Rabu, 16 Juli 2008

DADDY’S LITTLE GIRL (Kisah Putri Masako)

Didalam Psikologi, biasanya seorang anak perempuan lebih dekat dengan ayah sementara anak lelaki lebih dekat dengan ibu. Hal itu kemudian diterangkan lebih lanjut oleh Sigmund Freud yang dikenal dengan teori ‘Electra Complex’ dan ‘Oedipus Complex’.

Siapa tidak kenal Putri Masako? Putri Masako yang nama aslinya adalah Masako Owada adalah permaisuri pangeran Naruhito, pewaris tahta kerajaan Jepang. Tidak seperti putri pada umumnya yang berasal dari kalangan kerajaan, dia berasal dari kalangan orang biasa seperti ibu mertuanya, Putri Michiko (Michiko Sodha). Ayahnya seorang professor yang dihormati di kalangan akademisi di Jepang. Masako memiliki dua adik perempuan. Sama seperti lazimnya dunia timur, sang ayah rupanya sangat mengharapkan anak sulungnya adalah seorang anak lelaki. Ketika mengetahui bahwa anak sulungnya adalah perempuan dan kemudian dua anak lainnya juga perempuan maka secara tidak langsung, sang ayah mendidik Masako dengan sangat keras.

Masako pada dasarnya memang anak yang pintar dan mandiri. Kuliahnya di Harvard (sama dengan mantan Presiden Amerika Serikat, Bill Clinton) diselesaikannya dengan hasil yang sangat cemerlang. Masako kemudian bekerja menjadi diplomat sehingga seringkali melanglang buana ke luar negeri yang kemudian membentuk kepribadiannya yang sangat terbuka. Ketika Pangeran Naruhito bertemu dan ingin menyuntingnya sebagai permaisuri, dia sama sekali tertarik dengan kehidupan istana yang dirasanya sangat tidak cocok dengan dirinya.

Ketika kemudian Masako akhirnya menerima pinangan Pangeran Naruhito, banyak kalangan dekatnya yang tahu bahwa hal tersebut tidak lepas dari peran sang ayah. Pangeran Naruhito mendekati ayah Masako yang ternyata pada akhirnya memang benar-benar didengar dan dituruti oleh Masako. Perjalanan menuju istana sangatlah menyiksanya yang terbiasa hidup sebagai diplomat yang bebas tanpa aturan protokoler ketat. Bahkan ketika sudah bertahun-tahun tidak memiliki anak mengakibatkan Masako menderita depresi berkepanjangan. Tuntutan untuk melahirkan putra mahkota bagi kerajaan sangat menekan dirinya. Bahkan beberapa kali dia tidak mendampingi suaminya dlam kunjungan kenegaraan karena sakit berkepanjangan. Pemberitaan media massa juga sangat menyudutkan dirinya, hingga suaminya sampai meminta kepada media untuk tidak mengganggu Masako dengan pemberitaan yang bertubi-tubi.

Pada akhirnya, Putri Masako memang melahirkan bayi perempuan. Jepang pada waktu itu mengalami krisis putra mahkota, sampai-sampai Perdana Menteri Juniciro Koizumi melempar suksesi tentang Putri Mahkota. Hal itu tidak lama berselang karena Pangeran Akisino yang merupakan adik Pangeran Naruhito memiliki anak lelaki.

Dari kisah ini, saya menggarisbawahi bahwa kisah Putri Masako adalah suatu bentuk baktinya pada orang tua terutama ayahnya. Dia selalu memenuhi semua harapan ayahnya yang mengharapkan seorang anak laki-laki. Dia tidak mau mengecewakan ayahnya sehingga mengorbankan kebebasannya ketika menerima pinangan Pangeran Naruhito dan menghadapi protokoler istana yang sangat kaku dan ketat, yang sangat berbeda dengan dunianya.

Sebenarnya banyak Masako-Masako lain yang mengalami kisah yang sama. Daddy’s Little Girl Sangat mulia usaha mereka untuk membahagiakan dan membuat bangga sang ayah akan putri kecilnya. Tetapi perlu juga diperhatikan bahwa setiap orang memiliki pilihan-pilihan sendiri yang pada akhirnya harus dikompromikan, karena pada dasarnya kehidupan itu adalah milik orang yang menjalaninya.

IN THE NAME OF MY DAUGHTER

Anak saya, Audrina sekarang sudah berusia 3,5 tahun. Banyak sekali kemajuan yang telah dicapainya dan hal ini berbanding lurus dengan kebandelannya. Menurut psikolog anak, memang sudah seharusnya seperti itu karena sesuai dengan tingkat perkembangannya.

Saya ingat dulu ketika menikah, saya dan suami berkomitmen untuk tidak punya anak dulu karena waktu itu saya sedang menyelesaikan S2 saya. Waktu itu hanya terpikir, tidak sanggup dengan segala kerepotan dan keribetan yang terjadi dengan kehamilan itu. Tetapi ternyata rencana hanya tinggal rencana, pada bulan Mei 2004 sebelum ulang tahun saya ke 27 tahun, saya dinyatakan positif hamil oleh dokter.

Berbeda dengan reaksi kebanyakan orang yang akan melonjak kesenangan ketika dinyatakan hamil, saya dan suami (terutama saya) langsung terhenyak. Waktu itu yang langsung terbayang di pelupuk mata adalah S2 saya terancam gagal, saya harus mengejar berapa tahun lagi.

Pada tahun 2004, saya memang tinggal menyelesaikan tesis. Kami memang tidak menggunakan KB dari dokter, hanya sistem kalender saja. Dan waktu itu (kami menikah bulan Februari 2003) rasanya aman-aman saja. Setelah mama saya dan suami saya wisuda S2 di tahun yang sama, saya dan suami berencana untuk keliling Indonesia. Waktu tahun 2004 tersebut, kami baru saja pulang dari perjalanan ke Denpasar, Manado dan Lombok.

Saya takut dengan bayangan kegagalan dan kekecewaan dari orang tua jika saya gagal menyelesaikan tesis. Kehamilan membuat saya berpikir banyaknya hal yang saya sukai akan dilarang dan dibatasi. Saya pada dasarnya orang yang dinamis, mobile (baca: tidak dapat diam) bahkan jika harus bepergian dengan angkutan jika di Depok atau menyetir mobil sendiri ketika di Semarang. Kesukaan saya akan traveling sudah jelas akan terganggu dengan adanya kehamilan ini. Padahal waktu itu, time schedule kita berdua berikutnya adalah Batam dan kemudian ke Medan yang dengan terpaksa kami batalkan. Kemudahan tiket gratis (konsesi) dari maskapai penerbangan tempat suami bekerja akhirnya tidak kami gunakan.

Pada akhirnya memang ada penerimaan dari diri saya ketika suami yang begitu sabar membujuk saya bahwa kehamilan tidak perlu dikhawatirkan, sebaiknya tetap fokus terhadap tujuan dan tidak meninggalkan apa yang sudah kita rencanakan. Kebetulan si bayi dalam kandungan sepertinya tahu kalau ibunya harus menyelesaikan sekolah, sehingga tidak pernah rewel dan bermasalah. Kami tetap pergi ke Denpasar lagi karena ada tawaran, kemudian Batam dengan Medan kami alihkan untuk ke Bandung dan Bogor yang lebih dekat dan tetap menarik.

Waktu itu bahkan saya tidak merasakan kalau saya hamil dan saya juga tidak berpikir kalau saya hamil. Tesis tetap jalan terus, konsultasi dengan dosen pembimbing walaupun harus naik turun tangga tetap jalan terus, begitu juga ketika harus melakukan penelitian di Magelang.

Kalau merasa suntuk dan pengen suasana baru, saya dan suami pergi ke Bandung atau Bogor bahkan dengan cueknya waktu antri lesehan ketika beli tiket kereta api di Gambir karena loket belum buka dan waktu itu travel ke Bandung belum seperti sekarang dimana dari Depokpun ada di beberapa tempat. Berburu makanan enak, mainan yang lucu dan putar-putar naik angkot melihat daerah baru.

Saya tidak mau memakai baju hamil, tetap seperti biasa, baju kaos yang longgar dan celana panjang. Bahkan beberapa teman yang masih sering ketemu dan dosen pembimbing tidak tahu kalau saya hamil. Anehnya saya malah senang-senang saja karena tidak merasa dikasihani atau diistimewakan gara-gara kehamilan itu. Setelah kehamilan menginjak 7 bulan lebih, baru deh kelihatan kalau hamil. Teman waktu itu yang biasa merokok di kafetaria, kalau melihat saya datang, spontan mematikan rokok. Begitu juga dosen pembimbing yang mulai khawatir, melihat saya ketika konsultasi naik turun tangga menemui beliau. “Sudahlah titipkan saja sama satpam di depan, nanti biar dia yang kasih ke sopir saya, kamu ngga usah naik-naik tangga lagi”.

Pada saat sudah selesai penelitian untuk tesis, kondisi hamil saya sudah hampir 8 bulan dan kepada dosen pembimbing sayameminta supaya dapat sidang sebelum melahirkan karena saya pernah mendengar pengalaman kakak kelas yang harus melahirkan dulu sebelum sidang karena pembimbingnya tidak mau menguji pada saat dia hamil tua. Waduh, ngga terbayangkan kalau hal itu terjadi pada saya, apalagi jelas saya ada di Semarang.

Untungnya dengan kebaikan pembimbing saya (Alm.Bapak Prof Dr Fuad Hassan dan ibu Dra Evita Singgih, MPsi) akhirnya tepat 2 minggu sebelum melahirkan, saya dinyatakan lulus sidang Magister Sains Psikologi Klinis. Jadi waktu itu yang sidang adalah saya dan anak saya yang masih dalam kandungan. Ketika harus presentasi di hadapan dewan penguji, saya diberi privilege boleh dengan duduk karena saya hamil besar tetapi saya tolak karena seperti tadi saya bilang, saya tidak mau diistimewakan karena saya masih kuat.

Ketika kembali ke Semarang, 2 minggu kemudian, saya dinyatakan harus operasi Caesar karena posisi bayi yang tidak mau turun. Ibu Evita bahkan setelah sidangpun, masih memberikan perhatiannya ketika tahu saya harus operasi. Dokter kandungan saya di Semarang, seorang perempuan dan hampir mirip saya, sedikit tomboy. Ketika tahu saya masih harus menyelesaikan S2, dia sangat memberikan support. Bahkan ketika mama saya ikut mengantar periksa, mengeluhkan kalau saya masih bandel menyetir sendiri, dengan santainya ia berkata “Ngga’ pa-pa bu, yang penting tetap hati-hati saja, kalau perlu waktu melahirkan nanti, setir sendiri saja ke rumah sakit”. Pokoknya funky banget dan saya merasa cocok. Ngga’ terlalu menggurui. Ketika tahu kepala bayi belum turun juga, dia tetap santai dan menyarankan supaya sering dipakai jalan.

Dokter Lilien menyarankan untuk operasi caesar karena takutnya kalau menunggu normal bisa-bisa bayinya keracunan. Waktu itu bahkan menawarkan tanggal 1 Januari pas tahun baru 2005 tetapi karena suami masih bekerja di Jakarta, akhirnya disepakati tanggal 4 Januari 2005. Dan lahirlah anak kami, AUDRINA SALSABILA ROSMANINGTYAS ARIFIN.

Nama yang berasal dari kombinasi sumbangan nama dari papa, mama dan saya. Saya memilih nama Audrina tepat setelah dia lahir, ketika langsung terlintas tugas saya waktu S2, My Sweet Audrina. Sementara Salsabila dari papa ketika beliau habis sholat dan Rosmaningtyas dari mama, yang terilhami dari nama ibu dari papa saya, Uwa Rosma yang meninggal waktu melahirkan papa dan nama itu juga dilekatkan pada nama saya, untuk rememberance beliau (karena ning-tyas itu artinya didalam hati) dan Arifin dari nama belakang suami. Habis dia ditanya dari sebalum melahirkan selalu saja masih bingung belum menemukan nama yang pas.

Saya dan suami saya selalu mengharapkan agar Audrina bisa “lebih” segalanya daripada kami, terutama adalah lebih tangguh dalam menghadapi hidup, lebih bijaksana dalam menyikapi berbagai macam hal dalam hidup dan lebih beruntung dalam mendapatkan hidup. For you, my dear daughter, We hope that life is always kind to you…

Selasa, 01 Juli 2008

Pengaruh Tipologi Anak Dalam Keluarga terhadap terjadinya Sibling Rivalry

Tipologi anak dalam keluarga

Anak Sulung

Anggapan umum yang kurang benar adalah bahwa anak sulung tentu membawa beban terberat diantara saudara-saudaranya. Pendapat semacam itu timbul karena logika bahwa anak sulung akan mengganti kedudukan orang tu a jika orang tua tidak ada lagi. Penyerahan tanggung jawab sudah mulai dilatih orang tua kepadanya sejak kecil yaitu : ia harus mengasuh adik-adiknya, menjaga, mengajak bermain, memberinya makan, dan sebagainya. Tiap kekeliruan perbuatan adik-adiknya, anak sulunglah yang ditegur dan yang harus menerima hukuman.
Kekurangbenaran anggapan ini terletak pada penyerahan tanggung jawab orang tua yang terlalu cepat pada anak sulung sebab pada saat si adik lahir, ia masih dalam usia anak-anak. Ia belum mempunyai sifat kedewasaan bahkan oleh karena kelahiran adiknya, ia merasa terabaikan oleh orang tuanya sehingga membuat ia selalu bersaing dengan adiknya dengan jalan berbuat sesuatu agar perhatian orang tua yang memusat pada adiknya dengan jalan berbuat sesuatu agar perhatian orang tua yang memusat pada adiknya dapat direbutnya. Anak sulung sering diminta agar lebih banyak mengalah terhadap adik-adiknya, kadang-kadang dengan alasan dengan sengaja dicari-cari dan lebih merugikannya.
Orang tua seharusnya dapat bertindak bijaksana dengan berbuat adil terhadap anak-anaknya dengan pembagian tugas yang rata dan adil sehingga pada anak tidak timbul prasangka adanya pilih kasih, berat sebelah dan sebagainya. Jika orang tua menginginkan anak sulung menjadi contoh sehingga anak dapat mengetahui suatu peraturan, sesuatu keharusan memang berlaku sama untuk semua. Hal-hal yang sering terjadi pada anak sulung dilaksanakan sebagaimana mestinya tanpa mempercepat waktu dan memperberat beban tentu tidak akan menimbulkan anggapan-anggapan yang kurang benar.

Anak Bungsu
Status bungsu dari orang tua pada anak sukar diramalkan kecuali apabila kedua orang tua bersama-sama mengusahakan untuk tidak mempunyai anak lagi. Kadang-kadang tampak seakan ada hak istimewa dari orang tua kepada anak bungsu yaitu apabila orang tua tersebut mempunyai banyak anak sehingga tampak status ekonomi sosialnya menurun. Dengan menurunnya status ekonomi sosial ini, anak bungsu dirasakan sebagai anak yang hidup dalam keadaan yang tidak sama dengan waktu kakak-kakaknya masih kecil dulu sehingga orang tua menghayati hal semacam ini dengan mencurahkan perasaan dengan perbuatan-perbuatan yang menampakkan lebih menyayangi anak tersebut.
Dari pihak saudara-saudaranya yang lebih besar, anak bungsu mengalami perlakuan yang hampir sama dengan yang dilaksanakan orang tuanya. Kakak-kakaknya selalu berusaha untuk memanjakan, menyayanginya sehingga karena terlalu selalu mendapatkan perhatian, perawatan, pertolongan maka si bungsu selalu berada di dalam kehidupan yang serba berkecukupan, menyenangkan sehingga timbul sikap manja dan tidak mempunyai pengalaman untuk melaksanakan sesuatu. Untuk dapat melaksanakan sesuatu berarti memiliki pengertian tentang sesuatu itu sehingga karena ia tidak dapat melaksanakan sesuatu, ia merasa malu terhadap teman-temannya dan akibatnya ia akan mengasingkan diri. Bila hal ini berlarut-larut maka ia akan kehilangan kesempatan untuk dapat berbuat sesuatu dan jatuh dalam keputusasaan.

Anak Tengah
Anak tengah (diantara anak sulung dan bungsu) umumnya mempunyai kepribadian tengah yang ambigu antara anak sulung dan anak bungsu. Anah tengah oleh orang tua tidak terlalu diperhatikan karena posisinya berada di tengah atau diantara si sulung yang mempunyai beban tanggung jawab dari orang tua dan si bungsu yang umumnya banyak diperhatikan atau dibimbing oleh orang tua. Anak tengah biasanya terdorong untuk menyamai atau melebihi kakaknya tapi juga ada ketakutan untuk dilampaui oleh adiknya.

Anak Tunggal
Anak tunggal boleh jadi berada dalam dua kutub yang sangat bertolak belakang. Jika orang tuanya memahami bahwa anak mereka adalah anak tunggal yang nantinya harus dapat hidup mandiri maka ia akan dididik untuk belajar mandiri, tidak banyak tergantung pada orang lain, dalam hal ini adalah keluarganya. Hal ini bertolak belakang dengan pemikiran orang tua yang hanya menyadari bahwa mereka hanya mempunyai satu anak sehingga seluruh kebutuhan anak tersebut dipenuhi dan selalu dilindungi yang menyebabkan anak tersebut tumbuh menjadi anak yang manja, selalu tergantung pada orang lain, dan tidak dapat mandiri. Persepsi mengenai anak tunggal ini biasanya berbeda antara orang tua yang tidak sengaja mempunyai anak tunggal (karena penyebab medis atau penyebab lain yang tidak memungkinkan mereka untuk mempunyai anak lagi) atau mereka yang memang merencanakannya dengan alasan faktor ekonomi, pendidikan dan sebagainya. Orang tua yang tidak sengaja mempunyai anak tunggal biasanya cenderung untuk lebih memanjakan karena mereka sadar bahwa mereka tidak akan memiliki anak lagi. Di samping itu jika ada faktor psikologis yang secara tidak langsung mereka merasa “bersalah” sehingga mereka memanjakan anak mereka tersebut sebagai kompensasi bahwa mereka tidak akan memiliki anak lagi.

Orang tua yang memang mempunyai rencana untuk mempunyai anak tunggal dengan alasan agar mereka lebih dapat terfokus dalam membina dan mendidik anak mereka biasanya lebih bertindak bijaksana. Mereka sudah berencana mempunyai anak tunggal agar anak tersebut benar-benar cukup dilimpahi kasih sayang dan perhatian sehingga si anak tidak perlu lagi mencari hal tersebut pada orang lain atau pihak luar. Konsekuensi mempunyai anak tunggal menyebabkan mereka lebih berhati-hati dalam menjaga dan mendidik karena semua keuntungan dan kerugian sudah mereka pertimbangkan. Dengan kondisi dunia yang semakin tidak bersahabat, maraknya persaingan dalam globalisasi membuat mereka benar-benar menyiapkan si anak dengan sebaik-baiknya baik dalam hal fisik (materi) maupun spiritual.

Kondisi anak tunggal memang tidak memunculkan Sibling Rivalry, permasalahan yang terjadi dan harus mereka hadapi adalah kondisi psikis yang terjadi pada anak tersebut dan hubungannya dengan orang tua maupun lingkungan serta stereotip-stereotip yang lebih dulu muncul dan berkembang mengenai anak tunggal.

Bagaimanapun juga, dalam kehidupan bersaudara setiap manusia, pastilah ada yang dinamakan Sibling Rivalry. Hanya saja dalam bentuk, kadar, dan konotasi yang berbeda-beda. Ada yang berkonotasi negatif karena Sibling Rivalry tersebut telah berada dalam tingkat yang mengkhawatirkan dan memunculkan perkelahian atau permusuhan. Ada juga yang menjadikannya sebagai pemicu untuk meraih prestasi yang setinggi-tingginya (dalam belajar maupun bekerja). Semua hal tersebut berpulang kepada individu masing-masing. Hanya saja pemikiran yang terungkap di awal tulisan ini mengenai ajakan untuk ber-KB dengan satu anak dan pertimbangan-pertimbangan yang dikemukakan serta untuk mencegah dampak buruk Sibling Rivalry, bagaimanapun juga mempunyai anak tunggal dengan segala pemikiran dan pertimbangan merupakan suatu ide atau masukan yang cukup bertanggung jawab.

Dalam masalah ini, peran orang tua sangatlah strategis untuk pembentukan karakter anak, pemenuhan kebutuhan serta pengarahan karakter anak.

WINNING IS NOT AN OPPURTUNITY BUT IS AN OPTION

Kemenangan terjadi bukan karena adanya kesempatan tetapi karena kita memilih untuk menang. Kata-kata mutiara ini saya dapat tidak sengaja ketika membaca buku kenang-kenangan suami di SMA nya dulu, sekitar 13 tahun yang lalu. Kata mutiara ini ditulis oleh adik angkatannya di SMA. Kesan saya akan kata mutiara ini adalah sangat optimis bahkan sangat percaya diri dan melihat kondisi bangsa saat ini sangatlah tepat kata-kata ini untuk dicamkan sehingga kita sebagai bangsa tidak lagi dilecehkan bangsa lain di dunia ini.

Berapa kali kita mendengar kata “Pilihan”? Sering mendengar tetapi kadang sulit untuk mau meresapi. Di dalam “Pilihan” tersebut mengandung konsekuensi, resiko baik positif maupun negatif. Selama kita hidup, selalu saja bersinggungan dengan “Pilihan”. Ketika sekolah, bermain, belajar, kuliah, menikah, bekerja, mempunyai anak dan lain-lain.

Seringkali orang berkata, “kita tidak ada pilihan lain” untuk berkata bahwa kita tetap harus memutuskan, yang berarti kita tetap harus memilih..Kita bukan tidak memiliki pilihan, bahkan ketika akhirnya memutuskan untuk tidak memilihpun, kita telah membuat pilihan untuk..tidak memilih. Seperti kasus yang tengah marak di tanah air yaitu pilkada. Ketika kita mengikuti maupun tidak mengikutinya, memilih atau tidak memilih, kita telah mengambil suatu pilihan.

Pilihan tersebut membawa konsekuensi bagi kita, itu sudah menjadi suatu keniscayaan. Ketika kita memilih sekolah di A, memilih suami atau istri “si B”, memilih bekerja di “C”, memilih figure “si D” sebagai gubernur atau kepala daerah. Ketika kita memilih hanya karena dipaksa oleh pihak lain atau karena tergiur oleh embel-embel berwujud materi tentunya akan membawa dampak lain bagi kehidupan kita baik fisik maupun psikologis.

Di dalam psikologi, sering dibahas tentang “free will”, dimanakah posisi dari free will ini? Dulu ketika belajar tentang sejarah, kita masih ingat tentang “freedom from fear..” Apakah maknanya? Bebas dari rasa takut. Takut terhadap apa? Apakah hal tersebut sangat erat kaitannya dengan kondisi dunia pada saat ini? Kenapa kita takut ? Karena ketakutan itu adalah suatu hal yang manusiawi, ketika suatu hal yang lain dirasa mengancam keberadaan kita baik secara fisik maupun psikis.

Dalam teori Eric Fromm “Escape from Freedom”, Lari dari Kebebasan menggambarkan mengapa orang yang diberi kebebasan pada akhirnya malah merasa ketakutan. Hal yang esensial adalah karena rasa takut akan tanggung jawab yang harus dipikul. Konsekuensi dari suatu pilihan akan kebebasan. Tidak ada lagi yang menanggung keberadaan kita karena kita memilih untuk bebas.

Kembali ke judul tulisan ini, menurut saya ketika kita telah memilih untuk “menang” (pada perspektif kita) misalnya, saya telah berani untuk mengungkapkan pendapat atau melakukan suatu hal berdasarkan kebenaran walaupun tidak sama dengan kebanyakan orang, walaupun kemudian setelah saya mengungkapkan pendapat, kemudian ada resiko dijauhi, disingkirkan ataupun tidak disenangi karena saya “berbeda”dengan mereka (sementara menurut hati nurani saya, hal tersebut adalah suara kebenaran). Ya sudah, berarti saya telah menang dalam pertempuran. Menang karena saya tidak mengingkari hati nurani dan saya tidak menjadikan rasa takut tersebut menguasai diri sehingga saya berubah menjadi “bukan diri saya”. Level kebenaran pada hati nurani menurut saya adalah hampir sama untuk semua orang yang juga mengedepankan hati nurani yang bersih.

Para pemimpin negeri yang berani mengambil tindakan yang tidak populis untuk kepentingan bangsa yang lebih besar, saya rasa merupakan suatu hal yang patut diacungi jempol daripada para pemimpin lain yang hanya bisa mengkritik, menghujat dan tidak berani mengambil keputusan yang tegas dan hanya bersembunyi di “kolong” menghindari kenyataan.

Pada dasarnya, siapapun butuh waktu untuk belajar. Belajar apapun dalam hidup, termasuk belajar untuk memilih. Hal yang terutama adalah memilih berdasarkan hati nurani karena terkadang orang cenderung untuk mengabaikan hati nuraninya untuk kepentingan sesaat.

A FEW GOOD MEN

Berlanjut dengan bagian “Diam itu tidak selamanya emas” tentang pembelaan suami saya terhadap petugas cek-in Batavia, di boarding lounge ketika kami menunggu pesawat datang (kebetulan waktu itu ada delay), kami berkenalan dengan seorang bapak yang juga akan ke Palu. Obrol punya obrol, akhirnya kami sama-sama tahu bahwa bapak tersebut dulunya juga dari maskapai dan sedang bisnis di Palu. Begitu juga terungkap bahwa asal bapak itu dari Padang, sama dengan daerah kelahiran papa saya.

Ketika beliau tanya ada perlu apa ke Palu dan kami menjawab mau main-main aja, kontan ekspresi terkejut terlihat di wajah beliau. Tidak mengira ada yang mau seight seeing di Palu.Ketika tahu kami tidak ada kerabat di sana, beliau mengajak supaya sama-sama saja. Benar saja, sampai Palu, hari telah menjelang larut malam dan saya takjub walaupun telah larut malam, kota itu masih ramai, tidak ada tanda-tanda dulu pernah mencekam akibat dari kerusuhan Poso. Tapi ya itu..hotel-hotel yang kami datangi semua sudah fully booked, wah..benar-benar bikin lemas..untungnya saja oleh yang menjemput bapak tadi tahu ada mess milik kabupaten Poso yang dapat digunakan untuk umum dan ketika kami disana, untunglah masih ada kamar.

Waktu kami putar-putar cari hotel di Palu, saya bilang pada bapak ini, “Wah, maaf sekali ya Pak , ngrepotin banget..” Kontan bapak itu menjawab hal yang sama sekali tidak saya sangka (a stranger in the night in a stranger place), ”Ibu ini pasti orang baik, percayalah bu, kalau orang baik pasti akan bertemu dengan orang baik ketika sedang dalam kesulitan, percayalah bu , saya dulu juga ditolong mas ini ketika pertama kali ke Palu dan mencari penginapan.” Ucapan yang sangat menyejukkan jiwa. Bukan sesuatu yang hanya memuji tetapi menyiratkan pula adanya ketulusan dan keyakinan akan kebaikan.

Mas yang menjemput bapak tadi adalah orang Minahasa yang tinggal di Palu. Dia juga dengan ramahnya menawarkan untuk mencicipi masakan khas Palu yang kebetulan memang saya impi-impikan untuk dinikmati jika sudah sampai Palu yaitu Kaledo (Kaki Lembu Donggala) yang kebetulan di dua restoran sudah habis ludes. Memang apes , sampai kami mau pulang Jakarta, belum sempat mencicipi Kaledo karena selalu habis.

Setelah selesai mengantar kami, mas tadi memberikan nomor telepon genggamnya jika sewaktu-waktu kami membutuhkan bantuan. So wonderful people of Indonesia, disaat bangsanya sendiri pesimis akan kebesaran hatinya, kami mendapati kebaikan hati sesama anak negeri yang asing bagi kami dengan memberikan pertolongan tulus tanpa pamrih pada saat kami berniat (suci) berwisata di salah satu wilayah propinsi Indonesia.

Ketika seseorang berkata, “Don’t talk to a stranger” but finally dalam kasus kami di Palu “the stranger has helped us”. Ketika orang saling mencurigai, saling tidak percaya karena banyaknya tuntutan kehidupan dan tingkat kompetisi atau persaingan yang sedemikian tinggi ternyata masih banyak orang baik di sekitar kita. Mungkin tidak banyak tetapi ada..Ketika kita memiliki niat yang baik dan tulus, ketika kesulitan datang, niscaya Tuhan akan mengirim seseorang atau orang-orang untk membantu kita. Not many..but there’s always a Few Good Men..

DIAM TIDAK SELAMANYA EMAS

Saya dan suami seringkali melakukan perjalanan ke luar daerah di Indonesia. Pada tahun 2007 lalu, kami berkesempatan bepergian ke daerah Palu, Sulawesi Tengah. Perjalanan dari Jakarta ke Palu, kami lewati dengan satu kali transit di Balikpapan karena harus ganti pesawat. (Jakarta-Balikpapan dengan Mandala, Balikpapan-Palu dengan Batavia).

Yang menarik yang akan saya ceritakan disini bukan cerita perjalanan maupun wisatanya (karena telah ditulis suami di http://trans-ports.blogspot.com tentang wisata kota) tetapi persinggungan kami dengan beberapa orang ketika di bandara Sepinggan, Balikpapan maupun di kota Palu.

Ketika transit di Balikpapan, kami menunggu cukup lama karena pesawat yang digunakan berbeda. Pada saat kami antri cek-in di counter Batavia, ada rombongan dari suatu instansi lengkap dengan seragam penanda mereka dari instansi tertentu (tidak perlu saya cantumkan karena kejadiannya sangat memalukan). Mereka berombongan banyak sekali dan seperti biasa karena berombongan (jumlahnya banyak), mereka agak sedikit “berulah”. Hal ini yang dimaksud dengan psikologi massa, diffusion of responsibility etc etc yang orang psikologi pasti tahu ini.

Mereka datang tidak atas nama perorangan karena kalau ada masalah, mereka “tercover” dengan identitas kelompok, yang diperkuat dengan seragam yang mereka pakai (jadi membulatkan tekad saya untuk meneliti soal seragam ini). Dengan arogannya, mereka meminta petugas cek-in (waktu itu petugasnya seorang perempuan, masih muda dan hanya 1 orang) untuk mendahulukan rombongan mereka dibandingkan penumpang yang lain sementara bawaan mereka bejibun banyaknya dan tidak terkoordinir.

Anehnya, sudah rombongan begitu, masing-masing anggota kelompok saling tidak percaya satu sama lain terutama mengenai bagasi mereka. Sudah minta didahulukan tapi tidak sekaligus sehingga mbaknya agak kesulitan dan meminta mereka untuk ikutan antri kalau tidak bisa sekaligus. Rombongan tersebut sepertinya baru saja studi banding ke luar negeri (kalau tidak salah dari Singapura) dan kemungkinan untuk pertama kali karena melihat dari obrolan yang mereka perbincangkan sehingga mereka mungkin merasa “statusnya agak naik” dibandingkan orang lain.

Kasihan sekali mbak tersebut disudutkan oleh salah satu orang tersebut (entah pimpinan rombongan atau tidak, soalnya kalau pimpinan rombongan kok tidak dipercaya anggota yang lain) yang masih terus memaksa bahkan menyalahkan petugas cek-in. Akhirnya, karena sudah tidak tahan melihat kelakuan mereka, suami mulai membela mbak tersebut yang memang telah melakukan pekerjaannya dengan cepat tetapi direcoki oleh rombongan tersebut. Karena kaget, mungkin tidak mengira akan ditegur orang lain dan karena memang posisinya salah, orang tersebut akhirnya mau menepi dan tidak ribut lagi.

Banyak penumpang lain yang resah dan jengkel pada mereka tetapi sepertinya tidak mau ribut berurusan dengan mereka kalau meng-complain. Tetapi masalahnya, terkadang saya melihat manusia, mungkin tidak hanya di Indonesia saja, kalau tidak ditegur sama sekali tidak menyadari bahwa perbuatan tersebut salah atau bahkan malah merugikan orang lain. Ketika orang diam untuk mengalah atau menghindari keributan, sepintas hal tersebut no big deal, tetapi untuk orang lain yang melakukan hal tersebut merasa bahwa tindakannya tidak merugikan orang lain karena melihat tidak adanya reaksi dari yang bersangkutan. Dan untuk kasus ini, bayangkan berapa orang yang akan terlambat cek-in hanya gara-gara ulah rombongan tersebut?

Melihat kasus lain yang mungkin dapat dijelaskan adalah soal korupsi yang sulit diberantas di republik ini. Amien Rais pernah menyatakan adanya penyakit sosial yang kronis didalam masyarakat yaitu “korupsi berjemaah”. Yang korupsi lebih banyak daripada yang tidak korupsi. Menurut teori soal diffusion of responsibilities akan lebih terlihat dengan tidak adanya pihak yang benar-benar merasa bertanggungjawab karena adanya difusi itu. Semuanya melakukan korupsi tersebut. Karena jumlahnya lebih banyak, maka mereka menilai yang tidak korupsi itu yang bodoh, salah karena tidak mengikuti yang mayoritas sementara yang tidak korupsi untuk mempermasalahkan..ah.. buang-buang waktu dan tenaga.. belum tentu juga selamat jadi yang penting saya tidak korupsi sehingga banyak pihak yang tahupun diam, tidak mau ada masalah, tapi bagi sebagian orang yang nuraninya jernih selalu dibayangi rasa bersalah. Benarkah sikap diam itu benar? Benarkah sikap diam itu menyelesaikan masalah? So, ternyata untuk beberapa kasus “Diam itu tidak selamanya menjadi emas”.