumi. Hal itu sangat tidak dapat diterima, kecuali ketika orang itu sudah tidak lagi dalam posisi “yang menyuruh-nyuruh” masyarakat pemerhatinya untuk berbuat. Arti lugasnya ya jangan lagi jadi public figure, apalagi seorang pemuka agama yang oleh masyarakat sudah terlanjur distempel sebagai orang yang “lebih” dibandingkan dengan orang kebanyakan.

Labelling yang terjadi pada tokoh tersebut telah berubah dari positif ke negatif. Apapun yang dia perbuat, publik tetap tidak dapat lupa tentang tindakannya yang “melukai” hati publik tersebut. Dan yang sangat disayangkan adalah hal tersebut berbuntut dengan semua usaha yang dia rintis dan melibatkan penghidupan orang banyak. Sangatlah disayangkan, karena perbuatan (atau kesalahan, tergantung apa persepsi orang tentang poligami) seseorang, berpuluh-puluh penghidupan orang lain menjadi taruhan. Hanya gara-gara labeling. Jika saja, orang mau berpikir panjang …Makanya mungkin didalam Al-Qur’an,ada disebut..maka beruntunglah kaum yang mau berpikir…


HIDUP ADALAH PERBUATAN

HIDUP ADALAH PERBUATAN


Meminjam slogan dari iklan yang menampilkan seorang tokoh dimana kalimat itu sangatlah berkesan buat saya pribadi. Memang benar, inti dari kehidupan kita adalah perbuatan kita. Apa yang telah kita lakukan, akan kita lakukan..Tidak penting apakah nantinya perbuatan itu akan menguntungkan kita atau tidak, yang jelas adalah bahwa perbuatan itu positif dalam koridor moral.

Seringkali orang termangu ketika mendapatkan hambatan atau tantangan. Boleh-boleh saja termangu tetapi jangan lama-lama. Bangkit dan berbuatlah, jangan pernah menyerah. Orang itu gagal ketika mereka berhenti, putus asa dan termangu meratapi kegagalan. Wise man said that you never fail until you stop trying..

Tidak dapat dipungkiri, tidak semuanya dapat kita raih di dunia ini. Tidak semua mimpi kita akan menjadi kenyataan, tidak semua harapan terkabul…Maka dari itu ada yang namanya pilihan, konsekuensi dan usaha. Tidak ketinggalan adalah doa dan selalu berpijak pada kenyataan. Ketika kegagalan datang, itu adalah cobaan..apakah kita kuat menerimanya..ketika kuat dan ternyata kita tidak berhenti, maka mental kita telah terasah untuk tantangan lebih lanjut.

Ada banyak orang yang kagumi tetapi untuk yang ini ada dua orang anak manusia yang saya kagumi. Yang satu adalah Partahi Mamora Lumban Toruan (Mora), yang lainnya adalah ibunya (ibu sambungnya), saya lupa namanya. Saya tidak pernah mengenal orang-orang tersebut selain dari media massa yang meliputnya. Mora adalah mahasiswa tingkat doctoral dari Indonesia yang kuliah di Virginia Tech, USA. Dia meninggal tertembak ketika ada mahasiswa asal Korea yang terganggu jiwanya menembak secara brutal mahasiswa dan dosen di kampus tersebut.

Saya kagum padanya karena begitu bersemangatnya untuk bersekolah dan memberikan yang terbaik untuk keluarganya. Sedangkan ibunya yang notabene adalah ibu tirinya (ibu kandungnya meninggal ketika Mora masih kecil karena kecelakaan) benar-benar menyayanginya melebihi apapun. Ibunya tersebut yang membiayai sekolahnya di Amerika bahkan sebelum peristiwa tersebut, sudah akan menjual tanah warisan dari orang tuanya untuk membiayai sekolah Mora yang hampir selesai. Begitu besar kasih bunda…begitu semangatnya untuk keberhasilan putranya bahkan untuk seorang anak yang bukan darah dagingnya sendiri. Begitu keji, orang yang telah memisahkan mereka bahkan dengan cara biadab seperti itu.

Cerita ibu-anak tersebut sangat menyentuh hati saya, saya membayangkan Papa-Mama saya yang telah berjuang susah payah sehingga saya menjadi seperti ini. Mereka tidak pernah meminta bantuan materi pada orang lain untuk membesarkan dan menyekolahkan saya. Kasih mereka tidak akan pernah dapat terbalaskan oleh saya, sampai kapanpun..So, hidup saya, perbuatan saya, apapun yang saya lakukan saat ini, semuanya adalah sebagai balas budi saya pada orang tua dan akan selalu saya dedikasikan untuk mereka, yang terutama ...

Senin, 11 Agustus 2008

THAT’S IT, ENOUGH IS ENOUGH

Berapa kali kita berani bilang, bahwa That’s it! Enough is enough kepada orang lain, pihak lain atau diri sendiri? Kadangkala kalau tidak terpaksa banget, kita malas mengambil sikap ini. Hal ini sangat bisa dimaklumi karena terkadang konsekuensi atau resiko yang harus kita tanggung sangatlah besar dan tidak jarang akan menguras tenaga dan pikiran kita. Apalagi kalau berhadapan dengan pihak lain dan jika pihak tersebut memiliki otoritas di atas kita. Tetapi bagaimanapun juga, hidup akan tetap mengalir dengan ada atau tidaknya pihak tersebut.

Banyak pihak yang bilang, orang atau manusia yang merdeka adalah manusia yang tidak memiliki rasa takut. Rasa takut memang dapat membantu kita untuk menakar seberapa kuat kita dapat menghadapi tetapi seringkali rasa takut seperti juga rasa pesimis akan menghancurkan orang tersebut, sedikit demi sedikit, dari dalam, bahkan tanpa orang tersebut menyadarinya.

Amerika pernah menyatakan “Freedom from Fear”. Ketakutan akan kemiskinan, kelaparan, pendidikan, penindasan dari pihak lain dan sebagainya. Perancis pernah mengibarkan asas-asas Fraternity, Liberty dan Egalite. Indonesia pada tahun 1908, 1928, 1945 dan 1998 pernah secara eksplisit bilang, “That’s It, Enough is Enough” terhadap segala bentuk penindasan, penjajahan, kediktatoran dan pemberangusan demokrasi. Bahkan sekarang ada momentum 100 tahun Kebangkitan Nasional. Apa yang bisa kita rayakan dan kita syukuri dari perayaan tersebut?

Niat baik tidaklah selalu mulus. Apalagi pada manusia, tempat segala macam nafsu bahkan nafsu yang rendah melebihi nafsu binatang. Maksud yang baik terkadang tidak selalu dibalas dengan kebaikan. Air susu tidak selalu dibalas dengan air susu juga terkadang malah diberi air tuba. Selalu ada jalan “jihad” bagi amar ma’ruf nahi mungkar.

Di dalam lingkungan yang konservatif, one man one show, iklim patronisme yang kuat mengedepankan senioritas agak sulit bagi kaum muda untuk berkreasi apalagi berprestasi. Ada pemakluman bahwa tidak boleh ada yang menonjol. Sama rata, sama rasa (walaupun untuk rasa, agak diberi tanda petik sebenarnya). Sebanyak orang suka pada kita, sebanyak pula orang yang tidak suka. Apa mau dikata, ketika yang paling kuat berkata, “Tidak..!”, maka yang lainnya harus koor bilang “Tidak…”juga, bahkan dengan suara yang paling lantang untuk memperlihatkan rasa loyalitasnya yang lebih dibandingkan yang lain. Heil..Hitler!!!. Saya kok jadi ingat film Band of Brothers : D-Day.

Ketika ada yang berani menjawab lain maka sudah spontan langsung menjadi highlight. Yang melihat, hanya bisa memuji (tentu saja dalam hati), yang ingin ikut ambil bagian tentu saja meneriakin bahkan ikut-ikutan menghujani dengan segala perkataan negatif. Ada semacam euphoria, karena rasanya hampir seperti ratusan tahun melihat ada “tontonan” karena selama ini belum ada yang berani.

Tetapi ketika mereka ditanya apa pendapat mereka secara terbuka. “Wah, off the record, saya gak ikut-ikutan”, “Saya sih Sluman-Slumun Slamet saja. Nanti jabatan saya dipertaruhkan gara-gara saya ikut-ikutan”. “Wah, nggaklah. Saya tetap di sini saja” (sambil kemudian terus menggerutu, menyalahkan nasib yang tidak pernah berpihak). Benar saja, seperti halnya pengamat politik atau sepak bola yang tahunya hanya mengkritik ketika ditanya solusi atau langkahnya belum tentu mereka sepintar ulasannya.

Tidak jarang, orang iri kepada “whistle blower”, kenapa ya bukan saya yang kemudian jadi perhatian”, “Dia kan berani karena di bla-bla-bla (segala ujaran negatif)”. Ketika ada yang “breaking the silence”, banyak yang kemudian menjadi dengki karena keberanian mereka, sementara mereka yang menggerutu hanya duduk sambil menunggu keajaiban Tuhan datang. Biasalah, di kultur yang serba sungkan kadangkala kita harus selalu berhati-hati. Kadang-kadang orang baik di depan, di belakang bisa saja berbalik memukul.

Seperti kata Tukul Arwana, jika energi negatif itu akan cepat menyebar dan mempengaruhi. Begitu juga yang saya rasakan. Segala macam cobaan, halangan dan fitnah silih berganti datang. Pada titik tertentu kemudian saya bilang pada diri sendiri dan yang lain, “That’s It. Enough is Enough”. Sudah cukuplah bagi saya.

Kalau saya bertahan lebih lama lagi, seperti kata Harvey Dent dalam The Dark Knight, “Mati sebagai pahlawan atau hidup terus tetapi lama kelamaan menjadi penjahat seperti mereka”. Kamu dapat berubah menjadi “penjahat” jika berada di lingkungan yang abnormal terlalu lama. Atau dari John Rambo dalam Rambo IV : “Live for nothing or die for something”. Atau John Mc Clane dalam Die Hard IV : “Live freely or die harder..”

Memang benar, hal ini mulai dari komplain suami kalau setiap kali pulang dari Jakarta, “Kamu kok sekarang jadi nyinyir (apa ya padanan bahasa Indonesianya?) gitu sih, padahal dulu waktu di Jakarta tidak begitu”. Mulai dari situ, saya berpikir untuk “hijrah” walau hanya sementara karena saya tidak mau menjadi bagian dari “bad environmental” tadi. Hijrah untuk tujuan jihad. Jihad untuk bersekolah. Good intention kan?

Ada yang bilang pada saya, “Air di laut itu asin tetapi tidak semua ikan di laut asin”. Tetapi buat saya, hidup hanya sekali, mengapa harus menjadi orang yang munafik? (kalau memang reinkarnasi ada, biarlah saya nanti tetap menjadi saya yang seperti sekarang). Yang lainnya ngomong, ikutan ngomong (walaupun tidak tahu artinya) bahkan ditambah-tambahin bumbu biar semakin “panas”, yang lainnya menghujat, ikutan menghujat (walaupun tidak tahu akar masalahnya). Apa esensi kita dalam hidup? Kalau hanya puas seperti burung beo, yang selalu menirukan tanpa tahu artinya.

Nabi Muhammad SAW pernah hijrah dari Mekkah ke Medinah untuk menghindari mara bahaya dari kaum yang tidak menghendaki beliau dan ajarannya. Hijrah berarti pindah, tetapi bukan berarti beliau meninggalkan Mekkah selamanya. Hijrah dimaksudkan untuk sementara, untuk menyelamatkan kaumnya dari segala bentuk penindasan dan siksaan dari kaum Quraish, juga untuk menghindari keberingasan system yang dapat mengubah mereka yang telah bertobat. Jika kita tidak berubah maka lambat laun sistem yang akan mengubah kita. Kalau sistemnya bagus maka akan menjadi bagus, tetapi kalau jelek, akan jadi apa jadinya?

Hal tersebut dapat menjelaskan mengapa jika suatu kaum tidak mau berubah untuk kebaikan maka Tuhan-lah yang akan bertindak. Hal ini juga yang terjadi pada kaum Nabi Nuh AS dan Nabi Luth AS. Azab dari Tuhan akan segera datang, cepat atau lambat dan dalam bentuk yang sangat misterius. Dan ternyata hal itu memang terjadi, tidak selalu roda itu di atas terus, kadang juga di bawah. Dan percayalah, karma itu ternyata ada. Balasan akan segala perbuatan yang baik maupun yang buruk. Tidak perlu kita ikut-ikutan menghujat ternyata dengan kuasa pihak lain, tangan Tuhan menunjukkan kuasa-Nya.

So, my point is..if you must say..That’s It, Enough is Enough…just go ahead..don’t be afraid. God’s always be with good people..anyway..